Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 66


__ADS_3

Bara sebenarnya ingin memberikan tips pada teman-temannya, tapi tiba-tiba Keyla keluar memanggil mereka. Keyla ini adalah istrinya Mondy, adik tiri dari Sheina.


“Nanti aku kasih wejangan-wejangan spesial buat kalian yang kurang pengalaman,” kata Bara sebelum mengajak Rafael dan Mondy masuk ke rumahnya.


Mondy menggerutu dengan bahasa Bara yang terdengar senioritas. Sementara Rafael yang lebih cool menganggap Bara memang lebih berpengalaman.


Acara ulang tahun Bianca akhirnya dimulai. Taman samping rumah Bara yang cukup luas telah disulap menjadi tempat pesta yang dipenuhi balon dan dekorasi ala putri negeri dongeng.


Bianca terlihat sangat bahagia ditemani Bara dan Sheina. Gadis kecil itu memejamkan mata sebelum meniup lilin saat teman-temannya menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Sementara itu, Shaka yang sudah disuguhi makanan ringan, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia makan kue sambil bertepuk tangan dengan mulut yang penuh. Dia sama sekali tidak tertarik dengan suara nyanyian anak-anak yang sangat ramai itu.


“Shaka, ikut teman-temannya sana loh!” kata Rafael yang sedikit risih dengan tingkah Shaka. Apa di pikiran bocah itu hanya makan dan makan saja?


“Enggak mau, mau mamam aja,” balas Shaka mengabaikan.


“Sama Mommy mau? Nanti biar dapat kue ulang tahunnya,” sahut Alisha ikut membujuk putranya.


Shaka melirik pada kue ulang tahun berbentuk miniatur kerajaan dongeng itu. Dia lalu membayangkan rasa manis whip cream yang didominasi warna putih dan merah muda itu.


“Baru sadar ya,” ejek Rafael.


Shaka lalu mendekati Bianca dan kue ulang tahunnya. Hingga tiba saatnya pembagian kue, dia tidak mau hanya mendapat satu bagian.


“Adeknya Shaka ada dua juga mau kue, Onty,” kata bocah itu pada Sheina.


“Oh, oke. Adeknya mau juga ya,” balas Sheina yang kemudian memberikan lagi potongan kue pada Shaka.


“Satu aja, Shaka. Maaf ya, Sheina. Dia emang begitu,” ucap Alisha merasa tidak enak karena Shaka yang tidak mengenal gengsi.

__ADS_1


“Enggak apa-apa, Al. Itu artinya ‘kan dia sayang sama adiknya.”


Sheina memberikan lagi dua potong kue untuk Alisha dan Shaka.


“Makasih, Onty.”


***


Acara ulang tahun sudah selesai. Namun, Rafael dan Alisha masih tinggal di rumah Bara untuk melanjutkan obrolan mereka sekaligus memberi waktu anak-anak untuk bermain bersama.


Tiga laki-laki yang sudah menjadi papa muda idaman alias hot daddy itu kembali sibuk membicarakan masalah anak pertama mereka. Bara yang lebih berpengalamin, dengan gayanya yang menyebalkan mencoba memberikan wejangan pada teman-temannya itu.


“Jadi, yang pertama, kalau mau main, usahakan jangan satu ruangan sama anak. Bisa di kamar lain, kamar mandi atau di mana aja yang enggak bisa dijangkau mereka. Nah, kalau pengalamanku, aku pernah di dapur, di kamar mandi. Tapi, jangan di kamar mandi deh dingin!” kata Bara sambil menyeruput kopinya.


“Kamu enggak punya kamar lain apa sampai main di kamar mandi?” tanya Rafael sembari mengerutkan kening.


“Belum tau aja kamu sensasinya gimana,” jawab Bara.


“Hem, bawelnya. Tips kedua, kalau maksa banget nih, jangan lepas baju.”


Rafael dan Mondy kompak berdecih. Mana ada orang mau melakukan sesuatu yang iintim itu tanpa melepas baju?


“Loh, jangan salah. Itu ada caranya juga. Jadi, pastikan para ibu-ibu itu cukup pakai daster longgar. Tau daster, ‘kan?” tanya Bara yang dijawab anggukan serius oleh Rafael. Akan tetapi, Mondy masih tidak bisa menerima tips dari Bara itu.


“Poin ini, kalian harus tempatin anak di ujung ranjang posisinya dibikin miring aja membelakangi kita, mommy nya di tengah, jadi kita main dari belakang lah gampangannya. Nah, kalau tiba-tiba anak bangun, pastikan tangan kita langsung menjangkau selimut. Inget ya, kecepatan tangan sangat dibutuhkan saat-saat darurat ini,” jelas Bara dengan serius.


Rafael membayangkan apa yang Bara katakan, pikirannya melayang-layang karena perkataan Bara itu.


“Kalau kayak gitu enggak asik, Bar. Enggak bisa pegang-pegang, enggak menikmatilah,” protes Mondy.

__ADS_1


Rafael mengerutkan kening. Sepertinya Mondy memang makhluk yang menjengkelkan yang tidak akan bisa sejalan dengan pikiran Bara.


“Nikmat enggak nikmat itu tergantung istrimu. Enggak ada hubungannya sama itu. Lagian kita ‘kan yang penting masuk tepat sasaran dengan selamat.” Bara mengelak lagi. Dia sudah menerapkan cara itu sejak ada Bianca dan belum pernah terpergok seperti saat Gabriel kecil dulu, karena pengalaman sudah mengajarkan banyak hal pada Bara.


“Tips lainnya apa lagi, Bar?” tanya Rafael yang mulai malas mendengarkan perdebatan Bara dan ketua RT-nya itu.


“Yang ketiga, kalian bisa main waktu anak sekolah, itu kalau anak kalian udah sekolah. Ini lebih aman lagi, kita ‘kan bos jadi bisa pulang pergi sesuka kita lah.”


“Nah kalau itu aku setuju, Bar. Paling aman pas mereka sekolah sih ya,” sahut Mondy membenarkan ide Bara.


“Yang terakhir jurus jitu biasanya.”


“Apa?” Rafael dan Mondy kompak menyahut.


“Titipin sama oma opanya aja. Kalau ini, harus ada kerja sama yang baik sih sama mereka,” jawab Bara dengan santai.


“Apanya yang dititipin?” tanya Sheina yang tiba-tiba menghampiri mereka dengan membawa camilan.


“Em, itu, Shein ... annu.” Bara garuk-garuk kepala karena mata Sheina yang mulai melotot.


Rafael dan Mondy terkekeh melihat tingkah Bara yang jadi kikuk karena ditanya istrinya.


“Bar, besok-besok tips menaklukan istri ya biar enggak galak,” kata Rafael yang berniat mengejek Bara.


“Apa, Mas?”


***


***

__ADS_1


tips dari kalian apa coba 😂😂😂


__ADS_2