
Alisha berangkat ke kantor seperti biasa, sedangkan Rafael harus kembali mengurus kekacauan di pabrik biskuit yang diakibatkan oleh papanya. Dua orang itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan hanya sempat memberi kabar lewat pesan dari ponsel.
Tiga hari berlalu, Rafael masih belum juga kembali, membuat Alisha merasa kehilangan partner hidup yang baru beberapa hari ini membuatnya bersemangat menjalani pernikahan. Dia sangat merindukan sosok Rafael yang biasa menemani tidurnya, menemani makan, dan selalu menggodanya.
"Apa dia masih sibuk?" Alisha menatap layar ponselnya dengan muram. Tidak ada pesan atau panggilan telepon dari suaminya sejak pagi yang membuat Alisha mengembuskan napas dengan pelan. "Ke mana sih dia?"
Ketukan di pintu membuat Alisha meletakkan ponselnya dan kembali menatap angka-angka di layar komputer, lalu mempersilakan orang itu masuk.
"Maaf, Bu. Rapat akan segera dimulai." Ria masuk dengan gawai sepuluh inci di tangannya.
Alisha menoleh pada sekretarisnya itu dan mengangguk. Dia lalu meninggalkan ruangan dengan ponsel yang tergeletakdi meja.
Beberapa puluh menit berlalu, Alisha kembali ke ruangannya dan terkejut saat mendapati beberapa panggilan masuk dari Rafael yang terabaikan. Ada rasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak tahu saat suaminya menelepon. Alisha berusaha menelepon balik, tapi sayang ponsel suaminya malah tidak aktif. Dia menghubungi asisten Rafael dan ternyata sama tidak aktif juga.
Ke mana ya mereka? Kenapa tidak aktif semua? Tidak ada pesan apa pun. Ada apa dengan mereka?
Sampai jam pulang kantor, Alisha masih tetap tidak bisa menghubungi Rafael dan Felix. Dengan hati kecewa, Alisha pulang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan dari kantor ke rumah, wanita itu terus saja melamun. Bahkan, sampai di rumah pun Alisha masih melamunkan suaminya yang tidak ada kabar.
Bosan sendirian di kamar, Alisha memutuskan untuk pergi. Kali ini dia tidak mau diantar sopir. Dia ingin pergi menghibur diri dengan mengunjungi restoran milik salah satu teman kuliahnya.
Dengan penampilan yang sangat berbeda dari biasanya, Alisha mendatangi restoran temannya. Dia memakai overal berbahan jeans dengan rok di atas lutut. Sangat menawan. Beruntung, teman Alisha itu sedang berada di restorannya dan mereka akhirnya bertemu.
"Alisha. Kamu ke mana aja?" tanya teman Alisha itu. Mereka berangkulan dan saling memeluk.
"Aku semedi Fi, biar makin cantik," jawab Alisha dengan percaya diri penuh.
Apa iya aku makin berisi. Padahal tiap malam selalu olahraga buang lemak. Sepertinya karena tiga hari tidak memberi makan naga sakti, aku jadi terlihat berisi. Ah, kenapa jadi berpikiran jorok sih?
"Al, melamun aja. Makan dulu yuk, biar makin gemesin!" ajak Fia sambil menarik Alisha untuk duduk di salah satu meja restorannya.
Mereka saling bercanda karena lumayan lama tidak bertemu dan berkomunikasi.
"Jadi, kamu ke mana aja? Aku sempat lewat di depan rumah kamu, tapi cuma ada pembantu aja. Katanya kamu di rumah sakit, sakit apa sih?"
__ADS_1
Alisha mengaduk jus mangga miliknya dengan sedotan, lalu dia mulai bercerita tentang kecelakaan, ayahnya yang meninggal, dan juga pernikahannya.
"Jadi, kamu bangun-bangun udah jadi Nyonya Hartono?" tanya Fia yang melongo mendengar penuturan Alisha.
"Ya, begitulah. Sulit banget jadi aku," jawab Alisha.
"Posisi kamu itu incaran banyak wanita Al. Harusnya kamu bersyukur punya suami kayak Tuan Rafael, yang ganteng, tajir, berwibawa, tubuhnya kekar, pokoknya idaman banget, deh. Kamu harus hati-hati sama pelakor. Kalau aku tega sama kamu, aku pasti akan merebutnya dari kamu," kata Fia.
"Enak aja. Jangan bangga jadi pelakor deh."
"Kalau istrinya kayak kamu, aku rasa nggak akan ada yang berani jadi pelakor, Al. Lagian kamu juga cantik sempurna kok."
"Ya, benar Alisha memang cantik sempurna," sahut seseorang yang tiba-tiba muncul tanpa mereka sadari sebelumnya.
....
Maaf telat ya, othornya lagi sibuk 😅😅 Betewe, siapa hayo yang datang. Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
__ADS_1