
Rafael dan Alisha benar-benar mencoba sensasi baru dengan bermain di kantor. Mereka mulai menggapai kenikmatan hingga mengabaikan dokumen-dokumen yang berserakan. Bahkan, pendingin udara pun seakan tidak berfungsi karena peluh mereka semakin banyak diproduksi.
Hingga akhirnya, permainan itu berakhir dengan keluarnya lahar putih dari kepala naga sakti yang membasahi irisan kiwi. Permainan singkat itu menyisakan sensasi luar biasa untuk keduanya.
“Enak ya,” kata Rafael setelah mengecup sekilas bibir Alisha.
“Enak sih, tapi deg-degan banget, Mas,” balas Alisha. Dia meraih tisu untuk mencegah lahar panas itu meluber ke mana-mana.
“Tidak apa-apa yang penting enak, Al.” Rafael melepaskan diri dari tubuh Alisha. Dia memunguti pakaiannya yang berserakan ke mana-mana. “Mandi yuk!”
***
***
Hari libur ini, Rafael mengajak Alisha jalan-jalan. Mereka mengunjungi rumah teman Rafael yang bernama Bara.
Kebetulan, Bara dan putranya yang bernama Gabriel sedang mencuci mobil. Mobil Bara dan mobil-mobilan milik Gabriel.
Alisha sangat gemas dengan tingkah lucu bocah itu. Dia menghampiri Gabriel dan menyapanya, “Hai ganteng. Kamu lagi cuci mobil, ya?”
__ADS_1
Sementara Rafael dan Bara masih berbasa-basi.
“Iya, Onty. Daddy bersihkan mobil, Biel juga, ‘kan Biel anak yang rajin,” jawab Gabriel.
“Wah, kamu sudah bisa ngomong R ya.” Alisha mengusap lembut pipi Gabriel yang menggemaskan.
“Iya dong, Onty. Biel ‘kan sudah besar.”
Sheina keluar dengan anak perempuannya yang sudah berusia satu tahun. Bocah itu juga tidak kalah cerewetnya dengan sang kakak.
“Al, coba kamu gendong si cantik itu,” kata Rafael yang kini berdiri di samping Alisha. “Siapa tahu kita bisa ketularan, Al.”
“Awas Bia suka mukul loh, Onty.” Gabriel memberi peringatan pada Alisha.
“Nggak apa-apa, dia biasanya mukul kalau digodain kakaknya aja, kok,” kata Sheina yang mencoba memberi semangat pada Alisha. Dia tahu Alisha pernah mengalami keguguran, dan pasti keinginannya untuk memiliki anak pasti masih tinggi.
“Aku gendong ya.” Alisha jadi berdebar-debar, apalagi wajah Bianca yang memandangnya tanpa senyum membuat Alisha semakin gugup. Dia bahkan menghela napas berat sebelum mengulurkan tangan pada gadis kecil Bara itu.
Bianca menatap Alisha dengan seksama, gadis itu masih diam saat Alisha mengangkat tubuh kecilnya dan menggendong dengan tenang.
__ADS_1
Ternyata, Bianca tidak menangis, dan malah mengusap wajah Alisha yang cantik.
“Nah, kalau enggak nangis, bawa pulang deh Raf,” kata Bara dengan entengnya. “Sekalian ini sama kakaknya.”
“Daddy.” Gabriel berteriak dan memukul ayahnya yang suka bercanda.
“Sehari saja, ikhlas kok, Raf, Al. Biar daddynya ini bisa berduaan sama mommy, nanti biar dapat adik lagi,” kata Bara yang semakin menggoda Gabriel.
Rafael dan Alisha memang belum memiliki anak dan mereka sudah sangat merindukan kehadiran buah hati di tengah keluarga mereka. Akan tetapi, melihat kerepotan bara dan Sheina yang kehilangan waktu berdua, mereka jadi bersyukur. Setidaknya, mereka masih bisa menikmati masa-masa berduaan lebih puas.
“Ya, benar sih. Kita berdua enggak pernah pacaran loh. Paling kalau malam doang, itu pun sudah sama-sama capek,” keluh Sheina. Wanita itu lalu mengajak masuk Alisha dan Rafael.
“Itu, Mas. Nanti kalau kita punya baby, siap-siap Naga saktinya kurang belaian,” bisik Alisha yang sengaja menggoda Rafael.
“Ya, pasti masih bisa curi-curi waktu, ya ‘kan, Bar?”
“Bisa sih, kalau pas nasib baik saja. Kebanyakan sih Sheina ikut tidur pas nidurin Bia.”
****
__ADS_1
Siapa yang senasib sama Sheina 😅😅😅