Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 98


__ADS_3

Rafael menghilangkan pasir-pasir yang ada di tubuhnya, lalu dengan gerakan cepat, dia menggendong Alisha dengan kedua tangannya yang kekar.


"Mas, kamu kotor banget," protes Alisha yang tidak mau digendong suaminya.


Orang-orang menyoraki mereka berdua yang terlihat sangat romantis.


"Orang-orang aja senang lihat kita gini. Harusnya kamu senang, Al digendong suami ganteng sepertiku," balas Rafael yang mengabaikan tatapan tajam istrinya. Kakinya terus melangkah menuju rumah yang mereka sewa.


"Mas, kamu mulai narsis deh. Lagian aku heran kok kamu hisa keluar dari pasir sih."


"Ya mudah saja. Kamu kan tidak menggali lubang untukku, jadi bagaimana bisa aku terkubur?"


Alisha malah cemberut karena ternyata dia sedang dikerjai oleh Rafael.


Mereka akhirnya masuk ke rumah, meski keadaan Rafael sangat kotor. Alisha menginteruksi untuk ke kamar mandi supaya bisa bersih-bersih.


"Kenapa di kamar mandi sih, Al. Kamu mau nyoba di sini?" tanya Rafael dengan percaya diri.


"Ih, apa sih Mas. Aku masih belum boleh," jawab Alisha yang kini sudah berdiri di hadapan Rafael.


"Kenapa lama sekali?" Rafael mulai memasang wajah murung. Terlihat lucu sekali saat dia seperti itu.


"Ya sabar. Emang lama gini. Ya udah sini aku mandiin, Mas."

__ADS_1


***


***


Makan malam romantis di tepi pantai telah siap. Alisha sedari tadi hanya senyum-senyum saking senangnya diajak makan malam spesial. Semenjak menjadi Nyonya Rafael, ini adalah kali pertama Rafael mengajaknya makan malam super romantis.


"Mas, kamu romantis banget ya ternyata," ucap Alisha saat mereka selesai memesan makanan.


"Kamu suka, 'kan? Felix emang ahlinya kalau soal beginian," celetuk Rafael.


Yang menjadi bahan pembicaraan malah sibuk dengan pasangannya di meja lain.


"Maksudnya, ini semua yang siapin Asisten Felix?" tanya Alisha yang kini wajahnya mulai cemberut. Dia pikir, suaminya sengaja menyiapkan kejutan istimewa itu.


Dia tidak merasa ada beban sama sekali saat mengatakan hal itu. Namun, ternyata sikapnya itu salah. Alisha malah jadi kesal karena sudah salah menduga.


"Jadi, Mas nggak bisa siapin makan malam kayak gini?" tanya Alisha dengan tatapan kesal.


Rafael mulai merasakan ada aura negatif di sekitarnya. Wajah muram sang istri sudah menjadi tanda awal adanya petaka yang mungkin akan membuatnya susah sebentar lagi.


"Ya, kan kita tinggal ... besok-besok aku coba urus sendiri ya, Al. Nanti kita makan malamnya lebih romantis dari ini."


Tiba-tiba saja Rafael terpikiran untuk mengatakan sesuatu yang lain, dan benar saja. Ternyata, wajah Alisha langsung berubah bahagia.

__ADS_1


"Gitu dong, Mas. Kamu 'kan kalau romantis gini jadi ganteng," kata Alisham


"Aku mencintaimu, Al." Rafael berpindah duduk. Sekarang dia duduk di samling Alisha yang mulai kembali senyum.


"Aku juga, Mas."


"Juga apa?"


"Juga mencintaimu."


Mereka saling tertawa hingga akhirnya, makan malam mereka pun berakhir. Mereka kembali ke rumah dan mendapati Alfaro yang menunggu di depan rumah sewa mereka.


"Kak Al. Ada apa?" tanya Rafael. Melihat kakaknya yang datang jauh-jauh menyusul, pasti ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kakaknya bicarakan.


"Ada sesuatu yang harus kamu tahu, El."


"Kalau ini masalah perusahaan, aku tidak mau tau, Kak. Aku tidak alan kembali."


"Ini soal Mama."


Kembang kopinya jangan lupa


Betewe sory gaes, aku ketiduran dan baru bangaun jam 10 ini 😓 maaf ya telat dan mungkin kurang nyambung.

__ADS_1


__ADS_2