Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 20


__ADS_3

Kehamilan Alisha yang sudah memasuki usia enam bulan membuat wanita itu semakin terbiasa dan merasa nyaman dengan perutnya yang bulat. Dia belum memasuki trimester akhir yang biasa mulai tidak nyaman saat tidur.


Hari ini, orang tua Rafael akan terbang ke negara Anna untuk menjenguk besan mereka yang sakit. Alisha tidak bisa ikut karena Rafael masih sibuk mengurus dua perusahaan sekaligus.


“Di rumah hati-hati ya. El, jaga istri kamu baik-baik loh. Mama sama Papa cuma sebentar kok di sana.” Mama Syana berpamitan dengan anak dan menantunya.


Rafael malah senang karena dia bisa leluasa berdua bersama Alisha tanpa ada gangguan dari mama papanya.


...****************...


Saat Rafael masih di kantor, Alisha menghampiri suaminya karena ingin membeli baju yang beberapa sudah tidak muat di tubuhnya.


“Mas, kamu masih lama?” tanya Alisha saat baru masuk ke ruangan suaminya.


“Kenapa lagi, Al? Mau beli rujak es krim?” Rafael tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan memeluk istrinya yang cemberut.


“Baju aku udah banyak yang enggak muat, Mas. Bisa enggak antar aku beli baju,” jawab Alisha cemberut. Dia duduk di kursi dan mengusap perut buncitnya yang sudah seperti bola.

__ADS_1


“Emangnya enggak ada pelayan yang bisa kamu ajak? Kenapa jauh-jauh ke sini kalau cuma mau ajak aku ke mal?” tanya Rafael. Dia mengusap perut Alisha dan menyapa bayi itu. “Jagoan daddy mau borong apa hari ini?”


“Kalau aku telfon, pasti Mas datang terlambat. Aku udah selesai belanja Mas baru datang,” jawab Alisha.


“Ya udah iya. Sebentar lagi ya, sabar.” Rafael pun mengalah.


Senyum cantik terbit di wajah Alisha, hingga akhirnya dia pun mau menunggu sampai pekerjaan Rafael selesai.


Felix, asisten Rafael masuk membawakan berkas-berkas penting yang Rafael minta. Dia sempat terkekeh memandang tubuh Alisha yang sekarang sangat berisi.


“Tidak apa-apa, Nyonya. Semenjak hamil Nyonya terlihat semakin sehat,” jawab Felix.


Rafael yang mendengar interaksi asisten dan juga istrinya langsung ikut menyahut. “Ya jelas aja sehat. Udah naik sepuluh kilo lebih waktu periksa dua minggu lalu, sekarang pasti lebih banyak lagi naiknya.”


“Maksud kalian aku sekarang gendut?” Alisha memasang raut wajah galak sambil berdiri dan mengusap-usap punggungnya.


“Sehat, Nyonya. Beda sama gendut,” jawab Felix tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Alisha semakin cemberut saja karena ucapan yang dia anggap sebagai hinaan. Memang semenjak hamil, berat badannya naik drastis. Semua makanan masuk ke mulutnya tanpa merasakan muntah-muntah karena Rafael saja yang mengalami hal itu.


Seakan paham situasi, Felix segera pamit keluar sebelum kena amukan sang nyonya.


“Felix itu kurang ajar sekali ya, berani menghina bosnya sendiri,” kesal Alisha yang kini kembali duduk di hadapan suaminya.


“Makanya, Sayang. Kalau malam olahraga biar keluar keringat. Kamu sekarang ‘kan banyak makan daripada olahraga. Senam hamil aja kamu malas, mending olahraga sama Naga Sakti,” balas Rafael yang mencoba mengambil keuntungan dari situasi ini.


“Itu sih maunya kamu aja, Mas.”


“Hei, Al. Sudah seminggu loh Naga Sakti belum nengok hasil karyanya. Nanti malam ya, Sayang.”


Alisha enggan menjawab. Semenjak hamil hormonnya memang naik turun, dan lebih banyak menolak keinginan Rafael karena dia sering kelelahan.


“Apa Kak Al sama Anna juga kayak kita ya, apalagi mereka hubungan jarak jauh. Malah sekarang ibunya Anna sakit. Menurut kamu apa nasib Kak Al juga sama kayak aku ya, Al?”


Kembang kopinya jangan lupa 💋

__ADS_1


__ADS_2