
Alisha memukul lengan sang suami dengan keras saat calon ayah itu mengatakan keinginannya. Mana bisa mengatur kelahiran akan tunggal atau kembar pada kehamilan yang sedang berjalan.
“Sudah berani pukul-pukul ya sekarang,” kata Rafael. Dia mengusap lengannya yang terasa sakit karena pukulan Alisha.
“Habisnya Mas Rafa aneh, kenapa enggak mau kalau anak pertama kembar?” tanya Alisha dengan kesal.
“Karena kalau kembar, aku enggak kebagian buah pirnya dong,” jawab Rafael yang sengaja menggoda Alisha.
Wanita cantik itu melotot dan membuat Rafael tertawa karena berhasil menggoda istrinya itu.
“Aku cuma enggak mau kamu kerepotan, Al. Anak pertama itu ‘kan kita baru belajar menjadi orang tua. Kalau langsung dua memangnya kamu sanggup? Nanti pas mereka nangis bareng kamu ikutan nangis,” ledek Rafael sambil mencium gemas kedua pipi Alisha sebelum memeluknya dengan erat.
“Kita bisa bayar baby sitter, Mas.”
“Oh iya benar. Jadi mau anak sebanyak apa pun kita tetap banyak waktu berdua, iya ‘kan Al.” Rafael menaik turunkan alisnya. Tangan besarnya mulai menyusup ke baju Alisha dan mengusap perut datar itu. “Yuk, Al.”
__ADS_1
“Kita baru pulang dari luar negeri, Mas. Capek juga bayinya.” Alisha berbalik badan dan memunggungi suaminya.
Sementara sang suami hanya bisa menghela napas berat karena sadar apa yang diucapkan Alisha ada benarnya. Mereka baru tiba dari luar negeri dan Alisha juga dalam keadaan hamil, apalagi dokter juga mengingatkan untuk mengurangi kegiatan panas di ranjang.
***
***
Alfaro harus bolak-balik dari Singapura untuk menemui istrinya yang masih mengurusi masalah orang tuanya. Anna memang harus mengurus perusahaan dan juga masalah harta kedua orang tuanya yang hampir saja direbut oleh Catherine, sedangkan Alfaro harus mengurus perusahaannya sendiri. Karena itulah, mereka harus menjalani hubungan jarak jauh untuk sementara waktu.
Tidak bisa menahan rindu, apalagi memang masih pengantin baru, Alfaro mendatangi Anna untuk melepas rindu yang kian lama kian menyiksa batinnya. Apalagi, sesuatu di balik celana yang semakin sulit dikontrol keadaannya.
Keadaan kantor cukup berantakan, banyak dokumen dan kertas-kertas yang berserakan di meja. Sepertinya Anna terlalu lelah sampai tertidur seperti itu.
Alfaro duduk di ujung sofa lalu mencium pipi Anna tiba-tiba. Secara refleks wanita itu terbangun dan langsung memukul wajah Alfaro dengan tangannya.
__ADS_1
“Auw.” Alfaro memegang wajahnya yang terasa sakit karena pukulan Anna. “Ini aku, Ann.”
Anna langsung tersadar sepenuhnya dan meminta maaf pada Alfaro.
“Ya ampun, Kak Al. Kamu enggak bilang sama aku kalau datang, bikin kaget saja,” kata Anna sambil mengusap wajah suaminya.
“Kamu demam, Ann?” tanya Alfaro terkejut saat merasakan tangan Anna yang hangat. Laki-laki itu menyentuh dahi Anna dan merasakan tubuh Anna yang memang tidak baik-baik saja.
“Aku enggak apa-apa, Kak. Mungkin kecapean saja kali ya,” jawab Anna yang kini memperbaiki posisi duduknya.
“Anna, wajah kamu pucat. Mendingan kita ke rumah sakit sekarang. Biar cepat diobati dan enggak semakin parah.”
“Nanti saja, Kak. Aku memang ada rencana ke dokter karena aku mual banget tadi pagi. Tapi sekarang enggak apa-apa kok.”
“Bukan kamu yang bisa menentukan kamu tidak apa-apa. Kita ke dokter, kalau dokter bilang kamu baik-baik saja, it’s okay. Sekarang kita ke rumah sakit.”
__ADS_1
“Oke, nanti ya.”
“Sekarang Anna. Aku suami kamu dan kamu harus menurut apa kata aku.”