
Menu sarapan pagi di meja makan sudah tersaji. Seluruh anggota keluarga telah berkumpul di rumah mewah milik Rafael. Mereka bersiap untuk sarapan sebelum memulai pekerjaan mereka.
"El, aku nanti bareng kamu ya berangkatnya," kata Anna yang masih berusaha mencari kesempatan untuk bersama Rafael.
"Iya Raf, kasihan Anna nggak ada temannya di sini." Syana ikut memprovokasi. Dia tidak menyukai Alisha, karena itulah dia masih berharap Anna akan merebut posisi Alisha sebagai istri.
"Tidak bisa. Aku ada perlu di kantor Alisha. Kamu bisa pergi sama Kak Al," tolak Rafael dengan tegas.
Alfaro dan Anna saling pandang, sedangkan Syana terlihat kesal.
"Mas, aku mual pusing banget. Kita mampir ke dokter ya, Mas." Alisha menyentuh tangan Rafael.
Mana mungkin laki-laki itu bisa menolak permintaan istrinya, apalagi saat mendengar Alisha yang mengeluh sakit.
"Al, kalau kamu sakit tidak usah ke kantor." Rafael cemas. Dia mengusap kening Alisha dan merasakan kulit istrinya yang hangat.
"Makanya, temani ke dokter dulu."
Alisha terus memamerkan kemesraan membuat Syana dan Anna semakin meradang hingga meninggalkan meja makan sebelum menyelesaikan sarapan mereka.
***
***
__ADS_1
Rafael sangat-sangat bahagia saat dokter mengatakan bahwa istrinya tengah hamil. Meski masih terlalu dini tapi mereka cukup puas saat melihat kantung janin yang sudah terbentuk di rahim Alisha.
Rafael menemani Alisha di kantor. Dia ingin menghabiskan sepanjang harinya bersama anak yang kini tumbuh di rahim Alisha.
Meski pria itu sudah melarang Alisha untuk bekerja, tetapi karena rasa tanggung jawab dan keras kepalanya, Alisha tetap memaksa untuk bekerja.
Mereka akhirnya pulang sebelum jam kerja berakhir. Alisha sudah tidak sabar ingin memberitahukan kehamilannya itu pada Anna dan mertuanya. Ia sangat yakin bahwa dua wanita itu akan semakin histeris dan mengurungkan niat untuk merebut Rafael darinya.
"Aduh, lelah sekali, Mas. Kakiku sakit." Alisha sengaja menarik tangan suaminya untuk duduk di sofa. Tepat saat mertuanya baru saja menyalakan televisi.
"Dasar manja," cibir Syana tanpa menoleh sedikit pun.
"Sore, Ma," sapa Rafael.
"Aku seharian di kantor Alisha, Ma."
Alisha tiba-tiba ingin memanas-manasi mertuanya. Dia sengaja memijat kakinya pelan sambil mengeluh, membuat Rafael kini terfokus padanya.
"Al, kayaknya besok kamu nggak usah kerja lagi deh. Aku mau kamu fokus sama kehamilan kamu, soal perusahaan biar aku sama Felix yang atur," kata Rafael yang kini memijat kaki istrinya.
Mendengar omongan putranya tentang kehamilan, secara otomatis kepala Syana menoleh dan melotot pada Alisha. Dia terlalu meremehkan menantunya itu karena berpikir Rafael akan bosan dan Alisha tidak mungkin hamil dengan keadaannya yang baru sembuh dari lumpuh.
Alisha menangkap tatapan marah mertuanya. Dia malah sengaja mengusap perutnya yang datar untuk membuat Syana yakin bahwa dia tidak salah dengar.
__ADS_1
"Masih ada beberapa pekerjaan, Mas. Aku janji dua tiga hari lagi, aku akan di rumah sampai anakmu lahir."
"Janji ya. Aku sangat menyayangi dia, Al. Sudah sangat lama aku menanti dia. Kerja kerasku setiap malam demi dia, dan sekarang dia hadir di perut kamu, ini suatu keajaiban." Rafael mengusap perut Alisha sebelum akhirnya menempelkan telinganya di sana.
Alisha tersenyum geli, tetapi matanya melirik Syana yang sudah sangat terbakar.
"Kerja keras yang kamu nikmati, Mas. Aku tidak pernah memaksa," balas Alisha.
"Ya, memang sangat menikmati, tapi mulai sekarang kita harus mengurangi intensitasnya. Aku tidak mau kamu dan dia kenapa-napa."
Rafael seolah lupa bahwa mamanya juga mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kamu mencintaiku?"
"Sangat-sangat mencintaimu, Al."
"Kalau gitu, gendong aku sampai ke atas."
Tanpa pikir panjang lagi, Rafael segera menggendong tubuh Alisha dan meninggalkan mamanya.
"Wanita itu hamil? Semakin besar kepala saja dia. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi."
Kembang kopinya jangan lupa ya gaess 💋💋
__ADS_1