Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 100


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, Alisha akhirnya sembuh dan pulih total pasca mengalami keguguran itu. Rasa bahagia yang terpancar dari wajah Rafael menggambarkan suasana hatinya yang sedang bahagia. Dia berharap, Alisha akan segera hamil setelah ini, sehingga kebahagiaan mereka akan semakin lengkap.


Saat ini, mereka dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, dan Rafael sendiri yang menyetir mobilnya. Tangan laki-laki itu terus menggenggam tangan sang istri sambil menyunggingkan senyum menawannya.


"Al, kamu tidak merindukan naga sakti?" tanya Rafael di sela konsentrasinya mengemudi.


"Apa sih, Mas. Baru juga kita pulang dari dokter loh, nggak sabaran banget," balas Alisha malu-malu.


"Ya, 'kan harus tancap gas, Al. Biar kamu cepet hamil," kata Rafael yang memang sudah tidak sabar.


"Mas, aku pengen ketemu Mama sebelum kita mulai programnya, Mas."


"Aku tidak mau bahas itu, Al. Mama juga baik-baik saja kok tanpa kita. Buktinya Mama tidak pernah menemui kita," potong Rafael. Genggaman tangannya pada tangan Alisha mulai mengendur sebelum akhirnya terlepas.


Rafael masih sangat kecewa dengan sikap kedua orang tuanya. Menurut laki-laki itu, yang penting dia bisa membuktikan pada kedua orang tua itu bahwa anak yang mereka remehkan bisa sukses tanpa bantuan dan juga nama besar Hartono.

__ADS_1


"Mas, biar bagaimana pun, kita yang muda. Sudah seharusnya kita dulu yang mendatangi mereka, Mas. Aku ingin kita mencoba sekali saja. Kalau mereka tetap tidak menerima kita, baru terserah Mas Rafa."


Alisha meraih tangan suaminya dan memasang raut muka memelas. Wajah cantiknya yang terlihat imut, justru membuat Rafael tidak bisa berkutik.


"Ya udah, sekali saja ya," putus Rafael pada akhirnya.


Alisha mengangguk bahagia. Dia langsung mencium pipi Rafael dan bermanja di lengannya.


"Eits, masih nyetir ini, Al. Sabar dong. Nanti malam baru kita puas-puasin, oke."


Dalam hati, Alisha ingin memulai kehidupan barunya bersama Rafael dan memulai kehamilan dengan restu sang mertua. Walau entah mereka akan memberikan restu atau tidak, setidaknya mereka sudah mencoba.


Jika Rafael pernah berkata padanya, lebih baik menyesal karena membelinya daripada menyesal karena tidak bisa memilikinya. Maka, Alisha pikir, lebih baik menyesal sudah mencoba berusaha daripada menyesal karena tidak berusaha sama sekali.


***

__ADS_1


***


Mobil yang dikemudikan Rafael kini memasuki pekarangan rumah super mewah milik keluarga Hartono. Rumah itu jauh lebih besar dari rumah Rafael, dengan desain klasik eropa.


Ini, adalah kali pertama Alisha menginjakkan kaki di rumah sang mertua. Dengan membawa bingkisan buah-buahan.


Rafael sudah memasang wajah datar saat memasuki bangunan utama rumah mewah itu. Sedangkan Alisha, dia menggandeng tangan Rafael dengan erat. Rasa gugup tiba-tiba menghampiri perasaan wanita cantik itu.


Mereka menunggu di sofa dan menyuruh pelayan untuk memanggil Syana. Tidak lama, Syana keluar dari kamarnya yang berada di lantai satu.


"Rafa, Alisha." Syana tersenyum haru melihat kedatangan anak dan menantunya. Wanita itu tiba-tiba menangis saat melihat senyum bahagia Alisha dan wajah murung putranya sendiri.


Syana tahu, Alisha pasti memaksa Rafael untuk menemuinya. Dia sangat tahu sifat keras kepala putranya itu. Karena itulah, Syana merasa salah menilai Alisha, ternyata Alisha menantu yang baik.


"Maafkan mama ya Alisha." Syana memeluk Alisha dab menangis karena menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Rafael melihat mamanya yang langsung memeluk Alisha. Apa mamanya itu benar-benar sudah berubah?


__ADS_2