
Beberapa hari berlalu, kini di kantor Hartono Corppration, seorang wanita dengan kacamata hitamnya menunggu kedatangan Rafael. Meski sudah ditolak, tetapi wanita itu pantang menyerah. Dia masih meyakini bahwa perasaan cinta Rafael untuknya sangatlah besar.
Saat melihat kedatangan laki-laki yang ditunggunya dari tadi, wanita itu langsung berjalan menghampirinya. Rafael yang baru datang dari perusahaan Alisha kembali terkejut dengan kedatangan wanita masa lalunya itu.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Rafael dengan emosi. Dia sudah berusaha menyingkirkan wanita itu dari hatinya, tetapi entah kenapa dia selalu muncul lagi dan lagi, seolah tidak cukup menyakiti mentalnya di masa lalu.
Melinda seketika memeluk Rafael. Tidak peduli dilihat karyawan Rafael yang berjaga di meja resepsionis. Akan tetapi, dengan dorongan yang cukup kuat Rafael berhasil menyingkirkan wanita itu dari tubuhnya.
"Mas, aku minta tolong sama kamu. Kali ini saja, selamatkan aku." Melinda meraih tangan Rafael yang dengan tegas ditampiknya.
"Aku tidak punya urusan apa pun sama kamu. Berhenti mengganggu hidupku, Mel. Pergilah!" ucap Rafael, lalu berjalan menjauhi Melinda.
"Mas, aku mohon! Selamatkan aku dari dia, Mas. Aku tahu kamu masih peduli sama aku. Aku mohon tolong aku!" pinta Melinda sambil berjalan cepat mengejar Rafael.
__ADS_1
"Pergilah Mel, aku tidak akan pernah mencampuri urusanmu! Felix, usir dia dari sini!" Rafael berjalan cepat masuk ke lift yang membawanya ke ruang kerjanya.
Felix menurut dan membawa Melinda pergi, tetapi wanita itu tetap menangis dan memelas. Dia memohon untuk diselamatkan dari suaminya, tetapi Felix juga tidak peduli dengan wanita itu. Karena Melinda, hidup Rafael jadi berantakan. Melinda pun akhirnya berhasil diusir dari kantor Rafael.
Mas, aku tahu kamu masih sangat mencintaiku. Bahkan, pernikahanmu itu hanyalah kedok supaya orang mengira kamu telah melupakanku. Padahal, kamu hanya menikahi wanita itu karena tanggung jawab. Karena kamulah, penyebab wanita itu koma dan mengalami kelumpuhan.
***
***
"Hai, Irisan Kiwi. Kamu masih di rumah sakit?" tanya Rafael setelah Alisha menjawab teleponnya.
"Masih, Mas. Tapi, ini udah hampir selesai sih," jawab Alisha.
__ADS_1
"Gimana kalau kita makan siang, aku jemput ya," kata Rafael bersemangat.
"Hem, gimana ya. Terserah kamu aja Mas, aku sekalian mau nunjukin sesuatu buat kamu," kata Alisha yang terdengar antusias.
"Oh ya, apa?" Wajah Rafael berseri mendengar suara istrinya yang bersemangat.
"Katanya kamu mau ke sini. Ya udah nanti aku kasih lihat langsung," jawab Alisha. "Aku matiin ya, udah ditunggu dokterku."
Laki-laki itu jadi menebak-nebak apa yang akan ditunjukkan oleh Alisha. Meski berharap, tapi Rafael tidak berani menebak soal kehamilan, karena mereka baru beberapa hari yang lalu memulainya.
Rafael bergegas ke rumah sakit. Dia pergi mengendarai mobilnya sendiri tanpa Felix karena ingin berdua dengan Alisha. Beberapa puluh menit mengemudi, laki-laki itu pun sampai di rumah sakit. Dia mengirim pesan pada Alisha bahwa dia akan segera sampai, padahal dia sudah berada di rumah sakit.
Saat di parkiran, Rafael mendengar suara tangisan yang sangat dikenalnya. Wanita itu menangis di antara sela mobil bersama seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Tepat pada saat Rafael melihat wanita itu, laki-laki yang bersamanya sedang menammpar sang wanita hingga jatuh tersungkur.
"Melinda," teriak Rafael saat melihat Melinda yang dianiaya oleh suaminya sendiri.