Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 84


__ADS_3

Alfaro jadi salah tingkah karena ucapan Rafael. Bagaimana tidak, pria yang bertelaanjang dada itu secara terang-terangan menyuruh Anna untuk menikahi dirinya. Mimpi yang selama delapan tahun ia pendam sendiri.


Anna merasa kesal kala mendengar usulan Rafael itu. Baginya, laki-laki yang ia cintai hanyalah Rafael bukan yang lain.


"Aku cuma cinta sama kamu, Beb. Aku nggak mungkin bisa mencintai orang lain. Kalau kamu tidak mau, aku akan terus mengganggumu." Anna menarik tangan Rafael.


"Keras kepala sekali kamu Anna." Rafael menghempaskan tangan Anna, matanya sudah memerah menahan luapan emosinya. Dia sedang berusaha menahan diri untuk tidak meledak saat ini juga.


Sementara itu, Alfaro yang melihat tatapan menakutkan dari adiknya, segera bertindak sebelum sifat temperamental Rafael keluar.


Namun, tiba-tiba Alisha keluar dengan rambut basahnya yang terbungkus handuk. Suasana hati Rafael mendadak berubah.


"Mas, buruan mandi. Temani aku makan. Aku udah lapar lagi, Mas." Alisha bergelayut manja di lengan sang suami.


Wanita cantik itu seolah sedang memanfaatkan kesempatan dengan memamerkan kemesraan.


"Iya, Baby. Sebentar ya," balas Rafael dengan lembut. Dia lalu menghela napas berat dan menatap Anna dengan kesal sebelum akhirnya berlalu ke kamar mandinya.


Alisha mengabaikan Anna yang ada di hadapannya. Dia sengaja menutup pintu kamar dan menyapa kakak iparnya.

__ADS_1


"Kak Al kapan sampai?" tanya Alisha basa-basi.


"Barusan kok. Alisha, hubungan kamu sama El sepertinya sudah membaik ya, kamu juga sudah bisa berjalan," jawab Alfaro.


"Ya, begitulah, Kak. Semenjak aku bisa berjalan, Mas Rafa malah seperti terobsesi untuk membuatku hamil. Mungkin karena itulah hubungan kami membaik," balas Alisha.


"Ya, sampai-sampai tidak sempat menutup pintu, 'kan?" goda Alfaro yang membuat Alisha tertawa pelan, sungguh memalukan ternyata Alfaro juga tahu.


"Tenang saja. Aku tidak mengintip kok, hanya terdengar keras dari luar," imbuh laki-laki itu.


Alisha tersipu malu-malu. "Mas Rafa lupa kunci pintu kayaknya." Dia menjawab seolah-olah itu kesalahan Rafael yang terburu-buru ingin segera menikmatinya, padahal sebenarnya Alisha sendiri yang sengaja tidak menutup pintu dengan rapat.


Sementara itu, Alisha dan Alfaro mengabaikan Anna yang sedang kesal. Mereka mulai mengobrol layaknya saudara ipar yang belum terlalu kenal. Tak lama setelah Anna turun, mama Alfaro yaitu Syana keluar dari kamarnya.


Tatapan tajamnya yang sangat mirip dengan Rafael seolah menikam jantung Alisha dengan kebenciannya. Dari awal bertemu, Syana sudah tidak menyukai Alisha, terlebih sikap Alisha yang tidak memiliki rasa takut padanya membuat Syana semakin tidak menyukainya.


"Dasar wanita tidak tahu malu!" sindir Syana yang kemudian berjalan menuju tangga. Dia terus menggerutu menyesalkan nasib putranya yang harus menikah dengan Alisha. "Wanita tidak tahu diri! Bodoh sekali Rafa menikahi wanita seperti dia."


Rafael mendengar apa yang mamanya katakan pada Alisha karena saat mamanya masih menggerutu Rafael sedang membuka pintu.

__ADS_1


"Al, jadi mau makan?" tanya Rafael.


"Jadi, Mas. Kita ke bawah dulu, Kak," pamit Alisha.


Alfaro mengangguk dan berjalan menuju kamarnya sendiri.


"Al, jangan didengar apa yang mama katakan. Aku tidak peduli pendapat orang lain. Bagiku, kamu yang terbaik." Rafael merangkul pinggang Alisha dan mereka berjalan menuruni tangga.


***


***


***


Pagi-pagi sekali tidur Alisha harus terganggu dengan perasaan tidak nyaman di perutnya. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi dari perutnya. Kepalanya terasa pusing dan mual yang melanda membuatnya tersiksa.


Setelah berhasil mengusai diri, Alisha kembali berjalan ke kasurnya dengan tubuh yang terasa lemas. Suaminya masih tidur dengan pulas. Alisha memeluk Rafael dan ikut tidur lagi bersama laki-laki itu.


"Mas, peluk dong."

__ADS_1


Kembang kopinya banyakin gaess 💋💋💋


__ADS_2