
Alisha sedang bersiap untuk kembali bekerja. Beberapa hari di rumah membuatnya jenuh dan malah berpikir macam-macam. Dia sudah berdandan rapi dan hendak berangkat bersama Ria, sekretarisnya. Felix yang memang ditugaskan untuk menjaga Alisha, sudah siap dari tadi dan dengan santai menunggu di sofa.
“Yuk, Beb berangkat!” ajak Ria yang sepertinya tidak sadar dengan ucapannya sendiri.
Alisha dengan jelas mendengar panggilan mesra keluar dari bibir sekretarisnya itu. Di sana hanya ada dirinya dan Felix selain Ria. Bik Imah sedang bersih-bersih di belakang dan tidak mungkin juga Ria mengajak Bik Imah berangkat. Alisha melirik memperhatikan ekspresi Ria dan Felix yang terlihat biasa saja.
“Siapa yang kamu panggil ‘Beb’ itu, Ria?” tanya Alisha sambil berkali-kali menoleh pada dua orang yang cukup dekat dengannya.
Seketika itu ekspresi Felix langsung bingung. Sementara Ria malah terlihat panik dan gelagapan.
“I-itu, em maksud saya Pak. Mungkin Ibu salah dengar,” jawab Ria.
Alisha merasa ada yang aneh antara hubungan Ria dan Felix. Mereka pasti memiliki hubungan spesial yang sedang mereka sembunyikan.
“Kalian pacaran ya?” tebak Alisha dengan sangat yakin. Dia merasa bahagia jika memang dua orang yang bekerja dengannya itu bisa bersama dan menjalin hubungan yang lebih serius.
“Siapa yang pacaran?”
__ADS_1
Suara bariton yang khas itu membuat jantung Alisha berdebar keras. Dia sangat bahagia saat melihat wajah suaminya muncul sambil menenteng koper kecilnya.
“Mas, kamu sudah pulang?” Alisha langsung berlari memeluk suaminya. Rasa khawatir dan tidak tenang yang sejak kemarin mengganggu pikirannya, kini semua luruh dengan pulangnya pria yang dicintainya itu.
“Apa kamu merindukanku?” tanya Rafael yang juga membalas pelukan Alisha.
Dia memang sengaja tidak memberi kabar Alisha setelah pertemuannya dengan orang tua Anna. Bagi Rafael, membuat Alisha cemburu dan khawatir adalah bukti bahwa wanita itu mencintainya. Dengan begitu, tidak akan ada badai yang tidak bisa dilewati jika mereka saling mencintai dengan tulus.
“Bagaimana orang tua Anna, Mas? Kenapa tidak memberi kabar?” Alisha menanyai suaminya dengan bibir manyun. Dia sampai tidak bisa tidur nyenyak karena mengkhawatirkan laki-laki itu.
Felix dan Ria saling pandang sebelum akhirnya mengangguk patuh dan akhirnya berangkat bersama.
“Mas, cepetan cerita!” pinta Alisha yang sudah tidak sabar. Dia sudah terlalu penasaran, tapi melihat wajah suaminya yang baik-baik saja sepertinya tidak terjadi masalah.
“Cium dulu, Al. Aku kangen banget, masa’ kamu tidak kangen?” Rafael mendekatkan wajahnya pada Alisha yang kemudian secepat kilat mencium pipinya.
“Udah. Buruan cerita, Mas.”
__ADS_1
“Bukan cium pipi, tapi cium ini!” Rafael menunjuk bibirnya dengan telunjuk. Dia ingin mendapat ciuman mesra di bibir yang beberapa hari ini tidak dirasakannya semenjak keguguran itu.
“Ya ampun, Mas.” Alisha mulai kesal, tapi dengan patuh dia mencium bibir suaminya itu.
Akhirnya, Rafael bisa merasakan lagi rasa cery yang sangat dirindukannya. Pertemuan dua bibir itu berlangsung singkat tapi menyiratkan sejuta kerinduan.
“Udah, Mas. Cepetan cerita.” Alisah mengelap bibirnya dengan malu-malu.
“Iya-iya.” Rafael menarik kepala Alisha untuk bersandar di bahunya. “Jadi, kemarin aku sudah bertemu dengan orang tua Anna dan menjelaskan semua sekaligus meminta maaf karena menyakiti hati mereka dan Anna.”
“Mereka menerima ‘kan, Mas?”
“Mereka tidak terima, Al. Tapi, aku sudah membereskan semuanya.”
“Apa yang kamu lakukan untuk meyakinkan mereka, Mas?”
Kembang kopinya ya gaes.. jempolnya jangan lupa dipencet 🥲🥲
__ADS_1