
Anna sedang belajar memakaikan baju untuk Satria. Sebagai ibu, dia memang harus banyak belajar mengurus Satria sendiri, meski keadaannya sekarang terbatas. Dibantu pengasuhnya, Anna akhirnya berhasil menggantikan baju Satria.
Alfaro menghampiri istri dan anaknya setelah mengintip kemesraan Rafael dan Alisha.
“Ganteng banget, Satria dimandikan mommy ya,” kata Alfaro lalu mencium kening anaknya dengan sayang.
Meski ingatannya belum kembali, tetapi ikatan batinnya dengan Satria membuat rasa cinta dan perhatian Alfaro pada bayi itu sangat besar. Namun, entah mengapa, dia tidak begitu merasakan sesuatu pada Anna. Apa mungkin karena Anna kurang berusaha mendekatkan diri padanya lagi?
“Kak, mau gendong enggak?” tanya Anna pada suaminya.
Laki-laki itu menatap istrinya dan mengangguk. “Tolong bantu aku,” kata Alfaro pada pengasuh Satria.
Wanita itu lalu memindahkan Satria ke gendongan Alfaro dengan sangat hati-hati.
Anna bahagia melihat suaminya yang berusaha menggendong anak mereka.
“Kak, gimana kalau kita pulang ke rumah Mama aja, kalau ke Singapura kayaknya tunggu kamu sembuh dulu,” kata Anna sembari mengusap punggung suaminya.
__ADS_1
“Singapura?” Alfaro mengerutkan kening, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi antara dia dan Singapura. “Apa kita tinggal dulu tinggal di Singapura?”
Anna mencoba menjelaskan tentang keadaan mereka setelah pernikahan. Termasuk tentang perselingkuhan ayahanya yang membuat mereka harus rela berpisah sementara. Meski Alfaro belum mengingat apa pun, tapi laki-laki itu memang baik. Nyatanya, dia mempercayai semua yang diceritakan istrinya itu.
Karena keinginan Anna, Alfaro dan Mama Syana akhirnya setuju untuk membawa Satria pulang ke rumah orang tua Alfaro. Tujuannya supaya Satria bisa lebih dekat dengan Anna dan ikatan hubungan ibu dan anak itu bisa terjalin dengan lebih erat.
“Al, maafkan aku ya. Aku enggak maksud buat ketus atau jahat sama kamu, tapi aku juga enggak tau kenapa bisa merasa kayak gitu,” ucap Anna saat mereka akan berpamitan.
Dia sangat merasa bersalah karena perlakuannya pada Alisha, padahal iparnya itu sudah merawat putranya dengan baik dan memberikan makanan terbaik yang tidak dijual di toko mana pun.
“Terima kasih banyak, Al. Kamu benar-benar baik,” kata Anna.
Melihat ketulusan Alisha, Mama Syana sampai menitikan air mata. Menantunya itu memang sangat baik dan Rafael beruntunf memilikinya. “Al, mama pulang dulu, ya. Nanti mama akan sering-sering ke sini buat tengok Shaka,” kata Mama Syana sembari mencium kening cucunya.
“Iya, Ma. Nanti kalau Shaka udah bisa diajak jalan-jalan, aku juga akan bawa dia ke rumah Mama.” Alisha kini mengambil alih Shaka dari gendongan pengasuhnya.
***
__ADS_1
***
Hari pertama pindah ke rumah Hartono, Satria ternyata mulai rewel. Anna belum bisa menenangkannya, dan Satria hanya mau digendong oleh pengasuhnya. Wanita yang duduk di tepi kasur itu akhirnya menangis kencang.
Anna merasa gagal menjadi ibu. Dia gagal membuat bayinya berhenti menangis.
Melihat hal itu, Alfaro menghampiri istrinya. Dia duduk di sebelah Anna yang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Alfaro.
“Aku gagal, aku gagal Kak. Aku enggak bisa jadi ibu yang baik buat Satria. Satria cuma butuh Alisha, bukan aku,” kata Anna sambil menangis tersedu.
Dengan ragu-ragu, Alfaro merangkulkan tangannya di pinggang Anna. Lalu, dia memeluk Anna untuk memberikan semangat. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai terasa aneh.
“Kamu ibu yang hebat, Anna. Kamu sama hebatnya dengan Alisha. Jangan menangis lagi, ya.”
Kenapa sekarang aku merasa sangat sedih seperti Anna? Apa aku mulai ikut merasakan kesedihannya?
Ritual jejaknya jangan lupa 😍
__ADS_1