
Pertanyaan yang diberikan oleh Rafael membuat Alisha sedikit bingung. Laki-laki itu memintanya untuk membuat Rafael senang jika tidak mau perawatnya dipecat. Menyenangkan yang bagaimana?
"Apa aku harus membuatmu tertawa bahagia?" tanya Alisha tidak paham. Dalam benaknya, membuat senang adalah membuat Rafael tertawa, seperti menjadi badut atau melawak supaya laki-laki itu bisa senang.
Mendengar pertanyaan polos istrinya, Rafael mengerutkan kening. Istrinya itu memang lima tahun lebih muda darinya, tapi bukankah seusia Alisha, seharusnya sudah paham dengan kebutuhan suami istri?
"Kamu tidak mengerti cara menyenangkanku?" Rafael balik bertanya. Dia memperhatikan istrinya dari rambut sampai kaki. Tidak ada yang menarik dari bentuh tubuhnya yang kecil, jauh dari kata menggoda. Kecuali, wajah Alisha, mata hidung bahkan bibirnya itu sangat menggoda.
"Tidak. Bukankah senang itu tidak susah? Bahagia, 'kan?" Alisha semakin bingung dengan pertanyaan Rafael. Kenapa dalam keadaannya yang sakit, suaminya itu justru semakin membuatnya pusing.
"Senang bisa juga berarti puas. Maka, puaskan aku jika kamu tidak mau aku memecatnya!" balas Rafael dengan sorot matanya yang tajam. Dia mulai mendengus karena kesal pada istrinya yang tidak juga paham.
__ADS_1
Pandangan Rafael hanya terfokus pada bibir Alisha yang baru dinikmatinya.
"Mas, apa kamu mau aku memuaskanmu? Menukar pekerjaan Suster Irma dengan tubuhku?" tanya Alisha dengan bibir bergetar. Dia mulai takut karena Rafael sepertinya mulai meminta haknya sebagai suami.
"Ya, hanya jika kamu mau dengan suka rela menyerahkannya padaku," jawab Rafael sambil membelai bibir Alisha yang membuatnya ingin menikmati lagi dan lagi.
Alisha mengerutkan kening. Dia tidak mau melakukan kewajiban itu tanpa perasaan. Melihat sikap suaminya yang temperamental, bukan tidak mungkin jika dia akan melakukannya dengan kasar. Karena itulah, Alisha mulai berpikir keras.
"Aku akan membayarnya, Mas. Biarkan dia tinggal di sini. Aku yang akan menggajinya," putus Alisha yang menemukan pilihan lain. Dia tidak akan mengorbankan keperawanannya untuk Rafael, karena jelas-jelas di mata Alisha laki-laki itu masih mencintai Melinda.
"Dasar egois! Arogan! Diktator!" Alisha memalingkan wajah, dia sama sekali tidak menyukai penawaran yang Rafael berikan. Semua hanya menguntungkan Rafael dari satu sisi saja.
__ADS_1
"Kamu tidak punya pilihan lain, Alisha."
Pasangan suami istri itu masih keras kepala dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba pintu diketuk dan terdengar suara perawat Irma yang datang bersama Perawat Hana. Kemudian, Rafael mengizinkan mereka untuk masuk ke kamar Alisha.
"Suster Irma cepat kemasi barang-barangmu sekarang!" perintah Rafael tanpa memandang kedua perawat di belakangnya.
Alisha menoleh pada kedua perawatnya. Mereka saling berpegangan tangan untuk membagi kekuatan. Alisha melihat wajah sedih dan ketakutan dari perawat yang selalu menemani dan menjaganya itu. Hanya karena satu kesalahan yang tidak murni menjadi tanggung jawabnya, perawat itu harus menanggung akibat dari tindak semena-mena suaminya.
"Ba-baik, Tuan. Nyonya, cepatlah sembuh. Maafkan saya, Nyonya, Tuan."
Suara Perawat Irma yang bergetar membuat hati Alisha tersentuh. Dia sangat tidak tega, apalagi jelas dia melihat air mata Perawat Irma.
__ADS_1
"Mas, jangan pecat dia. Aku mohon! Lakukan apa pun yang kamu mau, tapi kasihanilah dia!" Alisha menarik tangan Rafael dan meletakkan di pipinya. Air mata Alisha tumpah begitu saja, dia sangat mengerti keadaan perawatnya itu. Lagi pula, Alisha dan Rafael sudah menikah, apa yang akan dilakukan Rafael padanya bukanlah sebuah dosa.
Mereka bakalan jadi anu-anu nggak?