
Rafael menatap kesal pada Alisha yang membela perawatnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Alisha akan membela orang lain dibandingkan suaminya sendiri.
"Kamu keluar sekarang!" perintah Rafael dengan nada tinggi pada Perawat Irma.
Alisha mendengus karena sikap suaminya yang temperamen itu. Memang kalau sudah menjadi watak, akan sangat sulit diubah.
Perawat Irma keluar untuk menebus obat yang telah diresepkan dokter. Sedangkan Rafael kini menatap istrinya yang memandangnya dengan kebencian.
"Aku sudah menyelamatkan nyawamu, apa kamu tahu?" tanya Rafael setelah menggeretakkan giginya. Matanya yang sudah melotot menandakan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Iya, aku tahu, dan aku sudah mengucapkan terima kasih untuk itu. Karenamu aku kembali hidup, karenamu aku tidak jadi menyusul orang tuaku. Tapi, aku tetap tidak terima dengan sikap aroganmu yang sudah seenaknya memecat temanku tanpa mendengar penjelasanku," jawab Alisha sembari menahan pusing yang melandanya .
Rafael dengan sisi egoisnya tidak mau mendengar apa yang Alisha jelaskan. Baginya, kesalahan perawat itu sudah sangat fatal. Bagaimana kalau Alisha tidak selamat?
__ADS_1
"Aku bisa mendatangkan perawat lain yang lebih profesional darinya." Rafael mencengkeram sprei untuk meluapkan emosinya. Dia masih sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menyakiti Alisha secara fisik.
"Oh. Apa kamu peduli dengan apa yang dialami perawat Irma. Orang tuanya sedang sakit parah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Makanya dia mau mengambil pekerjaan ini padahal jelas-jelas dia tahu sikap temperamenmu itu. Kalau kamu mau pecat orang, pecat aku saja. Karena aku yang menyuruhnya mandi. Aku yang memintanya meninggalkanku sendiri di dekat kolam."
Dada Alisha naik turun karena emosi yang ia luapkan pada suaminya itu. Dia sudah sangat kecewa dengan hidupnya sendiri karena itulah dia bisa mengerti apa yang dirasakan Perawat Irma saat ini. Apalagi, ini bukan sepenuhnya kesalahan wanita itu.
"Kamu nggak akan ngerti gimana rasanya jadi orang susah, Mas," kata Alisha dengan lirih. Bibirnya yang bergetar justru membuat Rafael semakin tidak karuan.
Namun, tindakan Alisha itu justru memancing Rafael untuk merasakan lagi bibir istrinya. Dia semakin penasaran, kenapa bibir itu bisa terasa manis.
Rafael tidak bisa menahan diri lagi, dia langsung mencium bibir Alisha membuat gadis itu membeku seketika.
Ciuman pertamaku. Kenapa dia menciumku seenaknya? Apa ini caranya supaya aku berhenti berbicara karena dia tidak mau aku menuntut perceraian lagi?
__ADS_1
Dalam keadaan Alisha yang demam ringan, Rafael menyesap bibir bawah gadis itu, membuat Alisha secara refleks mendorong tubuh Rafael hingga ciuman mereka terlepas.
"Mas, kenapa ...."
Rafael kembali mencium bibir Alisha, kali ini lebih lembut dari sebelumnya. Hanya saja, tangannya Rafael menahan gerakan tangan Alisha sehingga gadis itu tidak bisa mendorongnya lagi.
Ternyata memang benar-benar manis. Aku tidak mengerti kenapa aku tidak bisa menahannya. Apakah karena ini ciuman pertama kami?
Rafael seperti menggila, dia terus merasakan bibir Alisha, bahkan lidahnya mulai bergerak memasuki mulut wanitanya. Sementara itu, Alisha yang tidak pernah berciuman, apalagi dia tidak rela dengan ciuman itu, justru hanya diam tak membalas. Namun, dalam diam itu, dia menikmati apa yang suaminya lakukan.
Karena kehabisan napas, Rafael pun melepaskan ciuman mereka. Lalu, dengan napas yang memburu dia berkata, "Kalau kamu tidak mau dia dipecat, bagaimana kalau kamu menggantinya dengan menyenangkanku?"
Ho, mau nggak kira-kira.
__ADS_1