
Meski Rafael tidak lagi bekerja di perusahaan Hartono, tetapi sebenarnya dia masih memantau keadaan perusahaan itu karena dia memiliki beberapa saham di sana.
“Rafa, kalau papa bangkrut, mana mungkin kamu bisa tenang begini. Kamu pasti tidak akan tinggal diam saja, ‘kan?”
“Papa benar, Rafa, sebenarnya, kita ke sini mau bicarakan soal kalian berdua,” sahut Syana. Sebagai istri yang sudah mendampingi Arya selama puluhan tahun, Syana sangat tahu seperti apa watak suaminya. Laki-laki itu sangat sulit untuk berterus terang soal perasaannya.
Rafael melirik istrinya, khawatir. Apa lagi yang mama papanya itu inginkan sekarang. “Aku sama Alisha kenapa, Ma? Papa sama Mama tidak usah sibuk-sibuk mengurusi masalah rumah tangga kami.”
“Bukan begitu, Rafael. Mama sama Papa ingin menikahkan kalian. Kami ingin mengadakan pesta untuk kalian. Kalian mau, ‘kan?”
Mungkinkah ini pertanda baik bahwa kedua orang tuanya sudah merestui pernikahan mereka. "Papa sama Mama serius? Papa udah menerima Alisha?" tanya Rafael masih ragu. Meskipun ini kabar baik, tapi Rafael ingin memastikan kebenaran itu.
Arya mengangguk. Dia sudah melihat sendiri kegigihan putranya dalam mempertahankan rumah tangga. Rafael juga terbukti sangat mencintai Alisha dan hidup bahagia bersama wanita cantik itu.
"Papa merestui kalian. Papa juga berharap, kalian bisa hidup bahagia."
__ADS_1
Rafael kembali menatap istrinya. Senyum cerah terbit di wajah cantik yang hampir setahun ini menemani hidupnya.
Berawal dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Alisha, rasa cinta Rafael pada wanita itu kini semakin dalam dan terasa lengkap. Apalagi, semua sudah merestui pernikahan mereka.
"Kamu mau, Al?" tanya Rafael.
Alisha membalas tatapan suaminya. Dia tersenyum malu-malu, lalu menjawab, "Terserah Mas Rafa aja."
"Oke, kalau begitu. Terserah Papa sama Mama aja," putus Rafael kemudian.
"Iya, Ma," jawab Alisha senang.
"Kalau begitu, kamu bisa kembali ke perusahaan, 'kan? Papa sudah tua, sudah saatnya kalian membagi dua perusahaan kita." Arya mengambil cangkir berisi teh di hadapannya.
Membicarakan hal-hal berat memang akan lebih baik jika ditemani teh hangat seperti ini.
__ADS_1
"Aku ingin fokus sama perusahaan Alisha, Pa. Banyak inovasi produk yang patut dikembangkan. Aku ingin membjat perusahaan milik mendiang mertuaku itu semakin maju," jawab Rafael.
"Kita bisa gunakan nama Hartono untuk membuatnya semakin maju, Rafa ...."
"Laki-laki kalau sudah bicara soal bisnis pasti tidak ada habisnya. Oh iya, Alisha. Kamu suka arisan nggak? Mungkin kamu pernah diajak sama Mama kamu?" tanya Syana. Dia mulai bosan jika suaminya sudah membahas bisnis.
"Aku tidak pernah, Ma. Ibu aku sudah meninggal lama, jadi aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ikut ibu ke mana-mana," jawab Alisha.
Syana memasang raut sedih. Dia merasa kasihan dengan Alisha. Sebagai ibu dari dua anak laki-laki, sebenarnya Syana juga ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang putri.
"Jangan sedih, Alisha. Setelah ini, kita akan sering jalan bersama. Bagaimana kalau mama anggap kamu seperti putri mama, dan kamu anggap mama seperti ibu kandung kamu. Apa kamu mau?" tanya Syana dengan sedikit ragu.
Kesalahan fatal yang telah dia perbuat pada Alisha, membuat wanita itu ingin melakukan kebaikan yang sebanarnya pada menantunya itu.
Kembang kopinya jangan lupa gaes 💋
__ADS_1