Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 53


__ADS_3

Teriakan seorang laki-laki muda dari deretan pemegang saham membuat mata Ardiansyah Barka membulat sempurna. Dia sangat mengenal sosok laki-laki itu, dialah putra pertamanya dengan sang istri. Akan tetapi, bagaimana bisa putranya itu berada di antara para pemegang saham?


“Kevin!” Paman Ardi sangat syok hingga kakinya terasa lemas seakan tulang-tulangnya melunak.


Putra Paman Ardi itu lalu berjalan mendekati papanya dengan rasa malu sekaligus kecewa. Kenapa papanya tega melakukan perbuatan yang keji dan sangat memalukan itu?


Alisha masih menggendong anaknya Melinda. Karena khawatir dengan keselamatannya, Alisha membawanya pergi, sedangkan Rafael bersiaga untuk melindungi Melinda.


“Kevin, dia bohong. Papa enggak seperti itu,” kata Paman Ardi saat putranya sudah naik podium.


Kehancuran keluarganya sudah ada di depan mata, membuat kepala seorang Ardi terasa seperti mau meledak. Anak laki-lakinya adalah kebanggan, jika anak itu membenci ayahnya, maka semuanya lebih dari hancur.


“Aku tidak menyangka Papa melakukan perbuatan seperti itu. Apa Papa tidak takut hal seperti itu menimpa Mama atau anak perempuan Papa?” tanya Kevin dengan nada berteriak. Dia sangat kecewa dengan sang ayah yang telah menghancurkan kepercayaannya.


Ayah yang selama ini dianggap sosok baik dan penyayang, nyatanya tak lebih dari seorang laki-laki beejat dan gila harta.


“Percaya sama Papa, Kevin. Wanita ini penipu. Jangan percaya mereka,” kata Paman Ardi yang masih mengelak atas perbuatannya.


“Pa, bukti sudah di depan mata dan Papa masih mengelak.” Kevin membuka lebar-lebar kelopak matanya yang berusaha menahan bola matanya supaya tidak keluar.


“Kevin, kamu lebih percaya dengan orang lain daripada papa yang membesarkanmu. Melakukan segala hal untuk kebahagiaan dan masa depanmu. Kamu lebih percaya mereka?”


“Aku lebih percaya dengan bukti nyata yang kulihat dengan mata kepalaku, Pa.”


Perdebatan sengit antara seorang anak yang kecewa dan seorang ayah yang telah terbongkar kebusukannya itu tidak bisa terelakkan lagi. Paman Ardi harus menyerah dengan putranya yang sudah terlanjur kecewa dan Kevin yang tidak sanggup lagi menahan malu sekaligus kecewa, akhirnya berjalan keluar.


Namun, ternyata istri Paman Ardi juga ada di pintu, mendengar semua perdebatan putra dan suaminya. Dia memilih untuk pergi dengan putranya sambil menangis kecewa. Lengkap sudah titik hancur dari Paman Ardi.


“Semua gara-gara kamu, aku tidak akan membiarkanmu hidup.” Paman Ardi berusaha menyerang Melinda yang tertunduk karena rasa bersalah, tapi Rafael dengan cepat menahan serangannya.


“Ini adalah hukuman atas semua perbuatan dosamu,” kata Rafael sebelum akhirnya menghajar Paman Ardi.


Jiwa arogan dari seorang Rafael akhirnya kembali keluar karena emosi dan rasa kesalnya pada paman istrinya.


“Aku juga tidak akan membiarkan istriku menderita,” kata seorang laki-laki yang tengah berdiri di deretan para pemegang saham.


Suasana semakin mencekam karena laki-laki itu ada di sana dan mendengarkan semua sejak awal. Ya, Alisha dan Rafael memang berhasil membawa laki-laki itu karena dia berhak tahu semua kebenarannya. Walau bagaimanapun saat kejadian itu terjadi Melinda adalah istrinya.


Melinda membeku melihat mantan suaminya yang juga berada di tempat ini. Berarti dia sudah tahu semuanya mengenai hubungannya dengan Paman Ardi, tapi itu tidak penting lagi karena sekarang mereka bukan suami istri.


“Ternyata kamu adalah pelakunya!” teriak mantan suami Melinda.


Alisha memberi kode pada Felix dan Ria untuk membubarkan para pemegang saham karena tidak ada lagi yang akan dimunculkan oleh mereka. Hingga akhirnya, para lemegamg saham itu harus keluar sebelum pertunjukan berakhir.


Kembali pada Paman Ardi. Setelah menerima pukulan dari Rafael, laki-laki itu juga menerima pukulan dari mantan suami Melinda yang paling dikecewakan oleh perbuatan kejinya itu. Hingga akhirnya, Paman Ardi hampir kehilangan kesadaran diri karena dihajar oleh mantan suami Melinda yang seperti preman.


“Sudah cukup. Dia bisa mati dan kita akan terkena masalah,” kata Rafael sambil menahan mantan suami Melinda agar tidak kembali menyerang.


Mantan suami Melinda itu akhirnya mengatur napasnya dan mendekati Melinda.

__ADS_1


“Maafkan aku. Aku sudah membuatmu kecewa,” kata Melinda sambil tertunduk.


Laki-laki itu langsung memeluknya tanpa kata-kata. Dari hati yang terdalam dia masih menyukai Melinda dan membuatnya sulit membuka hati setelah perceraian.


“Aku sudah memaafkanmu. Aku tahu, kamu tidak mau jujur karena kamu takut sama aku, ‘kan? Kamu ingin lepas dariku, Mel?” tanya laki-laki dengan tubuh tegap berotot itu.


“Aku menyesal setelah lepas darimu. Tapi, aku sadar, aku tidak pantas buatmu. Aku akan pergi bersama anakku, Rafael dan Alisha sudah berjanji akan mengirimku ke luar negeri dan menjamin hidup kami.” Melinda melepaskan pelukannya dari sang mantan suami.


Melihat suasana yang sudah aman, Alisha membawa kembali anak Melinda yang langsung minta gendong mamanya.


“Ciko. Ciko mau ‘kan pergi naik pesawat sama mama?” tanya Melinda sambil menahan tangisnya.


Sang putra yang tidak tahu apa pun itu hanya membalasnya dengan senyum dan menganggukkan kepala.


“Izinkan aku menjadi papanya, Mel. Aku akan berubah untuk kamu, jangan pergi lagi, Mel.”


Kata-kata mantan suaminya itu membuat Melinda menatapnya tidak percaya. Benarkah yang dia dengar barusan? Laki-laki itu ingin dia kembali di hidupnya?


“Tidak ada orang yang sempurna, Mel. Aku pun juga bukan suami yang sempurna buat kamu. Kalau kamu bersedia, kita bisa hidup bersama memulainya dari awal dan aku bisa belajar menjadi seorang ayah yang baik untuk anakmu,” kata laki-laki itu lagi.


Alisha merapatkan tubuhnya pada Rafael saat melihat adegan manis yang ada di depannya itu dan Rafael langsung membalas dengan merangkul pundaknya.


“Terima aja, Mel. Anak kamu juga butuh sosok ayah,” kata Alisha memberi pendapat.


Melinda menoleh pada Alisha lalu menatap putranya yang sejak lahir tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


“Bagaimana, Mel?”


“Ya, aku janji, Mel.” Laki-laki itu lalu mengulurkan tangannya untuk menggendong anak Melinda, dan ternyata bocah itu langsung bersedia. “Kamu mau ‘kan tinggal sama papa?” tanyanya pada putra Melinda.


“Papa?” Ciko merasa aneh dengan panggilan itu, karena panggilan itu mirip seperti itu tidak pernah diajarkan oleh Melinda.


“Ya, Papa. Ini Papa kamu, Ciko.” Mantan suami Melinda menciumi wajah Ciko karena dia sendiri merindukan sosok anak dalam hidupnya. Dia dan Melinda sempat lama menunggu kehadiran anak dan sekarang ada Ciko yang juga akan menjadi putranya.


“Papa,” panggil Ciko sambil tertawa lalu mencium pipi papa barunya.


“Terima kasih, Mas.” Melinda tidak bisa lagi menahan air matanya. Kebahagiaannya sudah ada di depan mata dan dia tidak akan menyia-nyiakan lagi keluarganya.


“Melihat kebahagiaan mereka, aku jadi kangen Shaka.” Rafael tiba-tiba berceletuk.


“Kalau begitu, ayo kita pulang, Mas.” Alisha juga merasakan hal yang sama dengan suaminya. Melihat Ciko membuatnya teringat Shaka yang hari ini memang tidak ikut ke kantor.


“Oh iya, Rafael. Terima kasih banyak sudah memaksaku datang. Sekarang aku mendapatkan kebahagiaan dan keluargaku lagi,” kata mantan suami Melinda.


“Ya, sama-sama. Senang juga bisa membantu kalian,” balas Rafael.


***


***

__ADS_1


***


Tanpa terasa, dua tahun berlalu dengan cepat. Shaka kini sudah berusia tiga tahun dan sedang aktif-aktifnya. Hobi makannya masih belum hilang sampai sekarang, tapi tingkahnya itu menjadi kebahagiaan terbesar untuk Rafael dan Alisha.


“Mommy, kapan selesai keljanya? Shaka lapal,” kata Shaka sambil memegangi perutnya, memelas.


“Sebentar lagi Daddy ke sini jemput kita buat makan siang, Sayang.” Alisha masih fokus dengan pekerjaannya, sementara di lantai kertas-kertas kosong sudah berserakan dengan gambar-gambar absurd dari Shaka. Dia sengaja mengunci putranya itu di ruangan kerja bersamanya dan membebaskannya melakukan banyak hal selama tidak mengganggu sang ibu.


“Tapi Shaka lapal Mommy. Kasihani Shaka,” kata Shaka tidak menyerah.


Alisha menatap bungkus-bungkus makanan yang berserakan. Mangkok yang tadi penuh dengan salad juga kini sudah tidak ada sisa. Shaka sudah menghabiskan banyak makanan tapi masih bilang lapar?


“Kita makan nasi habis ini, Shaka. Jangan bawel ya, tunggu Daddy sebentar lagi sampai.”


“Mommy nakal,” oceh Shaka yang kini memilih duduk di lantai, bersandar meja kerja mommynya dan menatap ke arah pintu, berharap sang ayah segera datang dan mengajaknya makan.


Tidak lama, terdengar suara pintu yang mencoba dibuka tapi gagal karena Alisha menguncinya. Wanita itu lalu melangkah dan membuka pintu dan ternyata Rafael yang datang.


“Daddy,” teriak Shaka sambil berlari menyambut daddynya.


“Hei, Sayang. Kamu bikin kekacauan lagi?” tanya Rafael setelah melihat ruang kerja istrinya yang mirip kapal pecah.


“Daddy, Shaka lapel,” kata Shaka yang tidak peduli dengan pertanyaan Rafael.


“Laper? Kamu selalu laper meskipun banyak makan. Tapi kenapa kamu enggak bisa gendut ya.”


“Udah yuk, Mas. Kita makan, biar dia enggak berisik lapeer-laper terus!” ajak Alisha yang kemudian menelepon bagian kebersihan untuk membereskan ruangannya.


“Ya, oke. Kita makan!” Rafael menggendong Shaka sambil merangkul pinggal istrinya saat mereka meninggalkan ruangan Alisha.


Tepat sebelum masuk ke lift, Ria mengejar mereka untuk mengatakan sesuatu.


“Bu, Al. Maaf, saya mau izin pulang setelah makan siang,” kata Ria yang membuat kening Alisha berkerut.


“Kenapa? Kamu sakit ya?” tanya Alisha khawatir.


“Em, tidak, Bu. Saya sedang ada keperluan untuk bertemh WO. Saya dan Felix akan segera menikah, makanya saya mau bertemu WO setelah ini,” jawab Ria.


“Menikah? Kok Felix enggak bilang apa-apa ya. Wah anak itu benar-benar.”


“Kami baru membicarakan tanggalnya kemarin kok Pak Rafael.”


“Ah, ya sudah enggak apa-apa. Kamu bisa pergi, Ria.” Alisha tahu Ria sedang merasa canggung dengan Rafael yang merupakan atasan calon suaminya. “Mas, jangan aneh-aneh ke Felix, mereka mau menikah loh.”


“Iya-iya, Sayang. Enggak kok.”


“Mommy, Daddy. Shaka lapel!”


__ADS_1


Bonus nih wkkkk part panjang plus mukanya Shaka 😄😄 Kembang kopinya jangan lupa💋💋


__ADS_2