
Alisha akhirnya muncul dan menghampiri Rafael setelah selesai dirias. Penampilannya yang semakin cantik membuat Rafael tidak rela membaginya dengan para tamu.
Laki-laki itu terus memasang wajah cemberut, hingga Alisha datang menghampirinya dengan bingung.
“Mas, kenapa sih? Aku jelek ya? Apa Mas enggak bahagia kita menikah?” tanya Alisha dengan wajah sedih.
Tentu saja, para tamu yang sudah menunggu mereka cukup lama, jadi ikut tegang setelah melihat ekspresi kedua pengantin itu. Mereka bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Rafael dan Alisha yang seharusnya bahagia.
Syana yang melihat ketegangan antara anak dan menantunya, ingin menghampiri mereka berdua, tapi tangan Alfaro berhasil mencegahnya.
“Kita lihat dulu aja, Ma. Kayaknya enggak mungkin kalau mereka beneran berantem.”
Syana hanya bisa menahan diri, benar kata Alfaro, mereka terlihat baik-baik saja dan selalu mesra, sepertinya tidak mungkin mereka akan bertengkar.
Rafael menatap Alisha dari atas sampai bawah. Memang tidak ada yang jelek karena semuanya cantik.
__ADS_1
“Kamu terlalu cantik untuk dipertontonkan, Al. Kalau saja bisa, sudah aku pakaikan topeng biar tidak ada yang melihat kecantikan kamu,” kata Rafael yang membuat ketegangan di antara para tamu itu hilang.
Mereka semua tersenyum bahagia, dan seakan ikut larut dalam kebahagiaan kedua pengantin.
“Mas, pulang aja yuk!” ajak Alisha yang merasa kesal.
“Jangan dong, nanti Tuan Hartono marah. Tapi, kamu benar-benar cantik, Al. Aku sedang membayangkan kalau kita punya anak perempuan dan punya wajah secantik kamu.” Rafael mengecup bibir Alisha di hadapan para tamu, lalu dia meminta Alisha untuk menggandeng tangannya.
“Mas, kamu memalukan banget sih, ini ‘kan di depan umum, di depan para tamu loh,” protes Alisha.
“Ya biarkan saja. Semua orang tahu kalau kita adalah raja dan ratu,” jawab Rafael tanpa malu.
Mereka akhirnya sampai di pelaminan. Dari tempat mereka sekarang, Alisha dan Rafael bisa melihat teman-temannya yang hadir memberikan restu dan ucapan bahagia mereka.
Pesta pun berlangsung dengan sangat meriah, meskipun Alisha merasa kurang lengkap karena tanpa kehadiran ayah ibunya, tapi setidaknya kehadiran Rafael yang selalu ada di sisinya membuat Alisha tetap bahagia.
__ADS_1
Hingga akhirnya, mereka pun selesai menikmati pesta dan kini pesta berdua saja untuk kedua pengantin. Rafael pun sudah tidak sabar ingin mengurung istrinya di kamar.
Namun, harapannya tidak seindah kenyataan. Saat sampai di kamar hotel, tempat tidur mereka sudah dipenuhi tumpukan kado yang cukup mengganggu.
“Ini siapa sih yang kasih kado di sini?” tanya Rafael kesal. Dia sudah ingin menikmati irisan kiwinya, tapi harus terganggu oleh kado-kado itu.
“Mas, aku buka kadonya dulu ya,” izin Alisha tanpa melihat wajah kesal suaminya. Dia sudah terlalu bahagia karena mendapat banyak kado yang entah dari mana saja.
“Sayang, besok aja ya. Hari ini kita lagi bahagia loh, kita nikmati malam ini buat naga sakti ya, Sayang.” Rafael mendekat dan memeluk Alisha yang mulai meraih satu kotak kado berukuran cukup besar.
“Mas, aku tuh jarang dapat kado gini. Naga sakti ‘kan udah sering dapat jatah. Kita ini bukan pengantin baru loh, Mas.”
Alisha tetap melanjutkan kegiatannya membuka kado dan mengabaikan suaminya yang sudah mulai melepas pakaiannya sendiri.
“Biarpun kita buka pengantin baru, tapi kata Bara, selagi ada kesempatan berdua manfaatkan saja. Kalau sudah punya anak pasti susah.
__ADS_1
Siap honeymoon.. kira-kira mereka ke mana ya 😚😚😚