Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 14


__ADS_3

Ruang pemeriksaan di sebuah rumah sakit swasta menjadi saksi kabar bahagia yang disampaikan oleh dokter. Pasalnya, Anna saat ini juga tengah mengandung buah cintanya yang pertama bersama Alfaro. Semua seperti keberuntungan yang datang beruntun bagi Alfaro.


Bisa menikah dengan Anna merupakan pencapaian terbesar untuk kakak Rafael itu dan kini, di rahim Anna dltengah bersemayam bibit unggul yang dia tanam setiap akhir pekan selama satu bulan ini.


“Aku masih tidak percaya, ada dia di rahim kamu, Ann,” kata Alfaro sambil mencium kedua tangan Anna penuh sayang.


Anna sebenarnya juga masih tidak menyangka, tapi dia masih sadar diri saat ini masih di ruangan dokter karena baru selesai pemeriksaan. Rasanya tingkah Alfaro sungguh memalukan.


“Kak, aku malu,” protes Anna sambil melirik suster dan dokter yang merawatnya.


“Ya biarin aja, aku terlalu bahagia, Anna. Pokoknya kamu biar dirawat dulu sampai benar-benar sehat, baru kamu bisa aktivitas normal lagi,” kata Alfaro yang mulai posesif pada istri dan calon anaknya.


“Terus kerjaan aku gimana, Kak?” keluh Anna yang tidak rela meninggalkan pekerjaannya untuk beristirahat.


“Besok aku bantuin, yang penting sekarang kamu sehat dulu, biar anak kita juga sehat,” jawab Alfaro.

__ADS_1


Mau tidak mau, Anna pun pasrah dan menurut dengan keinginan suaminya. Memang dia butuh istirahat untuk anaknya juga, karena sekarang bukan hanya dirinya sendiri yang harus dipikirkan, tapi juga calon anaknya bersama Alfaro.


*


*


*


Rafael mengalami mual yang luar biasa pagi ini. Namun, saat Alisha mendekat dan memeluknya, rasa mual itu perlahan hilang. Aneh memang, tapi itu benar dirasakan oleh laki-laki itu. Sampai-sampai Alisha mengomel karena berpikir Rafael hanya mengada-ngada saja.


“Mas, udah deh, jangan alasan aja. Aku enggak mau ikut ke kantor ya, karena aku juga masih banyak kerjaan di kantor juga,” kata Alisha. Dia berjalan meninggalkan suaminya di kamar setelah minta dimanja-manja.


“Hem, ya terserah Mas Rafa aja, selama babynya sehat, aku masih akan tetap kerja ya, Mas. Kasihan juga Ria sendirian,” izin Alisha.


“Baby siapa, Sayang?” Syana tiba-tiba muncul dengan membawakan salad buah kesukaan Rafael. Wanita itu datang bersama suaminya untuk membicarakan sesuatu dengan Rafael.

__ADS_1


“Mama. Aku ... aku hamil, Ma.” Alisha tampak malu-malu. Dia dan suaminya memang belum memberi tahu Syana mengenai kehamilannya kali ini.


“Hamil!? Kok barengan sama Anna,” kata Mama Syana yang langsung memeluk Alisha untuk mengucapkan selamat. “Wah, cucu mama mau balapan kayaknya, selamat ya Sayang, sehat dan lancar sampai lahiran.” Mama Syana mengusap lembut perut Alisha.


“Anna juga hamil, Ma?” tanya Rafael yang juga baru mendengar kabar kehamilan istri kakaknya itu. “Aku pikir aku yang duluan, ternyata Kak Al tokcer juga ya.”


“Makanya, El, kamu bisa gantikan kakakmu sementara, ‘kan? Dia harus bantu mengurus perusahaan istrinya dan kantor pusat akan kosong. Nanti papa akan gantikan kamu di sini,” kata Arya Hartono.


“Aduh, kayaknya aku enggak bisa, Pa. Alisha juga hamil, dan aku enggak mungkin ninggalin dia sendiri di rumah, apalagi kalau bawa dia malah enggak mungkin.”


“Mama sama Papa yang akan jaga istri kamu, cuma sebentar sampai masalahnya Anna selesai, El.”


“Masalahnya aku bisa mual-mual terus kalau jauh dari Alisha, Pa.”


***

__ADS_1


Wes repot ya, Pa... Papa aja lah yang ke sana 🥲🥲


Kembang kopinya awas lupa 🥰


__ADS_2