Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 106


__ADS_3

Alisha dan Rafael kini memeriksakan keadaan Alisha pada dokter kandungan. Namun, bukan kabar baik yang mereka dapatkan, melainkan hanya gangguan siklus mensstruasi yang sangat wajar terjadi pada wanita yang pernah mengalami keguguran.


“Jangan berkecil hati, kita masih bisa berusaha kok. Lagi pula, kita ‘kan mau bulan madu, Al. Kalau kamu hamil, aku akan membatalkan semuanya. Kita batal bulan madu,” kata Rafael mencoba menenangkan perasaan istrinya.


“Aku sedih saja, Mas. Aku takut kalau aku tidak bisa hamil,” ucap Alisha yang sangat mengharapkan kehamilan untuk membahagiakan suaminya.


“Al, aku masih mau pacaran dulu, tidak masalah kita punya anak kapan. Begini saja, kalau dua tahun kamu belum hamil, kita program bayi tabung. Jangan jadi beban, Al.” Rafael memeluk Alisha yang sangat sedih karena terlalu berharap bisa secepatnya hamil.


Tanpa terasa, air mata meluncur begitu saja di pipi Alisha. Memang benar yang orang katakan, jika kita terlalu berharap, maka kita akan sangat terluka jika harapan kita gagal. Jadi, bersikaplah sewajarnya karena belum tentu yang sangat kita harapkan itu akan menjadi kenyataan.


Pelukan Rafael semakin erat. Dia tahu istrinya sangat kecewa saat ini, karena tulah dia ingin menjadi tempat yang nyaman untuk istrinya.


“Aku ingin ke rumah Mama, boleh, Mas?” tanya Alisha sambil mengusap air matanya.


Kening Rafael pun berkerut. Dia tidak salah dengar ‘kan?


“Mas, aku ingin ke rumah Mama,” ulang Alisha. Dia menepuk pundak suaminya lalu mengecup pipi laki-laki itu. “Boleh, ‘kan?”


“Iya, iya Sayang. Kita ke rumah Mama, ya.” Rafael lalu menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.

__ADS_1


Rafael pikir, mungkin Alisha dan ibunya itu sudah memiliki kedekatan khusus. Mungkin, saat seperti ini, Alisha butuh nasehat dan dukungan dari seorang ibu.


***


***


Alisha dan Rafael akhirnya sampai di rumah orang tua Rafael. Syana langsung keluar menyambut anak dan menantunya begitu mendapat informasi bahwa mereka datang berkunjung.


“Ma.” Alisha langsung memeluk Syana dan kembali menangis.


“Kenapa, Sayang?” tanya Syana terkejut. Dia membalas pelukan menantunya yang entah menangisi apa.


Rafael menghela napas, lalu memilih duduk di sofa sambil menyalakan televisi.


“Kamu datang bulan?” tanya Syana, mengurai pelukan Alisha dan mengajak menantunya itu duduk di sofa.


Alisha menggeleng sedih. “Kita dari dokter, aku pikir aku hamil karena telat satu minggu, tapi ternyata enggak,” jawab Alisha.


Syana malah tersenyum dan menghapus air mata menantunya. “Enggak apa-apa, mungkin anak laki-laki mama belum tokcer, Sayang.” Dia mencoba memberi semangat pada Alisha yang terlihat sangat kecewa.

__ADS_1


Rafael langsung menoleh dan tidak terima dengan jawaban yang mamanya itu ucapkan.


“Mama kok meragukan aku sih. Alisha ‘kan belum hamil karena memang masih belum normal siklusnya, kenapa bawa-bawa aku?” tanya Rafael geram.


“Loh, yang membuat hamil ‘kan kamu. Asal usulnya itu dari kamu, kalau belum hamil juga ya, bukan salah Alisha, tapi salah kamu,” jawab Syana. Dia kembali mengusap punggung Alisha untuk memberikan rasa nyaman pada wanita itu.


“Sebenarnya aku anak Mama bukan sih?” tanya Rafael frustrasi. “Al, ke kamar yuk!”


“Aku mau sama Mama dulu, Mas.”


“Iya, kamu tu, Raf. Mau membuktikan sekarang?” Syana semakin menggoda putranya.


“Mentang-mentang sudah baikan, aku seperti anak tiri, Mama.” Rafael menyandarkan kepala di sofa lalu memejamkan mata.


“Jangan berkecil hati ya, Sayang. Kalian ‘kan mau resepsi, terus bulan madu. Sabar saja dulu, ya.”


**


I’m sory, sengaja bikin Alisha berharap dulu, biar dia tahu, Mama Syana udah sayang banget sama dia 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2