
Mobil yang membawa dua pasang pria dan wanita itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang menghadap ke pantai. Di sekitar rumah itu masih lumayan sepi dan hanya ada beberapa rumah saja yang menjadi tetangganya. Namun, tak jauh dari sana, sebuah hotel mewah dibangun khusus untuk memanjakan para wisatawan.
Alisha memasuki rumah yang telah disewa Rafael itu. Dia sangat antusias dengan rumah minimalis yang sederhana itu.
“Suasana pantai itu katanya bagus untuk memperbaiki mood kita loh, Al. Ya, aku harap setelah ini hidup kita juga akan membaik.” Rafael memeluk Alisha dari belakang. Dia tidak canggung melakukan hal itu karena Felix dan Ria sedang sibuk mengeluarkan barang-barang di mobil.
“Ya, aku juga berharap begitu, Mas. Kita nikmati saja apa yang kita miliki,” balas Alisha sembari mendaratkan ciuman di bibir Rafael. Setelah melakukan hal itu, Alisha berlalu dan melanjutkan langkahnya menuju ke salah satu kamar.
Rafael hanya tersenyum atas kecupan singkat itu. Dia ingin membalas Alisha karena belum puas dengan ciuman yang sangat singkat itu. Rafael berjalan cepat dan langsung membawa Alisha masuk ke kamar mereka.
Sementara itu, Felix dan Ria yang sedang membawa masuk barang-barang, hanya bisa melongo saat melihat gerakan cepat Rafael yang membawa Alisha ke kamar.
“Tuan Rafael ketemu pawangnya, jadi lebih hangat,” gumam Felix yang bisa didengar dengan jelas oleh Ria.
“Itu namanya kekuatan cinta. Yang tadinya buas bisa jadi jinak karena merasakan ketulusan cinta itu.”
__ADS_1
“Kalau begitu, apa kamu juga bisa menjinakkan aku seperti yang Nyonya Alisha lakukan untuk Tuan Rafa?” tanya Felix yang sengaja menggoda kekasihnya.
“Ih, apa sih. Mending beres-beresin koper sana!” Ria berjalan menuju kamar yang telah dipilihnya.
***
***
Suasana sore di tepi pantai ternyata lumayan ramai. Rafael mengajak Alisha untuk keluar jalan-jalan menikmati udara pantai di sore hari. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju tepi sambil terus memasang raut bahagia. Sepertinya cara Rafael membawa Alisha berlibur menjadi cara yang tepat untuk mengembalikan suasana hati istrinya itu.
“Mas, kenapa pilih pantai? Kenapa nggak pilih gunung?” tanya Alisha.
“Karena kalau pantai, nanti malam coba kamu dengar suara ombak. Pasti, keren sekali. Cuaca dan suasananya juga lebih cocok buat kita dan dua orang di belakang kita itu. Kalau di gunung, nanti malam kita pasti kedinginan. Dingin-dingin itu lebih cocok buat kasih makan Naga Sakti dengan Irisan Kiwi, tapi masalahnya, irisan kiwi masih terluka, belum bisa dimakan. Nanti malah bikin Naga Sakti tersiksa, terus dua orang di belakang kita itu juga kasihan.”
Mendengar jawaban Rafael, Alisha justru tertawa cekikan. Dia bisa membayangkan ekspresi Felix dan Ria jika mereka pamer kemesraan di cuaca yang begitu dingin.
__ADS_1
“Kalau begitu, kapan-kapan kita harus pergi ke pegunungan untuk merasakan sensasi dinginnya, Mas."
"Hem, kamu lagi bayangin kemesraan kita di cuaca dingin ya," goda Rafael.
Wanita berambut panjang itu bersemu karena ulah suaminya. Satu hal yang Alisha syukuri, Rafael selalu bisa membuatnya bahagia seperti saat ini.
"Mas, ayo kita main air pantai." Alisha berjalan cepat menuju air pantai yang berjarak beberapa langkah dari tempatnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Al."
Sementara itu, di waktu yang sama tetapi tempat berbeda, seorang pria sedang memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Di hadapannya ada cukup banyak pekerjaan yang terbengkalai padahal ini adalah hari libur.
"Beberapa pabrik kita mengalami penurunan omset, Tuan. Juga beberapa sektor mengalami masalah dengan produk-produk baru. Semua sudah dirancang oleh Tuan Rafael, tapi setelah kepergiannya, kita ...."
"Ya, saya tahu dan biarkan saja. Dia lebih suka berjualan kosmetik dari bisnis perusahaan keluarganya. Kita awasi saja, sampai kapan dia bisa bertahan."
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa ya..💋💋💋