Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Bonus 5


__ADS_3

Alisha sibuk menyiapkan makan malam bersama para pelayan. Anak-anaknya memiliki selera yang berbeda sehingga dia dan para pelayan harus menyiapkan banyak makanan, terutama Shaka yang menu makanannya paling banyak di antara semua orang.


“Mommy, aku pulang,” kata putra sulung Alisha dan Rafael itu.


“Shaka, kenapa lesu gitu mukanya, Sayang?” tanya Alisha saat melihat kesedihan di wajah sang putra.


“Kak Bia mau lanjutin S2 di Perancis, Mom. Katanya mau sekalian belajar modeling sama sepupunya. Aku bakalan jadi sadboy, Mom,” jawab Shaka sembari mencomot satu buah bakwan jagung yang tersedia di meja.


Meski dia sudah terbilang dewasa, tapi saat di rumah apalagi bersama ibunya, dia akan menjadi anak kesayangan yang banyak makan.


“Shaka mandi dulu dong, baru makan!” Alisha memukul dengan pelan punggung tangan anaknya itu. “Mana mau Bianca sama anak jorok kayak gini. Mandi dulu sana, biar harum, baru makan!”


“Mommy galak-galak gini kok Daddy mau sama Mommy sih. Kabur ....”


Shaka melarikan diri sambil membawa tiga biji bakwan jagung. Dia seolah lupa dengan rasa sakit hatinya pada Bianca yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.

__ADS_1


Memang, laki-laki itu sangat susah menahan diri atau pun menolak makanan yang ada di hadapannya. Ya, sekalipun dia sedang patah hati atau bahagia, porsi makannya akan sama saja. Shaka selalu banyak makan, tetapi tubuhnya tetap seeksi dan mengagumkan, meski tidak berotot seperti Satria.


“Shaka, kamu udah ambil empat ya, berarti nanti enggak boleh ambil bakwan lagi!” teriak Alisha saat Shaka secepat kilat sudah ada di ujung tangga lantai dua.


“Jatahnya Sky sama Daddy nanti buat aku, Mom,” balas laki-laki itu dengan sikapnya yang masih seperti anak kecil. Lucunya Shaka, hanya bersikap seperti itu pada ibunya, tetapi saat berhadapan dengan saudaranya yang lain, dia akan bersikap layaknya seorang kakak yang dewasa.


“Dasar anak manja. Sikapmu itu yang membuat kamu ditolak Bianca, Shaka,” gumam Alisha sembari mengulum senyum.


Rafael keluar dari kamar beberapa saat setelah putra bungsunya pulang. Laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu sudah terlihat segar karena baru selesai mandi. Tanpa berlama-lama, dia langsung turun menemui istrinya yang sibuk menyiapkan makan malam.


Seolah paham situasi, dengan tanggap para pelayan itu mengundurkan diri. Kebetulan juga makanan di meja sudah selesai dihidangkan di meja.


Bu Linda yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah Rafaellah yang membuat para pelayan itu patuh dan juga tanggap.


“Mas, kamu kebiasaan banget deh. Masih ada pelayan,” protes Alisha setelah menoleh pada suaminya.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum tidak tahu malu. “Biarkan saja. Mereka sudah pergi kok,” balasnya sambil membalikkan tubuh Alisha.


“Nanti dilihat anak-anak ‘kan malu, Mas.” Wajah Alisha merona, antara malu dan bahagia saat Rafael merengkuh tubuhnya yang masih cukup kencang terawat.


“Biarkan saja. Sky sama Cloudia lagi cari kue, cuma Shaka aja ‘kan yang di rumah. Dia juga lagi mandi. Jadi, biarkan kita bermesraan seperti ini,” kata Rafael yang tidak peduli dengan tempat mereka saat ini.


“Mas, Naga Sakti sepertinya mulai bangun,” kata Alisha saat merasakan sesuatu yang menyentuh perutnya.


“Dia mana bisa tidur kalau sama kamu, Sayang.” Rafael semakin mengeratkan pelukannya. Kebangkitan Naga Sakti membuatnya semakin aktif bergerak menjelajahi tubuh Alisha.


“Mas, jangan sekarang.”


“Mommy sama Daddy mesra banget,” kata Cloudia yang baru datang bersama saudara kembarnya.


Kembang kopinya dulu, bentar lagi aku up again 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2