
Alisha sangat syok saat mendengar kabar bahwa Anna dan Alfaro mengalami kecelakaan parah dan saat ini sedang berjuang untuk bisa selamat. Air matanya luruh begitu saja saat melihat bayi kecil yang diletakkan di tempat tidur khusus itu sedang menggeliat lalu menangis.
Naluri Alisha sebagai ibu membuatnya memaksa bangun dan ingin memeluk bayi itu. Tangannya terulur dan dengan sigap suster memindahkan bayi Anna ke dalam pelukan Alisha.
“Sayang, kamu pasti takut ya, jangan menangis. Aku juga mommymu, Sayang.” Alisha mengusap mendekap bayi itu yang kemudian terdiam setelah mendengar suara detak jantung Alisha. Mungkin, dia pikir itu adalah suara detak jantung ibunya saat dia berada dalam kandungan Anna.
“Anak ganteng, ini Daddy El. Kamu jangan takut ya, Mommy sama daddy akan jagain kamu sampai mommy Anna dan Daddy Al sembuh.” Rafael ikut mengusap kepala bayi Anna.
“Mama takut Al dan Anna kenapa-kenapa. Bagaimana kalau mereka tidak selamat?” Mama Syana ikut memeluk Alisha dan menumpahkan ketakutan terbesarnya setelah tahu putra dan menantunya kecelakaan.
“Mereka pasti akan baik-baik saja, Ma. Papa sudah mendatangkan dokter dan peralatan dari Singapura, mereka pasti tertolong.” Papa Arya yang juga datang bersama Mama Syana ikut mengusap punggung istrinya.
Semua orang sedang bersedih saat ini, padahal Alisha dan Anna baru saja melahirkan bayi-bayi tampan yang seharusnya disambut dengan bahagia. Namun, kebahagiaan itu terkikis dengan kesedihan yang mereka rasakan saat menunggu kesadaran Anna dan Alfaro.
Rafael berjanji akan menjaga anak kakaknya dengan sangat seperti janji mereka. Alisha pun mengajari bayi kakaknya iparnya itu untuk mencari sumber makanan di dadanya. Meski air susu itu belum keluar dengan lancar, setidaknya bayi itu bisa belajar minum ASI.
Beberapa saat berlalu, bayi Alisha sudah dibawa ke ruangannya. Alisha bergantian menyu.sui bayinya dan bayi Anna. Meski keadaannya sangat kacau, tapi demi dua bayi yang sangat membutuhkannya, Alisha berusaha mengontrol emosi dan pikirannya.
__ADS_1
“Sayang, kamu sama mama aja enggak apa-apa ya, aku sama Papa mau nunggu di depan ruang operasi semoga saja operasinya segera selesai.” Rafael memeluk Alisha yang baru selesai memberi makan kedua bayi yang kini tertidur di ranjangnya masing-masing.
“Iya, Mas. Cepat kabari kalau ada apa-apa,” kata Alisha.
Rafael dan Papa Arya menunggu dengan cemas operasi Alfaro dan Anna yang masih berlangsung. Dokter yang mereka datangkan dari Singapura juga sudah datang.
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka, dokter keluar dan mengatakan bahwa Alfaro sudah selesai operasi, saat ini mereka menunggu laki-laki itu melewati masa kritisnya dan Alfaro akan dibawa ke ruang ICU untuk observasi.
“Sekarang kita masih harus menunggu Anna. Tapi, menurut Papa apa kecelakaan ini disengaja?” gumam Rafael sembari melirik jam di tangannya. Orang tua Anna mungkin akan tiba dalam beberapa jam lagi.
“Papa sudah mengirim orang untuk menyelidiki ini. Kalau memang ini sengaja, siapa yang melakukannya? Tidak mungkin kalau selingkuhan mertuanya. Atau dari rival bisnis kita?”
**
**
Saat ini Alfaro dan Anna sudah berada di ruang ICU untuk mendapatkan pengawasan ketat setelah menjalani operasi yang sangat berisiko. Mommy Anna menangis di luar ruang ICU karena dokter membatasi kunjungan. Ada daddy Anna juga yang sama sedihnya.
__ADS_1
“Apa ini hukuman atas semua kesalahan daddy, Anna. Kenapa bukan daddy saja yang menderita. Kenapa harus kamu?” tanya daddy Anna sambil menghapus air matanya.
“Ini murni kecelakaan, sopir itu memang mengantuk karena sedang memaksakan bekerja demi anaknya,” sahut Papa Arya.
Daddy Anna semakin merasa bersalah, karena merasa musibah ini adalah hukuman atas semua dosa-dosanya.
Sementara di ruang Alisha, Rafael sedang menyaksikan dua bayi yang sedang tertidur pulas setelah mendapat ASI. Mereka sudah seperti bayi kembar karena lahir di waktu yang hampir bersamaan. Anna melahirkan lebih dulu, dan Alisha melahirkan sepuluh menit setelahnya.
“Al, kenapa anak kita sangat tampan dan menggemaskan?” tanya Rafael sembari menatap wajah putranya yang jauh lebih tampan darinya.
“Menurutmu, dia mirip siapa, Mas?” Alisha bertanya balik. Dia memperhatikan ekspresi suaminya yang terlihat sedih. Dia tahu, laki-laki itu pasti memikirkan bayi Anna yang ada di sebelah putranya.
“Sepertinya mirip aku, Al. Apa nanti kalau dia besar, akan mengejekku karena dia lebih tampan dariku?”
****
**
__ADS_1
Maybe kayak Biel yang bilang daddy Bara gantengnya nomel selibu. Belum kukasih nama babynya ya wkkkk, udah gak pada nangis kan 🤣🤣 mau nangis lagi gak 😂😂😂