Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 89


__ADS_3

Rafael mengikuti mobil Alisha yang telah meninggalkan rumah sakit. Meski sebenarnya dia ingin memaksa masuk ke mobil itu, tapi Felix berhasil meyakinkan Rafael untuk memberi sedikit waktu pada Alisha agar bisa berpikir jernih dulu. 


“Nyonya pasti masih tertekan Tuan. Mungkin Nyonya butuh waktu untuk berpikir,” kata Felix yang tengah menyetir di sebelah Rafael. 


“Tapi aku tidak rela kalau harus pisah rumah, Fel. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan Mama, tapi sekarang aku harus bisa meyakinkan Alisha supaya mengizinkan aku bersamanya,” balas Rafael. 


Felix mengangguk setuju. Walau bagaimanapun berpisah rumah dalam keadaan marah itu tidak baik. 


Sebagai seorang ibu yang baru saja kehilangan janin yang dikandungnya, Alisha tentu sangat kalut dan tertekan. Dia menyalahkan siapa pun yang menurutnya bersalah meskipun janin itu memang sudah tidak sehat sebenarnya. 


Alisha pulang ke rumahnya bersama Ria. Rumah peninggalan mendiang orang tuanya yang menjadi kenangan terakhir tentang ayah dan ibu yang sangat dicinta. 


Langkah Alisha harus terhenti saat mobil Rafael yang dikemudikan oleh Felix tiba di pelataran rumah saat ia baru menapaki tangga teras. Dengan hati yang masih diselimuti kecewa dan luka, Alisha mengabaikan suaminya yang datang. 


Wanita itu terus berjalan memasuki rumah yang masih sangat terawat. Meski hampir enam bulan ini tidak ia tinggali. 


Seorang pelayan tua datang menyambut kedatangan Alisha di rumah itu. Namanya Bi Imah. Wanita yang masih dipertahankan oleh Rafael sejak kematian ayah Alisha. 

__ADS_1


“Bi Imah, tolong siapkan kamar untuk saya dan Ria ya!” titah Alisha pada Bi Imah. 


Sang pelayan mengangguk patuh dan mulai mengerjakan apa yang diperintahkan. 


Sambil menunggu Bi Imah selesai menyiapkan kamar, Alisha menyuruh Ria untuk menunggu Bi Imah di ruang keluarga. Sementara itu, Rafael menyuruh Felix untuk duduk di sebelah Ria sedangkan dirinya duduk di samping Alisha. 


“Asisten Felix, tolong antar Mas Rafael pulang. Aku akan menginap di sini untuk sementara,” kata Alisha yang sedikit menggeser duduknya. 


“Aku akan tidur di sini juga, Alisha. Di sofa kamar kamu juga tidak masalah kok. Aku masih suami kamu, kesehatan kamu belum stabil dan aku harus menjaga kamu sebagai tanggung jawab aku.” 


“Aku butuh waktu sendiri, Mas. Aku tidak–” Alisha urung melanjutkan bicaranya karena sadar ada Ria dan Felix yang tidak sepatutnya tahu masalahnya sekarang, meski dua orang itu tentu sangat paham apa yang terjadi pada keduanya. 


Rafael tahu Alisha sedang tidak ingin berdebat di hadapan dua orang asing dalam rumah tangga mereka. Dia berinisiatif untuk menggendong Aisha dan membawanya ke kamar. Kamar yang tadi dimasuki oleh Bi Imah, itu pasti kamar Alisha, pikir Rafael. 


Alisha meronta karena tindakan suaminya itu. Namun, sikap Rafael yang seolah tuli membuat wanita itu pasrah ke mana pun Rafael membawanya. 


“Loh, Non Alisha. Saya baru selesai bersih-bersihnya,” kata Bi Imah yang bingung sekaligus khawatir saat melihat Alisha digendong Rafael. 

__ADS_1


“Bibi tolong keluar dulu ya, kami mau bicara penting.” 


Bi Imah menurut dan akhirnya keluar kamar Alisha. Lalu, Rafael menurunkan Alisha di sofa kamar dan mereka mulai bicara. 


“Al, aku juga sangat sedih karena kehilangan anak kita. Tapi, aku akan lebih sedih lagi kalau aku kehilangan kamu, Al.” Rafael memeluk tubuh Alisha dengan sangat erat. 


“Selama Mama tidak merestui kita, selama itu juga kita akan begini, Mas. Aku tidak mau mengorbankan anak-anak yang lain hanya karena kebencian Mama padaku.” 


“Aku akan membalas perbuatan Mama yang mengabaikanmu saat kesakitan, Al. Aku janji, tidak peduli walau dia mamaku. Sekarang, jangan pikirkan anak lagi. Aku cuma mau kamu di sisiku. Dengan atau tanpa anak, aku akan tetap mencintai kamu, Al. Jangan berpikir untuk bercerai lagi.” 


Rafael menangis dalam pelukan itu. Karena merasakan kesedihan Rafael yang teramat menyakitkan, Alisha membalas pelukan itu dan menangis bersamanya. 


Kembang kopinya jangan lupa ya gaes. 


Mungkin akan sedikit panjang karena konfliknya biar bener terasa ya. Pasti ada beberapa yang bilang, konflik tidak berkesudahan. Menurutku sangat tidak masuk akal kalau orang tiba-tiba berubah tanpa adanya proses, dan yang namanya proses itu cukup menyita waktu, tidak ujug² tobat. Jadi, bersabarlah ya gaess kalau mengharap ending yang sesuai wkkkk


Othor masih sayang Mas Rafa 💋

__ADS_1


__ADS_2