
Satria dan kedua orang tuanya sudah kembali ke Singapura. Mereka terbiasa pergi bolak-balik sesuka hati karena jaraknya memang lumayan dekat.
Saat ini, Shaka dan Alisha sedang sibuk mencari kado untuk Bianca, anak kedua dari Bara dan Sheina. Shaka dan kedua orang tuanya diundang untuk hadir ke acara ulang tahun Bianca.
Karena sangat menyukai acara pesta, Shaka sudah tidak sabar ingin menghadirinya. Dia ingin memilih sendiri kado apa yang cocok untuk Bianca. Tidak hanya kado untuk Bianca, ternyata Shaka juga membeli banyak mainan untuk dirinya sendiri.
“Shaka, udah ya. Stop mainannya, di rumah udah banyak banget loh,” kata Alisha yang sudah lelah berkeliling mal, meski pengasuh Shaka jauh lebih sibuk tetap saja kondisi Alisha yang sedang hamil anak kembar membuatnya semakin gampang kelelahan.
“Satu lagi ya, Mommy,” balas bocah itu tak mau kalah.
“Kalau gitu kita gak jadi beli mamam,” sahut Alisha yang tidak kehilangan akal.
Mendengar penawaran mommynya mengenai makanan, Shaka jadi bimbang. Di satu sisi dia ingin sekali robot-robotan yang saat ini dipegangnya, tapi di sisi lain dia juga tidak mau kehilangan jatah makannya.
“Mommy, Shaka cuma mau ini, sama ini, sama ini aja. Kasih Shaka mamam ya, Mommy,” pintanya dengan wajah sedih. Dia menatap mainan-mainannya itu dengan berat hati.
“Enggak bisa, Sayang. Kalau Shaka ambil semua, besok Mommy enggak kasih makanan sama sekali. Shaka cuma boleh ambil satu aja enggak boleh lebih!”
Alisha sama sekali tidak tersentuh dengan wajah Shaka yang memelas. Bukan karena pelit, tetapi karena Shaka memang suka membeli mainan hanya untuk pajangan. Kalau sudah bosan, pasti akan dilupakan begitu saja.
Mendengar ancaman Alisha, mau tidak mau Shaka harus memilih satu dari sekian mainan yang tadi sudah dipilihnya.
“Maaf ya, Lobot. Nanti aku beli kamu sama Daddy aja. Aku masih mau mamam. Aku enggak bisa tahan lapel, nanti aku balik ke sini jemput kamu ya,” kata Shaka sambil memeluk mainan robot-robotan yang tidak jadi dibeli. Dia sedang melakukan drama perpisahan dengan mainan yang belum dibayar itu, daripada besok harus menahan lapar.
Alisha menahan tawanya melihat tingkah Shaka yang lebih memilih makanan ketimbang mainannya.
__ADS_1
Satu per satu dia pamiti dengan sedih. Dia membuat janji akan kembali bersama sang ayah karena Rafael tidak mungkin melarangnya seperti Alisha.
“Mommy udah,” kata Shaka sambil memeluk erat mobil mainan yang menjadi pilihan utamanya.
“Oke, sekarang kita makan!”
***
***
Saat ini, Alisha bersama Shaka dan Rafael sudah sampai di rumah Bara dan Sheina. Tampaknya pesta belum dimulai tapi sudah banyak orang yang datang untuk memeriahkan ulang tahun Bianca yang keenam.
“Shaka kasih selamat sama kadonya ke Kak Bia,” kata Alisha sambil menuntun Shaka dengan perutnya yang buncit.
“Selamat ulang tahun Kak Bia,” kata Shaka sambil mengukurkan kadonya.
Bianca lalu merangkul pundak Shaka dan mengajaknya duduk sambil menunggu acara. Sementara Alisha dan Rafael masih kebingungan karena belum melihat Bara dan Sheina.
“Wah Tuan Rafael datang ya,” sapa Mondy yang juga baru datang walau rumahnya ada di depan rumah Bara.
“Oh iya, Tuan Mondy.”
Rafael mengenal Mondy dari Bara, dia sangat tahu bahwa Mondy adalah musuh bebuyutan Bara sejak SMA yang pada akhirnya menjadi saudara iparnya karena Mondy menikah dengan adik tiri Sheina.
“Oh istrinya juga hamil? Kok bisa barengan sama istrinya si Barakokok, janjian ya?” tanya Mondy yang masih menggandeng putri cantiknya.
__ADS_1
“Oh, tidak ada janjian sih. Ya, entahlah,” jawab Rafael bingung.
Tepat pada saat itu, Bara keluar dan langsung menyuruh Alisha untuk masuk bergabung dengan Sheina yang masih menyiapkan makanan bersama mertuanya.
Kini, tiga laki-laki itu mengobrol di depan rumah Bara sambil menunggu acaranya di mulai.
“Bar, tadi aku tanya sama Tuan Rafael, kok bisa barengan sih hamilnya sama Sheina, sama-sama udah gede perutnya,” kata Mondy.
“Kalau dilihat-lihat emang perut istri kamu udah kayak Sheina yang hamil tujuh bulan sih, perasaan waktu ketemu terakhir itu belum hamil deh,” sahut Bara yang membenarkan praduga Mondy.
“Al baru hamil empat bulan kok, tapi emang anaknya kembar makanya segede gitu, kasihan juga sih lihatnya,” balas Rafael.
“Oh pantesan, kembar sih ya. Kasihan-kasihan tapi tega juga ya dibikin hamil, apalagi ini si Barakokok, udah tiga kali ini Sheina hamil, tega bener.” Mondy memandang sinis wajah iparnya yang dulu menjadi rival. “Ugal-ugalan banget, aku aja baru satu.”
“Habisnya sensasinya itu loh, Mon. Pas tahu hamil gitu kayak, yes berhasil nih, bibit berkualitas, enggak kayak kamu!” balas Bara.
“Masalahnya yang susah itu curi waktu biar enggak ketahuan sama kakaknya kalau kita lagi anu.”
“Nah, sama banget. Kapan hari juga si Shaka susah banget tidur padahal istriku lagi menggoda banget,” sahut Rafael yang memiliki keluhan yang sama dengan Mondy.
“Hem, kalian kurang canggih sih. Aku udah kenyang kalau soal sembunyi-sembunyi begitu. Apalagi Gabriel itu pinternya minta ampun, mana posesif banget sama Sheina.” Bara mengingat bagaimana sulitnya awal pernikahan, sampai dimusuhi Gabriel saat itu.
“Jangan cuma ngeledek, ada tips enggak?”
***
__ADS_1
***
Kembang kopinya dulu dong 🤣🤣