
Mama Syana dan Papa Arya sudah sampai di rumah sakit tempat mommy Anna dirawat. Melihat keadaan besannya yang sudah mulai membaik membuat ibu Alfaro itu merasa sedikit lega.
“Sayang, bagaimana kabar kamu?” tanya Mama Syana pada Anna, sedangkan suaminya menemani Alfaro berbincang.
“Baik, Ma. Cucu Mama juga sehat, kok,” jawab Anna.
“Kamu jangan banyak pikiran ya. Makan yang banyak biar anak kamu juga tetap sehat.” Mama Syana mengusap punggung Anna, prihatin.
Tubuh Anna sangat kurus, seolah berat badannya tidak bertambah sama sekali. Padahal, Alisha yang juga sama-sama hamil, tubuhnya terlihat sangat segar dan terawat. Mama Syana jadi khawatir dengan menantu sulungnya itu.
“Aku baik-baik saja kok, Ma. Mungkin karena mual muntah kemarin aku jadi kelihatan kurang sehat ya. Beda sama Alisha ya, Ma.” Anna menundukkan kepala. Dia sadar, nasibnya sangat berbeda jauh dari Alisha yang selama kehamilan selalu ditemani Rafael, sedangkan dia harus terpisah dari Alfaro.
“Ya memang beda, Sayang. Alisha ‘kan enggak mengalami mual-mual kayak kamu. Dia apa saja dimakan, kalau makan bisa dua porsi. Tengah malam pun dia suka makan.” Mama Syana terkekeh mengingat menantunya yang dulu sempat tidak direstuinya.
“Aku iri sama dia, Ma.”
__ADS_1
Mama Syana sangat mengerti apa yang saat ini Anna rasakan, tapi baginya, Anna jauh lebih beruntung dari Alisha.
“Kenapa iri, Sayang? Kamu itu jauh lebih beruntung dari Alisha. Kamu masih punya orang tua yang lengkap. Kamu bisa mengadu dan mengeluh apa pun masalah kamu sama mereka, coba kamu bayangkan Alisha. Dia hanya punya mertua yang dulu sempat berbuat tidak baik sama dia. Mama saja tidak tahu apa Alisha sudah percaya sepenuhnya sama mama atau belum.”
Mama Syana meraih tangan Anna dan menepuk punggung tangan itu dengan pelan.
“Kalau Alisha punya Rafael, kamu juga punya Alfaro yang juga sangat mencintai kamu, Anna. Asal kamu tahu, kalaupun kalian berada di tempat yang sama, mama tidak akan membedakan kasih sayang kalian. Kamu dan Alisha sama-sama anak mama,” kata Syana lalu memeluk Anna.
Melihat interaksi menantu dan mertua itu, Alfaro dan papanya sama-sama tersenyum kecil.
“Nanti acara tujuh bulanan, aku sama Anna akan pulang. Kita lihat saja siapa apa mereka akan bertengkar seperti dulu?” balas Alfaro.
“Istrinya Rafael lebih gemuk, Anna pasti akan kalah,” kata Papa Arya yang mulai menebak juaranya.
Alfaro kembali terkekeh dan mati-matian membela istrinya.
__ADS_1
***
Daddy Anna mengunjungi rumah sakit dan melihat kedua orang tua Alfaro yang datang mengunjungi mommy Anna. Mereka lalu berbincang santai dan membahas calon cucu mereka yang saat ini ada di kandungan Anna.
Namun, tiba-tiba Mama Syana keceplosan membicarakan Catherine yang memang sudah lama tidak terdengar kabarnya.
“Ma-maaf,” kata Mama Syana yang merasa bersalah karena membicarakan Catherine saat ada daddy Anna.
“Enggak apa-apa, Ma. Dia sudah diurus sama Kak Al kok,” sahut Anna menghilangkan kecanggungan mertuanya.
“Diurus? Maksudnya, Al?”
“Dia sedang dalam pengejaran polisi, Ma. Karena orang yang mengaku menabrak mommynya Anna itu orang bayaran dari Catherine. Sekarang dia tidak akan bisa lolos lagi, karena orang suruhan aku juga sedang mengejarnya,” jawab Alfaro.
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
__ADS_1