Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 51


__ADS_3

Tangan Alisha yang sibuk merapikan mejanya, tiba-tiba terdiam saat dekapan tangan kekar Rafael menyentuh perutnya. Laki-laki itu menyandarkan dagunya di bahu Alisha, lalu mulai mengendus dan menciumi leher Alisha. 


“Mas, jangan gini dong!” kata Alisha yang merasa risi dengan perlakukan suaminya karena mereka masih berada di kantor. 


“Kenapa emangnya? Bukankah kamu sudah selesai datang bulannya?” tanya Rafael yang sudah menunggu dengan penuh kesabaran selama satu minggu ini. 


“Iya, tapi ini di kantor, Mas. Aku masih punya rasa malu kalau sampai ada yang tahu kita itu di kantor,” jawab Alisha. Dia melepaskan tangan Rafael dari tubuhnya dan berbalik badan. 


“Main di kantor ‘kan seru juga, Al.” Rafael kini duduk dengan kesal. Naga saktinya sudah mulai bangun tapi sikap Alisha justru tidak mendukung. Ingin marah, tapi tidak bisa. Akhirnya, dia hanya bisa cemberut sambil memperhatikan buah pir yang terbungkus rapat itu dan membayangkan wujud aslinya. 


“Imajinasi dari mana sih, Mas? Jangan-jangan kamu pernah ya,” tuduh Alisha. 


“Pernah lihat saja, tapi tidak secara langsung, cuma dari video,” jawab Rafael. 


Alisha memicingkan mata. Tidak menyangka jika suaminya benar-benar maniak. 


“Kenapa lihatnya begitu? Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku cuma, cuma mempelajari berbagai gaya saja. Kamu yang pertama kenal dan merasakan naga sakti aku, Al. Cuma kamu.” 

__ADS_1


Alisha sudah selesai merapikan meja dan mematikan komputernya. Dia hanya tersenyum tipis dan melenggang begitu saja. 


“Al, tunggu dong!” Rafael yang tertinggal, akhirnya berlari mengejar sang istri dan menyusulnya untuk pulang. 


*** 


*** 


*** 


Rafael dan Alisha akhirnya makan malam bersama Bara dan Sheina yang membawa serta Gabriel bersama mereka. Mereka sengaja makan malam di tempat yang cukup jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Tepatnya di sebuah restoran outdoor yang menyediakan menu penyetan dengan tempat lesehan di saung-saung.


“Hai, Rafa, sory terlambat. Biasa punya dua anak ya gini, sedikit ribet,” sapa Bara yang datang bersama Sheina dan putra mereka Gabriel. 


“Wah, dua anak tapi yang dibawa cuma satu,” balas Rafael yang kemudian menyalami Bara dan Sheina. 


“Ya ceritanya panjang. Aku nggak nyangka loh kamu sudah nikah beneran,” kata Bara lalu berkenalan dengan Alisha sekaligus memperkenalkan Sheina dan Gabriel. 

__ADS_1


Mereka berbasa-basi sejenak sambil menunggu makanan mereka datang. 


“Serius deh, kenapa tidak ajak anak kamu yang perempuan?” tanya Rafael. Dia memperhatikan cara Bara memperlakukan Sheina dan ingin belajar dari pasangan yang menurutnya harmonis itu. 


“Dia di rumah mamaku. Biasalah aku kan anak tunggal, kalau nggak Gabriel ya Bianca yang mereka ambil alih karena mereka kesepian sebenarnya,” jawab Bara. 


Alisha mendengarkan dan memperhatikan Sheina yang membiarkan tangannya dimainkan Gabriel. 


“Enak dong kamu bisa proses terus tanpa gangguan,” ledek Rafael. Dia meraih tangan Alisha dan menggenggamnya. “Mereka tidak mempekerjakan pengasuh untuk anak-anak mereka,” bisik Rafael. 


“Oh. Sepertinya Sheina memang memiliki mertua yang baik, tidak sepertiku, Mas,” balas Alisha dengan berbisik pula. Dia tetap terlihat tenang dan tersenyum, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi sedih atau kecewa. 


“Kalau di rumah Mama sih oke saja, Raf. Kalau di rumah sendiri ya curi-curi waktulah. Makanya kalian manfaatin waktu sebaik mungkin dan nikmati itu selagi belum punya anak,” kata Bara yang malam ini terdengar sangat bijak. 


“Aku malah tidak sabar menunggu Alisha hamil.” 


Karena aku tidak mau dia pergi dariku. Aku ingin mengikatnya dengan anak sehingga tidak ada yang bisa mengambilnya dariku. 

__ADS_1


bab kehadiran Bara nanti agak lama gpp ya, mereka mau pamaer kemesraan juga. jadi sebelum kelarin melinda, aku kasih uwu² bentar. maaf ya gaess aku lagi sakit gigi jadi gak bisa update cepet²..


__ADS_2