
Reynal berada dibengkel menyelesaikan pekerjaannya, karena besok karyawan waktunya mendapat jatah bulanan, kini bengkel dan showroom menjadi satu bahkan Reynal dan Aldo akan mengembangkannya.
Reynal lalu membuka benda pipih didepannya mengecek apa yang terjadi dirumah sakit tidak ada perubahan sama sekali, dan beralih memantau sang istri lewat apk canggih yang ia pasang di ponsel sang istri, Reynal bernafas lega Dela dalam keadaan baik-baik saja, bahkan ia sempat menelpon Bunda bahwa Dela bersama sahabatnya.
^ Aku takut kamu kenapa-napa, aku takut kehilanganmu, aku berharap semua dugaan ku salah Sayang ^ ucapnya lirih.
^ Ingin rasanya aku bawa kamu pergi dari kota ini , tapi aku takut kamu tak bisa hidup susah, aku tak ingin kamu sedih dan semakin jauh dariku^ lirihnya.
Reynal lalu menghapus air matanya yang belum sempat ia keluar, lalu menutup benda pipih itu dan kembali kerja hingga tak terasa waktu sudah berganti.
Reynal sempatkan diri untuk pergi ke penjual makanan tradisional, tampak kue cucur yang tiba-tiba menggodanya. ia membelinya dan membawa pulang, Ia langsung melajukan mobilnya ke rumah sang bunda.
Rasa rindu menanti, saat-saat seperti inilah yang ia inginkan sejak dulu, sejak berstatus suami pulang kerja sudah ada yang menanti dia adalah istri, takkan dipungkiri olehnya, kala nanti miliki buah hati maka anak serta istri yang menanti kepulangannya, rasa kesal lelah dan letih mungkin akan hilang.
Sesampainya dirumah, Reynal melihat ke arah ruang keluarga yang cukup nyaman oleh mereka, bersantai dan ngobrol, disana ada P**s juga, tapi jarang dipakai biasa dipakai oleh Dela ataupun Rayhan sang kakak dan tentunya Aldo, Intinya barang itu ada karena Dela.
Reynal tak dapati Dela berada disana, ia segera masuk kekamar tanpa memperdulikan tiga sahabat Dela yang sedang asik ngobrol sambil bercanda.
Sesampai kamar Reynal tak mendapatkan Dela, kamar kosong, ia segera mandì dan segera mengenakan baju santai, sesantai mungkin, dengan celana selutut, serta kaos oblong berwarna hitam, membuatnya semakin terlihat ketampanan dengan begitu terlihat maskulinnya.
Dela, sedang berada didapur siapkan air minum untuk Reynal, disore hari Reynal lebih suka minum Green tea, menurutnya itu lebih rilex , itupun sejak setahun yang lalu.
Dela sengaja menukar minuman kesukaannya disore hari dengan geen tea, tapi itu saat Dela belum menjadi dingin kedirinya, dan setelahnya Dela tak pernah lagi, membuatkannya, ia begitu kecewa saat tau Reynal lebih banyak waktu dengan Fia ketimbang dirinya.
Namun ia bersabar, dengan berpura-pura baik, mungkin itu lebih baik, dari pada sebaliknya akan menimbulkan tanda tanya besar dari keluarganya. namun bukan Ayah Tomi namanya jika tidak tau yang sebenarnya apa yang terjadi dengan dua anaknya.
Hap!!
" Aww panas!! Dela mengibaskan tangannya yang tersentuh air panas.
" Maaf" ucap Reynal yang langsung ambil tangan Dela,dan menghembus- hembuskan.
" Masih sakit" tanya Reynal dengan mengecup tangannya, Dela meringis dan kemudian mengangguk.
" Yah udah sini duduk dulu , Tata ambilkan obat dulu" ucapnya yang buru- buru mengambil saleb dip3k,Tak lama Reynal kembali dan mengolesi salebnya BioDerm ketangannya sambil menghembus-hembusnya, Dela hanya diam dan menatap Reynal begitu lekat entah apa yang ia fikirkan sekarang, yang pasti Reynal begitu cekatan dan begitu manis sore yang menjelang malam itu.
" Hem... hem.. tenggorokan gue kering nih" celoteh Mira yang tak sengaja melihat keduanya yang menurutnya sweet.
" Eh Mir..." ucap Dela salah tingkah.
" Gue pura-pura gak liat aja, ayo cinta" Ajak Samir yang merangkul bahu Mira.
Ketiganya, sengaja meninggalkan sepasang suami istri itu yang terlihat saling merindukan tetapi menutupinya dengan gengsinya
Dela mengulum senyumnya, ia malu ke gep dengan sahabat-sahabatnya, Reynal yang terlihat biasa aja, namun dihatinya tersenyum bahagia.
" Udah Ta, Lala malu"
" Kenapa malu, kamu istri Tata," ucapnya yang enggan melepaskan tangan sang istri.
" Udah ah ayo kesana, gak enak dengan yang lain" ucap Dela yang masih menyimpan kebahagian dihatinya.
Reynal tersenyum kikuk, lalu ia mengikuti langkah Dela, yang ikut bergabung bersama sahabat-sababat Dela.
" Kalian nanti makan malam disini ya" ucap Reynal yang tak ingin membatasi Dela ataupun dirinya bersama sahabat sang istri.
" Ah malas gue," celoteh Samir ngasal.
" Kok malas?, ayolah hanya makan malam" ucap Dela
" Baik lah kapan lagi gratis." ucap Samir yang tanpa malu semua pun mencibir dengan tingkah Samir.
" Ran kak Alex diarea balap?" tanya Dela
" Iya , tadi dia bilang gitu" ucap Rani yang asik dengan sosmednya.
" La..., tadi ada kue cucur mau coba gak?"
sambil memainkan rambut Dela dan mengendus-ngendusnya.
" Tata beli?" Tanya Dela.
" Iya melihat dari poster di spanduknya menggoda lidah Tata" Ucapnya yang tanpa malu mengusap pipi Dela yang menghadapnya.
" Memang dimana sekarang?" Tanya Dela lagi.
" Meja.." ucapnya singkat.
" Tunggu Lala ambil" ucap Dela.
" Biar Tata aja, kamu disini aja" ucap Reynal yang mengecup pipi Dela dihadapan sahabatnya, Reynal tak malu malah ia sengaja agresif, Reynal lalu melangkahkan kakinya menuju meja makan.
" Awww sakit mata gue" ucap Samir yang memandagi pemandangangan waktu senjanya.
__ADS_1
" Kenapa ... kenapa Sam..." yang panik, yang dikira Mira benar-benar kenapa-kenapa.
" Liat Noh pengantin lama, tapi baru sok romantisnya sekarang" ucap Rani yang membuat galak tawa.
" Tadi bilangnya pura-pura gak liat"
ucap Dela yang melempar Samir dengan bantal sofa disana.
" Iya jujur nih gue baru liat sisi romantis kak Rey yang galak jika disekolah, kaya lo selalu romsntis dengan Kak Dare...." Rani langsung menutup mulutnya sepontan, ia merasa bersalah mengucapkan kalimatnya.
" Oo maaf" ucap Rani yang tak sengaja
" Gak perlu minta maaf Ran, dia miliki tempat terindah dihati gue, namun gue sudah bersuami , senior galak pantas dapatkan seperti kak Daren" ucapnya lirih.
" La thanks" ucap Reynal yang sudah kembali dengan menenteng bungkusannya.
" Sudah seharusnya "ucap Dela.
" Nih kue cucurnya " ucap Reynal yang sudah membawa kue cucur serta gula merah, didekat mereka tak lupa Reynal memberikannya ke Dela, menyuapkan kue cucur kemulut Dela.
Reynal tersenyum// Semoga berkah _Reynal// sambil menyibak rambutnya.
Mereka melajutkan makan kue cucur yang dibawa oleh Reynal," eh kalian mau istrahat ada kamar kak Ray, untuk lo Sam dan kamar kak Rien untuk Rani dan Mira" ucap Reynal tanpa segan.
" Siap" ucap mereka barengan, sambil menikmatinya.
Dela bersender disofa dengan tangan Reynal yang direntangkan, Reynal menciumi rambut Dela yang menurutnya wangi sambil melihat Sahabat-sahabat Dela yang rebutan dengan kue cucur.
" Rey lo mendadak romantis, awas lo tiba-tiba buat Dedel nangis, gue bogem lo" ucap Samir yang menatap Reynal dengan tajam.
" Iya Sam... gue berusaha tak akan buatnya menanggis lagi, dan lo selagi gue gak ada dekat Dela, lo cowok satu-satunya harus jaganya, bukan Dedel aja tapi tiga gadis sekaligus" ucap Reynal yang seakan memberi peringatan.
" Emmm kalau Rani gue yakin sudah gak gadis lagi, paling bulan depan jadi calon mama muda" ucap Damir sambil mencibir bibirnya.
" Hiii...., doakan aja" , ucap Rani yang tak ingiñ ambil pusing.
" Ran lawan gue ayo," ucap Dela tiba-tiba
" Siapa takut ayo" balasnya.
Keduanya menuju alat untuk mengendalikan permainan, keduanya mengganti permainan dengan balabnya, maklum saja keduanya yang miliki bobbi yang sama.
Sementara Samir dan Mira sudah duduk bersama Reynal,dan Bunda baru keluar membantu Art masak untuk makan malam mereka.
Dela memang tak bercerita, apa yang terjadi kepada mereka, tapi yang untungnya semua itu bisa terbongkar saat Dela berada dirumah eyang di Semarang kala itu.
Dengan tak sengaja Dela merasa ketakutan dan mengigau, dari sanalah mereka tau jika Dela miliki trauma besar dan menyembunyikannya dari mereka ataupun suaminya sendiri.
Magrib pun tiba, Reynal mendekati Dela agar menyudahi permainannya.
" La... , nanti lagi mainnya, sudah waktunya kita jemaah" ucap Reynal mengingatkan.
Dela lalu menghentikan permainannya dan meminta sahabatnya solat dikamar sang kakak, Dela mengambil mukenah dan sarung untuk Samir plus dengan sajadahnya Reynal hanya duduk diam di sofa kamarnya menunggu Dela kembali.
Cklek..!
Terdengar pintu terbuka, Reynal tau jika itu adalah Dela istrinya, Dela langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhunya dan melaksanakan sholat magrib.
Usai itu Reynal meminta Dela melantunkan ayat suci Alquran tapi Dela mengeles dengan alasan mau kekamar sahabatnya, namun langkahnya terhenti Reynal berhasil menahan langkahnya.
" Jika tidak ingin membaca duduk lah , Aku ingin kamu mendengarkannya, walau sedikit" Pinta Reýnal, Dela mengerucutkan bibirnya, lalu kembali duduk di ranjang tidurnya dengan bersandaran bantalnya nan memangku guling dipahanya, membuka Ponselnya, setidaknya duduk mendengarkan lantunan Reynal.
Dela memainkan ponselnya tiba-tiba ada ada pesan dari nomor tak dikenalnya,
+26825xxxxxxxxx
" Aku tertarik denganmu, aku akan mengambil kamu dari dia"
Dela terkejut dan melemparkan ponselnya jauh namun masih diranjangnya, Reynal yang melihat lalu langsung mendekati Dela , " Kenapa?,"
" Gak..gak papa" ucapnya yang engan cerita, Reynal memeluknya, lalu mengecup pucuk kepalanya menangkup dua pipi Dela. sambil tangannya mengambil ponsel Dela.
" Disini ada aku, dan gak akan terjadi apa-apa okey, " sambil mengusap-usap bahunya Dela." Lala tenang okey, nanti aku coba mencari siapa orang yang barusan kirim pesan" menenangkan Dela dan memberikan air minum, yang tadi Reynal ambil sebelum masuk kamar untuk sholat.
Seolah mengerti apa yang terjadi Dengan Dela Reynal berusaha menenangkannya.
Diruangan lain Rani dan Mira sudah selesaikan solat dan berceriata tentang rumah tangga Rani serta hubungan Mira ke Samir gelak tawa terdengar oleh Dela.
" Ta, Lala sudah enakan, Lala ke kamar kak Rien ýah?
" Iya silakan, ingat jangan difikirin abaikan,"
" Iya.." ucap Dela lirih.
__ADS_1
Kepergian Dela kekamar Rien, Reynal mengecek ponselnya lewat ponselnya betapa terkejutnya jika pesan itu dikirim oleh orang yang sangat ia kenali, dengan mengeraskan rahangnya.
^ Apa yang lo mau hingga lo tega buat istriku ketakutan seperti itu, dan sejak kapan lo menyukainya, bahkan gue gak sanggup jika kita bersaing, yang jelas kini dia milik gue, kelinci gue yang lucu dan lincah^ ungkapnya lirih.
Luka yang terlihat saja belum kering kini luka itu datang lagi walau tak terlihat dan tak berdarah.
^ Gue akan pertahankannya^ gumamnya.
Dela berada dikamar kak Rien, ikut gabung dengan dua sahabatnya yang beda setatus.
" Del..., tinggal lo nih, Rani tadi sudah bercerita berumah tangga itu gimana nah kalau lo gimana?" tanya Mira
" Gimana apanya ini?" tanya Dela yang mendaratkan bokongnya.
" Menjalaninya" jelasnya.
" Mir..., gue bukan seperti kalian yang pacaran kemudian menikah,yang awalnya memang sudah saling cinta, beda dengan gue Mir, lo kan tau ceritanya gimana saat gue masih sayang-sayangnya dengan kak Daren berharap kelak dengannya, dalam keadaan kita gak baik gue dinikahi oleh senior galak itu, dan Cinta itu tumbuh dengan sedirinya dengan susah payahnya. walau awalnya Kita itu memilih pilihan masing-masing ujung-ujungnya nikah .
Banyak lika -liku kehidupan gue, gak selurus harapan kalian " ucap Dela mengakhiri.
" Ternyata hidup lo rumit Del, orang secantik lo sepopuler lo dan sepintar lo ternyata perjalanannya cukup ngenes" ucapnya sedih.
" Tapi kak Rey mulai so sweet dan lo sebenarnya senengkan di perlakukan seperti tadi" tanya Rani.
" Hhussttt...., jangan dibahas, anggap aja kalian pura-pura buta gak liat apa yang dilakukan Rey." ucapnya memperingatkan.
" Iya pura-pura gak liat tapi liat" ucap Rani lalu ketiganya tertawa yang kemudian mendapat ketukan pintu setelah dibuka ternyata itu Bunda, Bunda lalu memeluk ketiganya.
" Maaf Bunda gak sengaja mendengarkan pembicaraan karena kalian tidak rapat menutup pintunya" ucap bunda dengan senyuman.
" Yang pasti Bunda berpesan, jangan ambil keputusan yang buat kalian merugi nantinya, jika Mira dan Samir masih pendekatan atau katakanlah berpacaran, berpacaranlah secara sehat" nasehat bunda
" Dan untuk Rani bersikap lebih dingin dan bicarakan baik-baik jika dalam masalah insya Allah ada jalannya,tidak seperti anak Bunda yang satu ini, dia menutupi sendiri kekesalannya"
"IIh Bunda apaan sih.." ucap Dela malu
" Yah sudah ayo kita makan malam, Alex suami Rani juga baru saja datang, ayo turun dan temui." ucap bunda sambil menggiring ketiganya.
Mereka menganggukin kepala mereka lalu turun bersama, Rani langsung menemui suaminya sementara Dela dan Mira langsung menuju meja makan, tak lama Mama dan papa Dela datang, kali ini orang tua Dela, sengaja datang untuk makan bareng anak-anak mereka.
Dela maupun Reynal begitu bahagia memiliki keluarga lengkap serta saling suport.
" Mama, papa" panggil keduanya, Dela langsung memeluk sang ayah begitu Reynal yang memeluk bidadari hatinya selain Bundanya.
" Kalian tidak malu diliatin sama sahabat kalian?" tanya Mama yang masih memeluk anak mantunya.
" Gak biasa aja" ucap mereka barengan membuat mereka disana tertawa,
" Mereka benar-benar jodoh" ucap Alex melihat tingkah keduanya sama.
Makan bersama, dengan lauk dan sayur bersama setidaknya mereka bahagia bisa berkumpul.
Usai semuanya Mereka duduk dibelakang rumah yang terdapat kursi dan lapangan futsal kecil cukuplah untuk Reynal latihan.
Reynal menggandeng Pinggang Dela seakan tak ingin melepaskannya.
" Mepet terus " ucap Samir
" Sirik lo" jawab Reynal
" Takut lepas lagi tu," ucap Alex.
" Makanya kak Rey tu jangan cari tikus walau bagus bentuknya belum tentu kaya kelinci imut, pintar dan lincah" celoteh Rani.
" Iya dong, kalian bener gue takut kehilangn Dela,makanya gue mepet terus,biar gak ada sela untuk yang lain" ucap Reynal.
Pukul menunjukan pukul 08.30 wib , Mereka pamit karena sudah sedari tadi berada dirumah mereka lebih tepatnya Rumah keluarga Darma.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
.
.
Bersambung
.
.
Salam Hangat.🤗
Reynal & Dela👦👧
__ADS_1