
Reynal dan Dela buru-buru melajukan masuk mobil dengan membawa Dava .
" Semoga tak terjadi apa-apa dengan Rani dan calon ponakan Lala mas"
" Iya la kita berdo'a aja ya"
" Emang Mama Rani kenapa Bun?"
" Bunda juga gak tau sayang, kita do'akan yang terbaik aja ya sayang " usap Dela ke pipi Dava.
Sementara di rumah sakit Alex dan keluarga sedang menunggu Dokter keluar.
" Ma..., Rani ma anak ku ma"
" Sabar sayang, kita do'akan mereka baik-baik saja didalam"
" Tapi ma, dokter lama sekali didalam" Alex yang khawatir berada di pelukan sang Mamanya.
" Kak Alex" panggil Mira yang diikuti oleh Samir yang berada di belakangnya.
" Kak gimana keadaan Rani?, apa dia gak papa?" tanya Mira yang tak kala khawatir namun tak mengurangi rasa sopannya
Mira dan Samir bersalaman dan mencium punggung tangan kedua orang tua Alex dan juga Rani.
" Mir... kita doakan mereka berdua baik-baik saja ya" ucap Tante Dinda Mama Rani.
" Iya tan, tante dan kak Alex sabar ya" ucapnya yang menenangkan Mama Rani.
Di perjalanan Terlihat Dela begitu cemas dengan sahabatnya, Setelah mendapat kabar daΕi Samir tadi lewat via grup gank mereka, Dela tak henti-hentinya ia menangis sepanjang jalan,memikirkan nasib sahabatnya apa lagi dalam keadaan mengandung.
" Sayang sabar ya, Mas yakin Rani gak kenapa-kenapa, udah ya jangan nangis lagi" ungkap Reynal yang mengusap air mata Dela yang sedari tadi membasahi pipinya, Reynal ikut sedih karena Dela menangis lagi walau bukan karenanya.
Sesampainya dirumah sakit, Reynal langsung parkirkan mobilnya dan Dela segera keluar dari mobil dengan buru-buru.
Reynal yang juga khawatir dengan Dela segera secepat mungkin menggendong Dava yang sudah tertidur dimobil sejak tadi.
" Sayang, jangan lari, hati-hati Sayang" ucap Reynal yang tak ingin terjadi apa-apa dengan Dela namun Dela tetap berjalan dengan sedikit berlari.
" Lala.. gak dengar , berhenti atau kalau gak mas hukum !" teriak Reynal yang berjalan cepat mengikuti langkah Dela.
" Tata yang terhormat , Lala lagi panik dan hawatir , gak ada waktu untuk berdebat" ungkap Dela yang membalikkan badannya ke Reynal sekilas.
" Iya sayang , Tapi sayang ingat kamu lagi gak sendiri kamu bawa anak kita" ucap Reynal yang membuat Dela menghentikan langkahnya.
// Astagfirullah, Lupa...sekarang gue lagi berbadan dua maafkan Bunda sayang _ Dela//
Dela Berhenti, kala mendengarkan perkataan Reynal, ia lalu mengusap perutnya yang masih belum terlihat.
" Sayang, Mas tau kamu khawatir tapi jangan lari-lari seperti tadi, mas gak ingin kamu kenapa-napa, okey"
" Okey, Maaf" cicitnya lirih, yang menyesali tindakannya barusan.
Reynal tersenyum," Jangan minta maaf, Mas faham kamu hawatir dengan Rani sahabat kamu" ucap Reynal yang ikut berhenti.
" Yah sudah ayo kita jalan lagi kita lihat keadaan Rani "kata Reynal lagi.
Di ruang Icu, Mereka masih menunggu Dokter keluar yang berada ruang tindakan, dengan hati cemas, Namun mereka bernafas lega saat Dokter keluar dari ruangan tindakan, menemui mereka.
" Siapa suami dari Ny. Rani?" tanya sang Dokter.
" Saya Dok..?, gimana istri dan anak saya Dok?" jawab Alex seraya bertanya.
" Sabar tuan, saya akan menjelaskannya, istri tuan alhamdulillah sudah baikan, tapi..." Dokter berhenti menjelaskan.
" Tapi apa Dok...?" tanya Dela yang sudah berdiri diantara mereka.
" Tapi... terpaksa saya harus ambil tindakan, saya tidak bisa selamatkan janin yang dikandung oleh istri anda tuan"
Deg....
Semua yang berada disana terkejut dengan apa yang diucapkan oleh sang Dokter, Alex yang semakin erat memeluk sang Mamanya menangis sejadi-jadinya.
Dokter lalu pamit pergi setelah menyampaikan kondisi Rani dan juga janinnya.
Dela yang mendengar itupun langsung terduduk lemas, Reynal yang melihat Itu kondisi Dela lalu memberikan Dava ke Samir dan segera mendekati Dela. Membawa Dela agar duduk di kursi tunggu yang tak jauh dari ruang tindakan.
" La-, dengar Tata jangan naggis ya kita berdoa aja Rani baik-baik aja didalam sana" Reynal menenangkan Dela yang sedang shock.
" Gimana Lala gak sedih, sementara sahabat Lala berbaring lemah disana, paasti Dia akan terpukul, dengan semua ini." Dela yang Sudah dalam pelukan Reynal.
" Iya sayang Tata ngerti, tapi yang perlu di ingat ini semua bukan kemauan kita, tapi ini rencana indah untuk rumah tangga mereka nantinya, satu lagi allah tak akan biarkan umatnya untuk sendiri dan memberi batas cobaan yang tak dapat kita gapai, intinya kita sebagai umatnya mengharuskan sabar dan tawakal" jelas Reynal yang masih memeluk Dela ke dekapannya.
Sementara Di luar ruangan tindakan, Samir dan Mira hanya terdiam mereka juga sedih melihat sahabatnya yang kehilsngan calon buah hati mereka,Tepukul!, pasti tapi kita bisa apa semua atas kehendak yang kuasa.
Alex masih terpukul ia masih dalam pelukan sang mamanya yang ia jadiksn sandaran." Ma bagaimana cara menjelaskan ke Rani jika ia kehilangan bayinya?, Alex gak sanggup untuk menjelaskannya." ungkap Alex lirih.
__ADS_1
" Sabar itu kuncinya, dan soal baby kamu bisa jelasinya nanti pelan-pelan ke Rani, kalau sudah membaik." ucap mama yang juga turut menenangkan Alex, Alexpun mengangguk mendengar ucapan sang mama.
" Nta..., aku sedih sahabat kita pasti rasakan hal yang berat ini, harus ia lalui" cicit Mira yang tak tega dengan Rani.
" Iya Ci, kita tak dapat berbuat apa-apa, terpenting kita yang sabar dan siap untuk hadapi semuanya dan bisa suport Rani" Jawab Samir
" Apa ini Resiko kita menikah muda?" Tanya Mira tiba-tiba
" Mungkin bisa jadi, tanya ke Rey aja sana yang anak ipa, lagian dia juga nikah muda tuh" ucap Samir asal.
" Kok Kak Rey sih?, tapi tunggu deh tumben Dedel nanggis, liat t deh nta?, kan kamu tau sendiri Dela jarang nanggis, bahkan bisa dibilang tidak pernah.
" Mukin ia ikut terpukul sayang"
Di Dalam ruang tindakan Rani sudah lakukan pengoretan dirahimnya ia kemudian tidur , masih belumkan sadarkan diri, Rani berbaring Lemah dengan alat infusnya.
" Tuan Alex kita akan pindankan Ny. Rani ke ruang rawat " ucap salah satu perawat
" I-iya Dok silakan " ucap sang Mama Alex sementara Alex terdiam.
Sebaiknya kamu segera basuh wajah mu sayang, kita susul Rani keruang rawat ya, jangan perlihatkan wajah sedih kamu sayang, kamu harus tegar dihadapan Rani" ucap Mamanya.
" Iya benar kata Mamamu Lex, kamu harus tegar, anak Papa udah dewasa, tapi papa mohon dihadapan Rani jangan tunjukan kesedihan yang membuat keluarga kecil kalian terpukul" ucap sang Papa Rani
" I-iya pa, kalau Alex permisi ke toilet untuk membasuh wajahnya.
" Em tan, ma, kita nanti menyusul"
" Iya sayang kita duluan ya"
" Iya Ma, kita mau samperin Dedel dulu"
" Gak perlu Mir, gue udah baikan kok yuk kita liat Rani sama-sama" ucap Dela menolak sembari menjelaskan bahwa ia ingin melihat keadaan Rani.
" Papa?" Panggil Dava.
" Hey sayang..sudah bangun?"
" Bunda kenapa kok matanya-" ucapannya terputus saat Dela menyela ucapan Dava ia tak ingin Dava tau ia sedang menanggis.
" Bunda gak kenapa-napa sayang, ayo turun Papinya capek, kita liat Mama Rani yuk "ajak Dela yang menggandeng Dava.
Mereka sama-sama melangkah keruangan Rani dirawat, Mira yang heran dengan Dela pun langsung bertanya
" Em..." dehem Dela sebagai jawaban
" Lo tadi nanggis?" Tanya Mira meyakinkan.
" Hehe-, iya gue juga gak tau kènapa gue jadi melow gitu" cengir Dela yang menunjukan gigi putihnya.
Di ruangan rawat Rani, Alex tanpa hentinya menggenggam tangannya berzikir walau hatinya hancur karena kehilangan calon babynya, tapi ia harus kuat demi Rani.
Entah apa yang akan ia katakan nanti setelah Rani Siuman mengenai Baby- nya yang tak dapat diselamatkan.
Assalamualaikum...
Waalaikumsalam...
Jawab mereka yang berada didalam ruang Rawat, Dela dan yang lainnya masuk sembari melihat keadaan Rani, Dava lari lalu mendekati Alex.
" Pa, Mama kenapa?" tanya Dava ke Alex
" Sayang anak mbul Papa, Mama sakit sayang, doakan Mama cepat bangun ya?"
" Iya pa." jawab Dava singkat.Dava yang mendengarkan ucapan Alex lalu mengadahkan kedua tangannya lalu berdoa seperti Anak kecil lainnya.
" Ya Allah, sembuhkanlah Mama, dan bangunkanlah Mama agal Dava bisa bermain baleng Mama lagi, Amin" tutup Dava dan begitu juga Alex dan yang lainnya.
" Anak pintar " ucap Alex lalu mencium pipi Dava.
Mereka sudah hampir satu jam lebih berada dalam ruangan itu tapi belum ada tanda-tanda Rani siuman.
Sementara Reynal mulai rewel, bak anak kecil yang merengek bosan, tapi ini kebalik Dava yang begitu anteng bersama Alex menunggu Rani bangun, Reynal yang orang dewasa merengek meminta agar pulang.
" Yang..., kita pulang dulu aja yuk, besok kita kesini lagi" ajak Reynal.
" Tapi Lala mau nunggu Rani bangun Dulu.
" Yang...," panggil Reynal lembut tapi isyaratkan tak ingin dibantah
" Mengertilah mas," ucap Dela selanjutnya.
" Tapi yang-, kamu juga harus jaga kesehatan juga hem" ucap Dela yang mengusap kepala Dela yang tak bergemimg.
" Huuih... ternyata susah bujuk bumil muda satu ini" gumamnya yang terdengar oleh Samir.
__ADS_1
Samir pun terkekeh mendengar gumaman Reynal, baru kali ini ia mendengar eluhan senior galaknya.
" Dikampus aja galak dirumah mah sama aja apa lagi kalo sudah ngebucin." cibir Samir sambil tertawa.
" Tertawa lo" Reynal yang menatap tajam ke arahnya.
" Apa loh, suka-suka gue" ucapnya yang menjulur lidahnya.
Reynal menggeleng, memijat pangkal ujung hidungnya lalu melangkah keluar.
" Kemana Rey" Tanya Papa Rani.
" Kantin om biar Rey beli makan dan minum" ucap Reynal yang dianggukin oleh papanya Rani.
Reynal lalu pergi keparkiran mengambil rokok yang ada dimobilnya, menyulet dan menyesapnya, Reynal kini menjadi pria perokok, padahal itu bukan Reynal, menurutnya pengganti Dela saat ia suntuk atau bete.
Bukan egois, tapi Reynal sejujurnya khawatir dengan keadaan Dela, yang sedang berbadan dua, Usai habiskan sebatang Reynal mengganti bajunya dengan warna yang sama yang ada dimobilnya lalu memberikan parfum hasnya, baru ia berjalan ke kantin.
Seperti itulah Reynal lakukan setelah selesai merokok, sesampainya di kantin Reynal membeli beberapa makanan dan minuman lalu balik lagi keruangan Rani.
" Lama amat laki lo kekantin kering nih tenggorokan "celoteh Samir
" Mana gue tau, pub kali sambil tidur" ucap Dela cuek.
" Hem- , gak Rey gak lo Nyebelin" ejek Samir
" Berisik!! " teriak keduanya.
" Ssssttt...mami sama Bunda juga belisik" ucap Dava yang masih baring di brankar
Keduanya tertawa sambil menutup Mulutnya karena sadar mereka dalam mode salah,Tak lama Reynal masuk dan membawa beberapa makanan dan minuman.
"Papa..., Mana susu untuk Dava?" tanya Dava ke Reynal.
" Ini untuk kamu sayang" ucap Reynal sambil memberikan minum untuk Dava.
"Thank you pa"
" Lama amat sih Ta" tanya Dela yang sudah manyunkan bibirnya.
" Iya tadi ada telfon dari bengkel" kilahnya yang sudah menyumut bibir Dela dengan tangannya.
" Lex nih minum dulu" ucap Reynal yang membawa cup kopi untuk Alex.
"Thanks" ucapnya.
" Yang... yuk?"
" Iya deh..., gue pulang dulu beb," ucap Dela dengan berat.
" Iya makasih ya Del"
" Iya kak sama-sama"
" Sayang ayo pulang dulu, nanti nini cariin kamu loh" ajak Dela ke Dava yang membantu Dava turun
" Iya Bun"
Setelah mereka berpamitan , kepada Alex dan kedua orang tuanya tak lupa kepada sahabatnya Rani yang berbaring lemah.
" Cepat bangun Beb, gue pulang dulu" ucapnya dengan mengusap lengan Rani.
" Gue kangen lo" ucapnya lagi.
" Dava juga ma, kangen Mama, mama cepat bangun ya, Dava sama Bunda pulang dulu ya, Bye ma" ucap Dava yang sambil mencium pipi Rani.
"Semuanya Dedel pulang ya assalamualaikum"
"Waalaikumsalam-, hati-hati sayang " ucap mereka yang disana.
ππππππππππππππ
.
.
Bersambung
.
.
Salam hangat
Reynal Dela
__ADS_1