
Reynal sudah kembali dikamar, dan meletakan susu dan roti dinakas, tanpa membangunkan Dela.
Reynal membuka leptop membuka beberapa kerjaan Sekolah yang belum Reynal selesaikan, Sesekali ia melihat Dela yang sedang tidur dengan gemesnya.
Reynal yang masih fokus dengan kerjaannya, tak mengetahui Dela telah membuka matanya.
" Ta- " Tiba-tiba Dela memanggil, Reynal merasa dipanggil hanya menolehnya sekilas.
" Ini untuk gue ?" tanyanya lagi membuat Reynal menolehnya kembali.
Dela melihat makanan kesukaannya berada dinakas dekatnya, Reynal hanya anggukin kepalanya, lalu kembali ke layar leptop.
Dela langsung minum susu yang sudah sedikit dingin, tapi itu tidak masalah baginya, lalu mengambil rotinya.
" Ta-, gu-e -" menghentikan kalimatnya, Dela ragu untuk cerita.
" Gu-Gue" Dela masih nunduk kebawah sementara Reynal, masih berada dimeja belajar.
" Sudah jadian sama Daren_" Ucap Reynal yang seakan tau apa yang akan dikatakan oleh Dela.
" Gue nggak bisa larang lo, untuk cinta sama orang La, mungkin gue terlambat, Tapi demi lo dan keluarga kita, Gue akan coba pertahankan pertunangan kita" ucapnya tanpa menoleh Dela.
" Iya kok lo tau?" tanya Dela sambil mengunyah Rotinya. Reynal menghela napasnya lembut dengan senyum semirknya.
// Sakit ternyata La, mungkin ini yang lo rasakan selama ini_Reynal//
Dela kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka, dan tak lama keluar dari kamar mandi, Dela segera keluar kamar ingin cari Bunda.
Tanpa disadari mata Reynal berkaca-kaca, Reynal dengan cepat menyekanya agar tidak jatuh.
^ Gue akan lakuin seperti lo lakuin ke gue saat itu, pertahankan hubungan kita La, gue rela harus terima rasa sakit itu ^ gumannya.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dela sudah Berada dipelukan Bundanya, dengan manja tanpa malu ada Ayahnya. Memeluk erat dan kepala disenderkan dikepala Bundanya.
" Kenapa sayang?" tanya Bunda.
" Mama kapan pulang ya bun? tanya Dela balik.
" Tiga hari lagi" kata Bunda lalu usap kepalanya.
" Kamu kenapa lagi dengan Rey nak?" tanya Ayah.
" Nggak ada apa-apa yah, hanya-, " Dela menggantungkan kalimatnya.
" Dedel hanya-," lagi-lagi kata-katanya terhenti.
" Bun , Yah " sapa Reynal yang sengaja mengurungkan kalimat Dela lalu beranjak Duduk bersama kedua orang tuanya.
" Rey , kamu apakan anak gadis ayah, liat tu sampai bersikap seperti itu" kata Ayah.
" Mana Rey tau yah, tanya aja ke anaknya langsung " ucap Reynal yang pura-pura tak tau.
" Bun..., malam ini Tata suru tidur kamar kak Ray aja yah, Dedel nggak bisa tidur kalo di kamar kak Rien" kata Dela yang meminta izin agar Bunda menyetujuinya.
" Nggak lo aja sana, itu kan kamar gue "
ucap Reynal.
" Tapi Lala susah tidur disana Ta, entar telat, terus lo hukum gue " dengan nada keselnya.
" Rey... mengalah aja kenapa, Dela calon istri kamu loh Rey" kata Ayah.
" Tau ah, Dedel masuk kamar" ucapnya.
" Makan malam dulu Del" pinta Bunda.
" Kenyang Bun-," ucapnya yang sengaja menghindari Rey yang berada disana.
Reynal tau pasti Dela akan mencari alasan menghindarinya, kecuali terpaksa ada Ayah Bunda atau Mama Papa, Reynal melihat tingkah Dela barusan membuat dia semakin geram, dan segera menyusul Dela ke kamar.
" Rey pamit kekamar dulu, nanti Rey nyusul ayah bunda makan" ucapnya.
Dela yang sudah berada dimeja belajar, baru ngerjakan tugas, yang tadi belum ia kerjakan, Reynal menyusul Dela kekamar menutup pintu lalu sengaja menguncinya.
__ADS_1
Deg...
" Kenapa lo kunci pintunya Ta " tanya Dela yang melototkan matanya ke Reynal.
" Kenapa, nggak boleh? " tanya Reynal yang menyunggingkan senyum liciknya.
Dela Berdiri dan berniat membuka pintunya tapi ditahan oleh Reynal yang sudah mendekatinya, Dengan terpaksa Dela duduk kembali, Reynal sudah duduk di meja belajarnya, dengan tatapan menerkam.
" Lo Benci gue?, tapi lo kelinci gue, dan Lo tak akan gue biarkan lari lincah ke orang lain, maka gue akan mengambilnya dengan cara ku Dela Riani" ucap Reynal yang menekan setiap kalimatnya.
Reynal yang semakin mendekat membuat Dela sedikit waspada, kini jarak mereka yang sangat dekat, Dela tak berkutik bahkan ia hanya bisa memalingkan wajahnya, Tapi Reynal menarik dagunya dan Bibir Reynal mendarat ke bibir Dela sekilas.
Betapa terkejutnya Dela dengan tindakan Reynal, yang menurutnya nekad.
" Gila lo ya Ta" ucap Dela, lalu mendorong badan Reynal agar menjauh dengan mengusap-usap bibirnya, dengan mata berkaca-kaca.
" Gue nggak gila, gue masih waras La, lo itu nggak cukup hanya dengan simbol cincin ini " kata Reynal yang menunjukan cincin mereka.
" Dengan gue ambil ciuman pertama lo,itu sebagai tanda lo milik gue" kata Reynal lagi dan berlalu pergi dengan senyum semiriknya, Dela masih diam sesaat, sebelum ia teriak.
Tata !!!
Tapi yang diteriaki sudah pergi keluar kamarnya, Dengan teriakan khasnya, membuat Bunda langsung naik keatas menemui Dela.
" Ada apa sayang ?" tanya bunda khawatir
" Tata bun, Tata tadi ci-, ucapannya terhenti.
// Upps.., apaan si gue, masa iya mau ngadu kalau Tata ambil ciuman pertama gue ke bunda //
" Sayang-, " panggil bunda
" I-iya bun-" kata Dela tersadar dengan lamunannya.
" Tadi Tata kenapa? " tnya bunda lagi.
" Em itu tadi Tata, rebut cincin punya Dedel" ucap Dela asal namun tamapk matanya masih berkaca-kaca.
" Kalau soal cincin, kan cincin kalian sudah tidak bisa dipakai, karena kita belinya waktu kalian masih SMP, besok sepulang sekolah bunda jemput yah" terang Bunda.
" Jangan deh Bun" Kata Dela yang menolak.
" Lho kenapa? tanya bunda heran.
" Dedel putusin, nggak mau lanjutin pertungan ini, lagian Tata sama Dedel sudah sama-sama, miliki orang yang kita cintai bun.
" Siapa bilang" kata Reynal yang mendengar obrolan Dela bersama Dela.
" Gue la, lo kan cinta matinya Fia" dengan
memeluk bunda.
" Lagian gue sudah punya Daren" kata Dela.
" Sok tau lo La, Bun Rey setuju, kalau cincinnya diganti yang baru, biar kita bisa pakai, tapi tidak waktu disekolah" kata Reynal dengan panjang lebar.
Bunda tersenyum lalu anggukin kepalanya, " oke besok Bunda jemput kalian " ucap Bunda dengan tersenyum melepaskan pelukan Dela yang sebelumnya ia sematkan kecupan di dahi Dela.
Bunda sudah keluar kini tinggal mereka berdua, yang berada dikamar , Dela masih diam karena takut Reynal melakukan hal aneh seperti tadi.
Reynal mendekat dan mengeluarkan cincin yang sempat Dela buang dan Dipungutnya, lalu mengalungkan ke leher Dela.
" Jangan pernah lo buang lagi " kata Reynal, Lalu mengacak rambut Dela lembut.
" Nggak perlu lu pakaikan lagi, karena gue tidak butuh ini lagi, yang gue butuh saat ini adalah bahagia bareng Daren, karena gue sangat mencintainya" Ucapnya dengan panjang dan lantang setelah memberanikan diri.
" Terserah " ucap Reynal dan pergi meninggalkan Dela dikamar.
Kepergian Reynal, terdengar ponsel Dela berbunyi dengan senyum mengembang lalu Dela menerima telpon tersebut.
π² π Daren
π² Delaβ
Malam kak
__ADS_1
π²π Daren
Malam Del, Cepat amat angkat telponnya, lagi nungguin ya?
π² Delaβ
" Emm...sepertinya begitu" Dela lalu terkekeh.
π² πDaren
" Sudah lama nungguinnya?
π² Delaβ
" Lumayan lama" pura-pura ngambek.
π² πDaren
" Maaf..., kalau lama, tadi saya..-
π² Delaβ
" Ih.., kak Daren kok panggilnya masih saya sih, kaku sedikit manja.
Tak jauh dari Dela , ternyata ada yang perhatikannya sedari tadi, yang tidak disadari oleh Dela, seorang yang bertubuh tinggi dengan mata sayunya yang berdiri di depan pintunya.
//Sebegitu bahagianya lo La, menerima telpon dari dia, sakit rasanya, mungkin ini juga yang lo rasakan saat itu_ Reynal//
Reynal menutup pintunya dan kembali turun menemui Ayah dan Bundanya yang masih asik dengan tontonan di ruang santai dan sederhana itu.
" Rey.. mana Dedel nak " tanya ayah yang melihat Reynal turun kebawah.
" Masih dikamar yah " jawab Reynal.
" Rey... makan lah dulu, setelah itu ayah bicara sama kamu nak"
" Iya yah" ucapnya patuh
Reynal mengambil nasi serta lauk kemudian menyupkan kemulutnya. Disela-sela makannya Reynal teringat Fia, Reynal segera menghentikan makannya, seleranya tiba-tiba hilang begitu saja lalu Reynal mengambil munum dan meneguknya.
//Hati gue sesak mengingat Fia, tapi ini salah gue, yang main api dan sekarang gue merasakan sendiri_Reynal//
Reynal meninggalkan meja makan, ia pergi keluar tepatnya diteras belakang duduk bersender sambil memandangi langit malam.
Saat ini hatinya sangat kacau, ia sedih harus berpisah dengan orang yang selama ini bersamanya mengisi hatinya yang sepi.Namun ia harus bisa ambil keputusan itu walau terlambat.
Sejujurnya ia pun merasa sakit setelah mengatakan untik mengakhiri hubungannya Dengan Fia, tapi ini adalah Resiko yang hharus Reynal ambil sebagai laki-laki, dan bukan pecundang seperti Dela ucapkan yang hanya mentingkan diri sendiri.
Walau saat ini Dela saat ini sudah memilih Daren yang ia cintai tapi Reynal tidak menutup kemungkinan untuk mendapatkan Dela kembali karena ia tetap pemenangnya, ia tunangan Dela dimata keluarga maupun orang lain meski hati Dela dimiliki Oleh Daren.
Reynal lalu memandangi Foto Fia yang ada di ponselnya, hingga lama hingga air matanya terjatuh membasahi pipinya.
//Maafkan Aku_Reynal//
Lalu ia mencium ponselnya yang ada foto Fia, dan menghapus sisa air matanya, ia tak ingin kedua orang tuanya tau jika ia sedang sedih dan terluka.
Reynal lalu menyimpan ponselnya dan memberi makan ikan yang ada dikolam, itulah sebagai penghiburnya disaat sekarang.
πππππππππππ
.
.
.
Bersambung.
.
.
.
Tinggalkam jejak kalian ya say terima kasih
__ADS_1