
Reynal dan Dela kini berada di Aprtement, mereka sudah putuskan untuk tinggal disana, Dela gak ingin merepotkan banyak orang tuanya atau yang lainnya.
Mau bagaimana pun kondisinya ia ingin bersama Reynal suaminya, seorang yang dulunya ia hindari, tapi kini justru seorang itu lah yang kini menemaninya.
Ya iyalah karena Reynal telah buat dirinya lemah seperti saat ini, begitulah kira-kira dalam fikiran Dela.
" La... sayang, kamu yakin kuat ke kampus?" Tanya Reynal yang khawatir dengan kondisinya saat ini.
" Iya mas, yakin, hari ini ada quis dan Lala gak mau ketinggalan" ucapnya yang berjalan mengarah meja makan yang tak begitu besar.
" Hem... baiklah, kamu sarapan dulu, mau sarapan apa hem?" ucap Reynal pasrah.
" Gak Ada, susu aja cukup" ucap Dela yang sudah dudukin bokongnya ke bangku yang ada dekat meja.
Reynal pun ikut duduk disebelahnya Dela, lalu mengambil susu yang sudah ia buat seperti biasa segelas susu kesukaannya dan juga Dela.
Glek.. glek...!!
Terdengar suara saat meneguk susu dan melihat jakun Reynal naik turun membuat Dela menginginkannya dengan menggigit bibir bawahnya.
Reynal menyadari jika Dela perhatikan dirinya dengan tatapan tak seperti biasa.
" Kenapa hem...?" tanya Reynal lembut.
" Emm... pengen susu kamu" ucap Dela ragu.
" Yakin?" tanya Reynal lagi yang masih ragu.
" Hem eem.." ucap Dela lirih tapi pasti.
Reynal tersenyum melihat tingkah istrinya yang tak biasa " Bentar ya mas buatkan" ucap Reynal yang mengusap pucuk kepala Dela, lalu menggeser kursinya untuk berdiri.
" Mas.." panggil Dela yang menahan Tangan Reynal.
" Iya " menoleh Dela, dengan mengerutkan alisnya.
Dela membuang sedikit malu dan gengsinya dengan pejamkan mata sejenak.
" Lala maunya yang itu , gak mau yang baru" ucapnya dengan nada lirihnya.
" Baiklah, nih untuk kamu, " ucap Reynal yang dengan senyum kembangnya.
" Nanti kita belanja susu untuk kamu ya" ucap Reynal yang memang seharusnya Dela meminum susu ibu hamil, Dela mengangguk, setelah selesai minum susu milik Reynal.
" Enak" ucapnya dengan mengelap sisa susu di mulutnya dengan lengan tangan membuat Reynal tersenyum renyah.
" Kamu ada -ada aja La, susu ya enak la" ucap Reynal.
" Ayo pergi sekarang"
" Iya sabar La... "ucap Reynal dan Dela menurut.
Dela dan Reynal lalu masuk mobil dan segera pergi ke kampus, diperjalanan Reynal sedikit menambah kecepatan karena jalan tak semacet saat pergi sekolah.
Dela yang tiba-tiba menegang entah mengapa ia takut, dengan menggenggam tangan dengan mencengkram paha Reynal.
// Shiit , kok gue tiba-tiba takut gini ya bukankah ini hoby gue, tapi entah kenapa kali ini gue takut _Dela//
Reynal menoleh ke Arah Dela, yang sudah berpengangan kencang, Reynal paham ia langsung mengurangi kecepatan dan menepikan mobilnya, dengan cepat ia mengambil air minum yang tadi sudah ia siapkan." Sayang... nih minum dulu ya" titah Reynal yang memberikan minum istrinya lalu mengusap usap kepala Dela.
" Are you okey?" tanya Reynal yang memastikan Dela.
" Okey, maaf ya mas Lala buat mas khawatir, kecepatannya kurangi ya, entah kenapa saat mas menambah kecepatan Lala takut." ucap Dela jujur.
" Iya, mas yang harusnya minta maaf, harusnya mas tau dengan kondisi kamu saat inì, kita lanjut?" ucap Reynal yang dianggukin oleh Dela , Reynal tersenyum dan mengusap pipi Dela dengan lembut.
Reynal kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar Dela lebih nyaman, Tak kurun dua puluh menit mereka sampai kampus, Reynal melajukan mobilnya hingga keparkiran, setelah mematikan mesin mobilnya Dela segera membuka pintu mobil dan segera keluar, Reynal juga langsung ikut keluar menyusul Dela.
Dela yang terlihat berjalan gitu aja meninggalkan Reynal yang masih berada dekat mobil.
" Ehemm...!! Suara Reynal yang sengaja kencang.Dela lalu menoleh saat Reynal berdehem.
" Oh iya lupa" ucap Dela yang menepok jidat sambil menyengir yang tampak gigi putihnya.
"Kebiasaan " ucap Reynal yang mana Dela sudah berada didekatnya.
" Maaf mas Lala lupa, apa karena bawaan ya" ucap Dela yang memang beberapa kali lupa dengan hal kecil semisal kemarin menaruh ponsel,menaruh kunci mobil, atau alat-alat dapur seperti pisau yang ia letakan begitu saja.
" Mungkin , besok kita konsultasi aja sekalian periksa gimana?" ajak Reynal sekaligus menawarkannya.
" Iya boleh juga tuh" ucap Dela yang setuju.
" Yah udah Lala masuk dulu ya mas" ucap Dela lagi yang kemudian menyalami Reynal serta mengadahkan tangannya.
__ADS_1
Reynal mengerti lalu memberikan beberapa lembar uang ratusan untuknya,
" Hem...jajan yang sehat dan makan yang banyak" ucap Reynal yang dianggukin oleh Dela.
" Makasih mas" ucapnya sambil pergi berjalan menuju ke kelasnya.
Mereka akan berpisah karena ruangan mereka yang memang berbeda, Reynal lebih memilih menatap Dela hingga tak terlihat dengan menyenderkan badannya di pintu mobil sambil menyilangkan kedua tangannya.
" Udah liatnya, Ayo masuk" ucap Reno yang menyadarkan Reynal.
" Eh lo Ren bisa aja" ucap Reynal tersadar.
" Dasar bucin" ucap Reno ysng geleng-gelengkan kepalanya.
" Biarin sama istri sendiri" ucap Reynal kemudian mendekat ke Reno yang tak jauh dari dirinya.
" Lo gak hawatir ni dikampus bakal patah hati berjemaah " ucap Reno yang melirik Reno.
" Bodoamat deh Ren, seenggaknya gue sudah pernah bilang gue gak sendiri , ada teman hidup yang nemani hari-hari gue" ucap Reynal yang terus berjalan menuju kelas bersama Reno.
πππππππππππππππ
Satu jam berlalu , kelas Dela pun akhirnya keluar, dan Dela bereskan alat tulisnya, disaat keluar ternyata Reynal telah menunggunya di depan pintu.
" Mas .." Dela terkejut saat Reynal menghampiri kelasnya.
" Iya ayo pulang, kamu gak papa kan?" ucap Reynal yang masih khawatir.
" Emmm Lala gak apa-apa.., tapi boleh tidak kita sebelum pulang ke makam Daren sama...Fia?" pinta Dela.
Reynal mengeriyitkan keningnya, Dela pun paham akan hal itu, aku kangen sama Daren, dan aku ingin jenguk Fia sebagai permintaan maaf aku ke dia." jelas Dela yang sudah menggandeng Tangan Reynal.
" Cie..cie..."
" Eheeemmm..."
" Lo jadian?"
" Ini cewek lo?"
Pertanyaan dari beberapa teman Reynal dan Dela, Reynal pun hanya berjalan dengan menggandeng Dela.
" Bukan hanya itu,- dia istri gue" ucapnya yang tak ingin sembunyi-sembunyi lagi.
" Haa..!!"
" Serius nih ya?"
" Mimpi gak gue?"
Begitulah respon dari mereka yang mendengar penuturan Reynal.
^Mampus gue Bener kata Reno bakal patah hati jemaah ini^ gumamnya yang masih terdengar oleh Dela.
" Hai Del..., ternyata lo ma dia...?"
" Ag...ia kak Dabarel..,dia suami Gue"
" Pantes dia usil dan berisik, selamat dah untuk kalian" ucap Dabarel dengan sikap cuek.
"Makasih kak" ucap Dela ,Dabarel lalu pergi gitu saja setelah ucapkan selamat.
Fahri dan Desilia terkejut, saat mendengar pernyataan Dela.
" Serius lo Del...?!"
" Iya Sil, kita udah nikah setahun lebih malahan mau dua tahun, maaf ya gak kabari lo " ucap Dela menyengirkan giginya.
" Iya lo jahat, tapi selamat ya, kak Rey baik-baik ya ma dia" ucap Fahri yang menambahi.
Mereka tertawa ringan yang kemudian Reynal dan Dela pamit karena ada urusan yang harus mereka tuju.
Dela dan Reynal masuk mobil, lalu Reynal menghidupkan mesin, dan melajukan mobilnya keluar pagar kampus ,ia bunyikan klakson sebagai salam perpisahan mereka dihari itu.
Reynal melajukan mobilnya sedikit pelan karena ia tak ingin Dela ketakutan seperti pagi tadi, Dela yang terlihat begitu nyaman ia pun tersenyum.
" Mas baru tau ternyata bumil disamping mas ini merasa takut padahal hampir setiap malam dia melakukan kecepatan tinggi, apalagi di areanya.
" Beda dong mas mukin bawaan anak daddy nih" ucapnya dengan kekehan.
Reynal tak lama menghentikan mobilnya, di sebuah toko bunga, ia akan beli dua macam bunga satu untuk Fia satu untuk Daren .
Ayo turun ajak Reynal yang dianggukin oleh Dela, mereka memutuskan memilih bunga mawar yang merah sebagai kunjungan mereka.
__ADS_1
" Sudah?" tanya Reynal
" Iya ni sudah" jawab Dela
Reynal membayarnya kekasir setelah memberi beberapa uang kertas ke penjaga kasir, mereka pun lalu meninggalkan toko bunga dan masuk kemobil.
" Kamu yakin mau liat Fia sayang?:
" Iya.."
Reynal tersenyum lalu mengusap pipi Dela, tak memakan maktu lama mereka masuk kesebuah makam Yang bernama bumi ayu setelah parkir mobilnya.
Mereka berjalan hingga berhenti disebuah nisan bernama Alfia danu putri, mereka duduk dan Reynal membacakan doa untuk mantan kekasihnya.
" Hai Fi..., lo kaget ya gue disini,nih gue bawa Rey sebagai obat rindu lo, maaf ya gue udah rebut kebahagiaan lo, harusnya lo bersanding dengan Rey..."
" Ssstt sayang kok gitu ngomongnya." ucap Reynal dengan menggenggam tangan Dela.
" Kan bener, gue yang nyebabkan dia seprti ini jadi gila karena gue jadi jahat karena gue" ucap Dela lirih.
" Ssstt udah kita balik yuk" ucap Reynal yang takut Dela akan Depresi kembali dengan kenangan - kenangan yang buat dia trauma.
" Kita balik ya bye Fi..." ucap Dela yang dituntun oleh Reynal pergi meningglkan nisan milik Fia.
Mereka kembali kemobil lalu melajukan mobilnya kembali menuju ke pemakaman bumi indah tempat Daren dimakamkan.
" Kamu kuat yank?"
" Iya aku kuat kok mas."
" Yah sudah ayo..." ajaknya lagi.
Reynal membawa Dela ke nisan Daren, orang yang ia cintai setelah Reynal, orang yang cuek tapi ramah dan sopan itu penilaian untuk Daren.
" Hai boo- apa kabar...?,Pasti kamu sudah gak rasain sakit dan bahagia disana." sapa Dela saat berada di samping nisan Daren.
" Hai ren ni gue, gue udah tepati janji gue saat ini, mengumumkan istri gue Dela di orang banyak, thank bro" tambah Reynal.
" Satu lagi jangan iri lo gue ambil Dedel kembali karena dia memang milik gue mine is wife you know."
" Ih apaan si kamu, orang nya udah gak ada dicemburuin" protes Dela
" Yah wajar Daren kan mantan terindah kamu yang.
" Maaf gue gak berantem Tapi gue hanya diskusi" ucap Reunal yang menatap nisan Daren.
"Kalau gitu kita pamit ya ren.." pamitnya
"Dah boo kita balik ya..." ucap Dela yang kemudian digandeng oleh Reynal.
Reynal lalu membawa Dela bejalan keluar makam tampak terder suara Daren memanggil mereka, mereka lalu balikkan badan mereka.
" Bye bee makasih udah datang gue udah tenang gue bahagia disini, Rey gue titip Dela ya jaga dia baik-baik" ucap Daren dari kejauhan yang juga melambaikan tangan dengan senyuman yang indah dan tampak bercahaya.
Mereka lalu mengangguk dan melambai tangan, lalu berjalan menghadap kedepan karena pintu keluar makam sudah terlihat
mereka tetap menggandengkan tangan dan penuh suka cita.
" Mas aku perlu bicarakan dan ucapkan ini, bahwa aku memang menyukaimu sejak aku kecil, tapi kamu tak perdulikanku"
" Maafkan mas, mas tak peka, tak menyadari itu, saat itu mas hanya anggap kamu adik ku wanita ku, tapi disisi lain ternyata aku juga mencintai Fia" jelas Reynal.
Dela tersenyum dan mengangguk mengerti ia paham saat itu allah sedang mengujinya.
Tak ada lagi yang menghalangi mereka, tak ada lagi yang membenci atau pun memusuhi mereka, tak ada batas untuk saling mencintai dan memiliki, keduanya menyadari bahwa memang mereka berjodoh walau tidak djodohkan.
Ya akhirnya mereka menyadari bahwa jodoh memang tak kemana dan mereka saling membutuhkan, kekuatan cinta mereka yang kuat sehingga mengalahkan segalanya.
πππππππππππππππ
.
.
Bersambung
.
.
Jangan lupa like dan komentar sebagai peninggalan jejak kalian.
Salam hangatπ€
__ADS_1
Reynal & Delaπ¦π§