
Sudah hampir satu bulan, Dela berbaring dirumah sakit dengan ruangan yang sama, Aldo sudah Sekolah seperti biasa, dan begitu juga dengan Reynal.
Namun sahabat Dela selalu sempatkan diri untuk menjenguknya walau hanya sebentar.
" Beb-, Kerumah sakit yuk" Ajak Samir
" Iya-, kita kasih semangat mana tau Dela bangun dengar suara kita" kata Mira
" Siap-" jawab Rani juga Aldo yang barengan.
Sedangkan Reynal Duduk termenung ditaman belakang ,ia sedang fikirkan permintaan Daren, serta kondisi Dela yang belum ada kemajuan, terdengar suara dari arah belakang yang mengganggu pendengarannya.
Kreekk...!
" Turun...!"
" Eh ada kak Rey-" seorang siswa yang coba bolos.
" Turun tidak" ucap Reynal dengan menatap remaja itu dengan tajam.
" Ikut saya" ucap Reynal yang berjalan lebih dulu.
Dua orang siswa dibawa ke ruang BK, lalu guru BK serahkan keosis untuk dihukum.
" Kalian ini Mau sekolah atau mau bolos ?" ucap Reynal dengan suara tingginya.
" Kalau kalian Bolos, apa gak kasihan dengan orang tua kalian yang biayain kebutuhan kalian"
" Maaf kak, Kita suntuk aja hari ini, "
" Biar gak suntuk kalian bersikan perpustakaan sekarang" ucap Reynal yang meminta dua siswa itu karena hukuman.
Mereka pun menurut dan mereka pergi keperpustakaan dengan diawasi pengawas perpustakaan, Dan Reynal meninggalkan keduanya, Reynal lalu berkeliling kembali, takutnya ada kejadian yang sama.
Dirumah sakit, Dela masih berbaring lemah, terdengar suara pintu terbuka, kebetulan ruangan Dela tidak ada yang menjaga, mungkin Mama Mila lagi keluar.
Seorang pria menangisi keadaannya Dela, ia juga menyesali atas apa yang ia lakukan, tetapi ia juga tidak mau Dela sedih karenanya.
" Bee- , bangun aku disini -" ucap pria itu.
" Bee-, kamu marah, kamu boleh pukul aku, asal kamu bangun" ucap pria itu lagi yang menatap sendu wajah Dela.
Pria itu adalah Daren, yang menemui Dela, disaat sepi, Daren menghapus air matanya, ia begitu sedih melihat bidadarinya 6ang terbaring lemah, sebelum pergi ia usap wajah cantik Dela dengan lembut.
" Ayo sus, kita balik " Ucap pria itu yang menghapus air matanya kembali.
Tanpa disadari Dela mengeluarkan air matanya, walau tak dapat membuka matanya.
Tak jauh dari sana, terlihat sahabat Dela, yang berjalan dikoridoor rumah sakit, mereka kali ini hanya terdiam bagai patung melihat yang sebenarnya, namun kelu untuk memanggil ataupun sekedar bertanya ke seorang pria itu.
" Bukannya itu-"
" Iya-"
"Sudah, Kalian masuk duluan geh, biar gue tunggu disini, ingat jangan berantem di dalam " ucap Aldo yang juga memperingatkan Aldo segaja mengalihkan peratian mereka.
Tiga sahabatnya sudah masuk keruangan
Dela, Aldo dengan cepat pergi dengan sedikit lari mengejar seseorang yang dia lihat tadi.
__ADS_1
Sementara seorang remaja berada di ditaman dengan menggunakan kursi roda duduk menatap lurus kedepan sana, sambil sesekali menyeka air matanya, menatap foto Dela dengan dirinya yang berpose.
" Kalau lo cinta , harusnya berjuang " ucap seorang dibelakangnya.
" Saya bukan gak ingin berjuang demi dia, tapi dia bukan milik saya, dan akan asaya kembalikan kepemiliknya" ucap seorang remaja itu.
" Ren-, kenapa lo melakukan ini? " ucap Laki- laki itu yang tak lain Aldo yang tadi sengaja mengikutinya.
" Aku gak tega Al , melihat Dela sedih dan kepikiran " ucapnya yang tak lain Daren.
" Sepulang dari LN kemarin, tiba-tiba saya pingsan saat akan pergi nyusul Dela" ucap Daren yang kemudian menceritakan kenapa ia hingga bisa berada disini sekarang.
" Lo yang sabar, Lo juga harus semangat , biar cepat sembuh" ucap Aldo yang memberi semangat ke Daren, tapi Daren menggelengkan kepalanya.
" Saya gak tau Al, apa umur saya-"
" Jangan menyerah Ren-" ucap Aldo ke Daren.
Di ruangan Dela, Rani keluar untuk bergantian dengan Aldo,tapi saat keluar Rani celingukan mencari Aldo yang tidak ada di ruang tunggu, Tapi yang ada hanya dua orang wanita tengah baya dan juga seorang laki-laki seumurannya, yang duduk termenung menunduk.
" Cari siapa sayang?" tanya Bunda yang melihat Rani sedang mencari seseorang.
" Aldo Tan, Ma"
" Aldo, sedari tadi Mama gak liat Aldo Ran" jawab Mama.
" Oh gitu ya Ma" ucap Rani yang masih cari keberadaan Aldo.
" Sini sayang duduk, nama kamu siapa?" tanya Bunda
" Rani Tan" jawab Rani ramah.
" Iya Tan ops Bun" ucapnya lagi dengan canggung serta diiringi senyum manisnya.
Mereka duduk sedikit jauh dari ruangan Dela, dan Rani sedang mainkan ponselnya dengan membalas chat atau membalas komentar yang ia buat hari ini, Lain halnya laki-laki yang ada dipojokan yang sedang terlihat frustasi, Yah dia adalah Reynal yang sedang menutup wajahnya dengan gusar, Kemudian ia menerima telpon dan menjauh.
" Siapa"
.....
" Kalian gak salah"
.....
" Baik proses dia"
....
" Oke kalau gitu"
Mendengar itu semua rahang Reynal mengeras, dengan menggenggam tanggannya dengan kuat.
// Siapa orang itu, bisa-bisanya orang itu menutup rapat identitas yang menyuruhnya_Reynal//
^ Sekali lagi maafin gue La^ gumam Reynal, lalu Reynal kembali ke kursi tunggu dimana ada Bunda dan Mama.
Rani, Biasa saja dengan adanya Reynal, karena Aldo sudah kasih tau dirinya saat sepulang dari rumah sakit namun tidak kepada dua sahabatnya, Aldo menceritakan bahwa Reynal ada hubungan dengan Dela, namun keduanya tidak perduli dengan hubungan mereka, hubungan yang dingin dan saling menyakiti begitulah fikiran Rani melihat hubungan Dela juga Reynal.
// Kak Rey beda, apa yang di lihat disekolah dengan di luar sekolah, kenyataannya iya sangat menyayangi Dedel,dan gak segalak disekolah_Rani//
__ADS_1
" Mb, bukannya itu Aldo, dengan siapa dia" tanya Mama Mila ke Bunda, mereka yang berada disana, langsung menoleh ke arah tangan Mama Mila.
" Daren-!! " ucap Reynal, yang mengenali pasien yang didorong dengan brankar yang akan masuk ke ruangan ICU.
" Rey-, Daren Drop" ucap Aldo yang sedikit panik.
" Memang kak Daren sakit apa Do?" tanya Rani, Aldo dan Reynal tidak menjawab apa-apa, hanya kepanikan yang mereka perlihatkan.
^Ayo bertahan Ren, Demi Dela, Dela juga butuh lo saat ini ^ gumam Aldo.
"^Ren, gue berharap lo kuat, Gue ihklas Dela bersama lo^ Gumam Reynal.
Mereka yang disana hanya saling pandang dengan kedua laki-laki remaja itu.
" Rey-, siapa anak laki-laki itu, Bunda baru liat? " tanya Bunda ke Reynal.
" Daren Bun " jawab Reynal singkat.
" Bukan itu maksud Bunda-"
" Orang yang dicintai Dedel Bun " Jawab Aldo tanpa menoleh.
" Apa, kalian serius?"
" Iya Ma , Tan, Mereka berdua benar, kak Daren kekasihnya Dedel, kalau boleh tau nih maaf, apa hubungan Kak Rey dengan Dela ya ?" Tanya Mira yang kepo.
Rani Dan Samir sudah berada diluar saat perawat meminta mereka untuk keluar lebih dulu, Mira bertanya rasa keponya saat ini sudah tak dapat ia tahan Karena sering sekali melihat Reynal tiba-tiba ada dirumah Dela yang menurutnya gak canggung walau sudah pernah dijelaskan bahwa orang tua mereka berteman.
Mira gak sabar mendengar jawaban dari wanita tengah baya itu, yang biasanya Rani yang heboh tapi kali ini kebalik, Mira yang heboh.
" Oh mereka memang ada hubungan, tetapi mereka menolaknya"
" Maksud Tante"
Pltaak!!
" Mir, lo kok jadi kepo sih kaya Rani " ucap Samir yang sebel dengan kekepoannya.
" Sudah, kalian bisa diam gak!" ucap Reynal juga Aldo barengan, mendengar dan melihat tatapan kedua laki-laki itu membuat keduanya mengeridik, mereka langsung diam kemudian mundur pelan-pelan menjauhi dua laki-laki tampan yang sedang panik.
Kedua orang tua Daren pun sudah datang, mereka menanggisi keadaan Daren, berharap anaknya baik-baik saja.
Dokter keluar dan memanggil kedua orang tuanya, bahwa Daren meminta panggilkan Temannya bernama Reynal, Orang tua Daren terkejut karena baru mendengarnya lalu mengangguk setuju.
Reynal yang juga berada disana terdiam saat Daren memintanya kedalam, Ia berfikir sejenak dan mengatur napasnya lalu masuk keruangan itu.
Hari ini bukan hanya keluarga dan kerabat Dela saja yang berada disana tapi ada keluarga dari Daren.
Mereka sama-sama melihat perjuangan Anak-anak mereka yang berada di dalam, mereka hanya bisa berdoa untuk keduanya agar mereka baik-baik saja.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Bersambung.
.
.
.
__ADS_1