
Di kampus Dela duduk bersama Sesilia dan Fahri bersiap akan ke Kafe LataRi yang tak jauh dari butiknya, sambil menunggu Samir dan Mira.
" Del...,gue liat lo dan Kak Rey-semakin dekat aja, apa kalian ada hubungan?" Tanya Fahri menyelidik.
" Menurut lo?" tanya Dela balik.
" Aku melihatnya biasa aja sih, anggap aja itu fans dekat atau mungkin tetangga dekat" ucap Fahri mengira-ngira.
" Kalau Gue liatnya lebih dari itu" ucap Sesilia.
" Mungkin " ucap Dela singkat.
" Kalian boleh beranggapan dengan asumsi kalian masing-masing yang jelas gue gak sendiri dalam arti gue ada yang punya" ucap Dela yang tidak menutupinya.
" Tapi beneran deh Del..."
" Iyain aja " ucap Dela yang tak ingin ribut.
" Nah itu mereka yuk jalan" ucap Fahri yang menunjuk sepasang kekasih yang baru saja sampai, yang menghentikan obrolan keduanya.
" Maaf menunggu lama " ucap keduanya.
" Iya gak apa ayo buruan entar rame gak kebagian kursi karena tempat itu lagi asik untuk tongkrongan." ucap Sesilia antusias.
" Iya ayo, dulu kafe DN juga selalu rame tapi sayang kafenya gak ada lagi" ucap Sesilia cemberut.
" Lo sering nongki disana juga?, sama dong karena tu kafe miliΔ· co-wok De-del" ucap Mira yang merendahkan nada kalimat akhirnya, karena sadar salah bicara.
" Sorry" ucapnya lirih.
" Serius Del? " Tanya Sesilia menatap Dela.
" Eenhem" jawabnya tanpa ekspresi bahkan wajahnya berubah sendu.
" Yah sudah lo dengan kita aja, ayo berangkat" Ajak Fahri.
" Gak!, Dela dengan gue perginya" ucap seorang sudah berdiri didekatnya, Dela dan yang lainnya terkejud.
" Ka..kak Dabarel..! teriak mereka bareng.
" Em.! sama gue saja Del...?" tawarnya kembali.
" Eem terima kasih kak, tapi gue dengan Samir dan Mira saja" ucapnya setelah keduanya siap masuk mobilnya, Dela lalu tersenyum genit sambil memicingkan sebelah matanya, Siapapun yang melihatnya pasti terpana, Dela kemudian menyusul masuk ke mobil.
//Masyaallah manisnya, tapi astagfirullah sadar Dabarel_Dabarel//
Dabarel yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya, ia paham ia hanya seorang pengagum bukan pencinta begitulah menurutnya.
Diperjalanan Ponsel Dela berdering tanda ada telpon masuk melalui vidio call, Dela lalu mengangkatnya dengan tersemyum yang sumringah.
" Bunda cantik...!" panggil seorang anak laki-laki diseberang sana.
" Iya sayang" jawab Dela yang tersenyum ke anak laki-laki itu.
" Dimana Bun?, Dava ada di bengkel Papa nih" ucapnya Riang.
" Bunda lagi jalan sayang bareng tante Mira dan om Sam" ucap Dela yang mengarahkan kameranya ke kedua sahabatnya.
" Kemana sayang...? " tanya seorang laki-lami bertubuh maskulin itu.
" Kafe LataRi, kenapa?" ucap Dela sembari bertanya.
" Gak papa Sayang, yah sudah hati- hati" ucapnya ke Dela yang kemudian melambai tangannya lewat kamera ponselnya.
Usai telpon ditutup, Mira memutar badan ke Arah Dela. " Siapa?, kok Bunda" ucap Mira dengan nada introgasi.
" Panjang ceritanya Mir, kemarin gue ke panti" ucap Dela yang menyimpan ponselnya kembali.
" Terus...?" ucap Mira yang mengisyaratkan agar Dela melanjutkan ceritanya.
Dela menghela nafasnya dan menceritakan semuanya dari titik jenuh hingga sampai ke panti, dan akhirnya berujung dikamar miliknya , sedang tidur bersama Dava, dan kemudian Dela menceritakan jika dia juga baru tau jika Reynal mengadopsi Dava untuk mereka.
Samir dan Mira hanya mengangguk mengerti tanpa ada pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Tak terasa mereka sudah berada di depan kafe LataRi, Mereka segera keluar dari mobil menuju kafe, didalam sudah ada Sesilia dan Farhan.
" Besok toko baju gue di seberang sana di ruko warna hijau itu" tunjuk Dela yang menunjukan toko bajunya.
" Eeah jadi lo beneran buka tu toko" ucap Samir sembari melototkan matanya ketoko seberang.
" Iyalah bukan kaleng-kaleng dan kalian wajib mampir" ucap Dela yang sudah menggandeng bahu Mira.
" Siap buk bos" dengan mode hormat.
Merekapun masuk dan menemui dua teman mereka yang sudah lebih dulu sampai,lambaian tangan menandakan mereka disana.
__ADS_1
" Lama lo Del, udeh gue pesenin noh es kocok Duriannya, tinggal nunggu aja
" Thank you, maaf hihi" ucap Dela yang perlihatkan gigi rapinya.
Tak lama Pesanan mereka datang barengan dengan Reynal yang masuk bersama Dava yang lari-lari ke arah mereka.
" Bunda.....!! Teriak Dava dengan lari - lari kecil.
"Hey boy... " ucap Dela yang siap peluk sang buah hati yang baru kemarin mereka adopsi.
" Bunda? " tanya Sesilia yang mengerucutkan keningnya yang masih bingung.
" Ketos labil mana?" tanya Samir yang celingukan namun tak dihiraukan oleh mereka.
Tak berapa lama seorang yang tampak gagah dengan hoodie putihnya, dengan tangan ia masukan ke saku celana berjalan santai ke arah mereka, dan dibelakang tampak sepasang kekasih yang mereka kenal, kecuali Sesilia dan Fahri membuat mereka melongo melihatnya, apalagi Reynal seorang senior dikampusnya.
" Ka...kak ga..ga...lak" ucap Sesilia yang terbata-bata.
"I-iya beb, itu kak Rey.." ucap Fahri sama kagetnya, apalagi mengarah mereka duduk.
Sementara, Samir dan Mira gembira karena bakal lengkap anggotanya, hanya tak ada Rani yang kondisinya sedang tidak membaik.
" Papa, Pipi, Mimi" panggil Dava yang berlari ke arah Aldo, Aldo dengan cepat menangkap bocah yang telah memanggilnya.
" Beb... jelasin kekita" ucap Mira yang cemberut dengan tangannya di pinggang.
"Iya bentar gue haus" ucap Dela singkat
" Bener gue butuh penjelasan " tegas Sesilia.
" La..." usap Reynal dikepala Dela lalu duduk dikursi samping Dela begitu pula Aldo yang ikut tepuk-tepuk kepala Dela dengan pelan.
Dela menceritakan semua kenapa Dava bisa mereka adopsi, namun ia tidak menceritakan apa hubungannya dengan Reynal Dela menceritakan kalau mereka hanya teman sedari kecil temasuk Aldo dan Sarah, Dela membuang nafasnya lalu menyendokan minuman kesukaannya.
Sementara Dava sedang disuapin es kocok Alvokad dan beberapa makanan yang dibawa oleh Reynal, dibeli saat mereka menuju ke kafe.
" Lo kapan jadian hem, gak kasih tau gue" ucap Dela ke kedua temannya.
" Hehe maaf kemarin saat lo gak masuk"
ucapnya.
" Tapikan udah kita bayar nih untuk kalian pj kita"
Reynal permisi kebelakang, meninggalkan mereka yang asik ngobrol, sementara Dava asik dengan makannya.
Reynal berjalan masuk ke sebuah lorong kecil dan berhenti disebuah pintu, tak lama ada seorang pemuda yang mengetuk pintu, dan kemudian dipersilakan masuk.
" Maaf kak Rey, ini laporan yang kakak pinta" ucapnya.
" Oh iya terima kasih " ucap Reynal yang mengambil berkas laporan yang dberikan.
Usai periksa laporan Reynal, kembali bersama yang lain menyusul istri dan anaknya.
" Dari mana lo, lama amat curiga gue" cibir Samir, namun Reynal hanya menatap tajam Setajam mata elang yang siap nerkam.
" Maaf bang, piis... " ucap Samir yang mengangkat dua jarinya sambil memamerkan gigi-gigi rapinya.
" Pa dali mana?" tanya Dava yang melihat Reynal baru datang.
" Dari dalam sayang, sudah makannya?" tanya Reynal yang mengusap-usap kepala Dava,Dava mengangguk sembari berkata.
" Sudah pa" ucap Dava dengan gigi kelicinya.
" Pintar...! " ucap Reynal yang mengusap kembali kepala Dava.
" Gemes gue..." ucap Sesilia yang spontan mencubit kedua pipi Dava.
" Aaww sakit tante" ucap Dava kesel.
" Maaf tapi tante gemes, kamu lucu sayang, kamu mau gak sama tante" tawar Sesilia.
" Gak tante jaat, Ayo pa kita pelgi Dava mau cuci tangan" ucap Dava yang menarik tangan Reynal, Mereka yang melihatnya jadi gemes dan kagum.
" Jiwa ke bapakan sudah datang" ucap Samir yang angguk-angguk kepalanya.
" Kode tu Beb" ucap Samir ke Dela dengan naik turunkan alisnya, membuat yang berada dimeja itu anggukin kepala kecuali Sesilia dan Fahri yang masih terlihat mengerutkan keningnya.
Dela yang melihatnya merasa jengah ia pun melengoskan wajahnya dengan malas.
Tak lama Dava dan Reynal sudah balik ke meja mereka, gabung dan ngobrol kembali, Dava lalu menyenderkan tubuhnya ke Dela dengan cepat Dela lalu memangkukannya.
" Sudah sayang?" Tanya Dela ke Dava
" Sudah Bun," jawabnya sambil mendongakkan kepalanya ke arah Dela yang sedang mengahadapnya.
__ADS_1
Reynal kemudian menyeruput Es kocok Alvokad miliknya yang sedari tadi ia abaikan karena subuk harus urus beberapa laporan.
" Ta..., jam berapa barang pesanan Lala datang?." tanya Dela mengarah ke Reynal.
" Habis dzuhur " ucapnya dan dianggukin oleh Dela.
" Eh btw...kalian tau tidak pemilik kafe ini, katanya ia seorang yang tampan dan sukses" ucap Sesilia antusias.
" Oh ya..., tau dari mana lo?"
" Dari pegawai sini yang kebetulan kost tempat gue, bukan bapak-bapak atau suger daddy tapi kaya suger daddy juga gitu katanya"
Uhuuk...uhuuk...!!
" Pelan- Pelan mas" bisik Dela.
" Iya maaf... terimakasih sayang! " bisiknya.
" Tante sembalangan ini punya papa Ley ya!" ucap Dava yang mengerti maksud omongan Sesilia barusan Reynal hanya diam sementara Dela membolakan matanya lalu menatap Dava kemudian ke Reynal dengan tajam, ReynaL mengerti dan meneduhkan dua matanya menandakan itu benar. Dela mengerucutkan bibirnya tanda ia kesel dengan perlakuan Reynal yang tak mau memberi tahΓΉ.
" Ya sudah gue ke toilet bentar " ucap Dela dengan menahan marah, ia merasa dirinya tak ada artinya dengan Reynal, Dela hanya diam membisu di toilet tersebut dengan tahan amarahnya, Reynal langsung menyusulnya dan mendekap tubuh Dela dengan hanggat " *S*orry ", mas tak bermaksud sembunyikan ini semua" ucap Reynal.Dela mengangguk mengerti, ia maklum jika Reynal lakukan ini karena setahun belakangan hungan mereka tak baik.
" Aku gak papa mas!, jangan khawatir!" ucapnya.
" La..., Sorry...." ucap Reynal sekali lagi yang masih mendekapnya sedikit lebih lama kemudian mengecup pucuk kepala Dela.
" Udah baikan? , yuk ..!" ajak Reynal yang menangkup dua pipi Dela, Dela lalu membuang nafas dan mengangguki kepalanya.
Dela berjalan lebih dulu dan dibelakang Reynal, mereka keluar bersama, dan mereka kembali bersama sahabat-sahabatnya.
Aldo melihat keduanya tersenyum, sementara Sarah hanya bisa gelengkan kepala dengan lega.
Mereka kumpul hingga waktu zduhur tiba, Reynal mengajak mereka untuk solat di mesjid yang tak jauh dari kafe, mereka semua setuju dan mereka pergi kemesjid bersama.
πππππππππππππππ
Seharian membuat Reynal merasa lelah usai dari kampus ia langsung menjemput Dava dan membawanya ke bengkel hingga Menyusul ke kafe miliknya bersama sahabat-sagabat Dela.
Ia rela harus kehilangan sahabat asal Dela tak menjauhi, ya cukup setahun yang lalu hukuman itu ia tak ingin rasakannya membali.
Dava sudah digendong bersama bi Marni dan ia membuka pintu depan untuk menggendong Dela, walau badan terasa lelah ia rela dan iklas menggendong istrinya Dela, rasa lelah itu hilang seketika kala melihat wajah teduh Dela saat tidur.
" Kamu memang obat untuk ku sayang" ucapnya lalu meletakkan tubuh Dela diranjang tidurnya, Reynal tersenyum dan mengecup pucuk kepala dan bibir Dela sekilas, lalu buru-buru ke kamar mandi takut sang empu terbangun dan kepergok sedang memandang wajahnya yang membut Reynal tak henti-hentinya memandanginya.
Sebenarnya hilaf gak apa sah kok pikir Reynal yang telah mengguyur air di tubuhnya yang lelah.
Usai menyiramkan tubuhnya yang lelah , Reynal segera membawa badannya ke ranjang untuk istirahat sejenak, menyusul Dela yang sudah berada dialam mimpi.
Dela menggeliat, Tapi badannya terasa berat, Dela membuka matanya ternyata tangan Reynal yang berada di perutnya, dan kepala yang berada dicuruk leher Dela.
Berniat ingin menyingkirkan tangan Reynal, tetapi malah tangan Reynal semakin eratkan di sisi perut Dela.
" Biarkan seperti ini, Mas Lelah La" ucap Reynal yang masih pejamkan matanya.
" Mas nyaman seperti ini, tolong ijinkan ku La selalu seperti ini setiap saat" ucapnya lagi yang kini mengusap perut Dela yang datar.
" Tapi Lala yang gak nyaman jika posisinya seperti ini Mas" ucap Dela yang membalik tubuhnya agar dapat melihat wajah Reynal.
Reynal perlahan membuka matanya sebentar hanya untuk menyapu bibir Dela dengan rakus hingga tak tersisa, Dela yang awalnya diampun ikut membalasnya.
" Ini adalah obat paling manjur yang tak pernah ada La, hanya kamu penawarnya, karena hanya kamu pemiliknya" ucap Reynal mejelaskan dengan mengelap pinggir bibir Dela yang basah dengan ibu jarinya lalu mengecup kening Dela. Dela hanya diam tanpa kata ia mererasa gugup tapi ia juga bahagia atas ucapan Reynal barusan.
" La, gak perlu malu dan gugup gitu, Tata suami mu dan lagi pula kita sudah pernah lakuin lebih dari ini bukan?" ucap Reynal yang membuat Dela terdiam.
" Bahkan suatu saat akan tumbuh buah hati kita disini, dia akan hadir ditengah-tengah kita, walau kebahagian kita kini sudah ada, Dava sebagai pelengkap bahkan obat lelah kita" ucap Reynal mengusap-usap kepala Dela dan kembali menggauli Dela hingga Dunia milik mereka, tepatnya kamar mereka yang mereka rasa hanya ada keduanya tanpa orang lain.
Berhujan keringat membasahi Reynal, tampak jelas begitu terlihat maskulin dengan kulit gelanya, hingga mereka akhiri rasa lelahnya.
Mereka membersihkan diri mereka, dan bersiap untuk magriban, karena terdengar shalawat di mesjid menandakan sholat magrib segera tiba.
Diluar Dava sudah bagun bahkan sudah mandi, saat ini ia sedang bermain bersama Gepa, Papa Duta yang telah pulang kerja , mereka sedang berselawat bersama hingga Azan berkumandang.
" Ayo gepa kita solat" ucap Dava yang menurunkan badannya dari Papa yang sedari dipangku oleh Papa Duta, Papa Duta mengangguk dan meminta Dava memanggil dua orang tuanya yang berada dikamarnya.
πππππππππππππππ
Bersambung
jangan lupa mampir ye, jangan lupa pula tinggalkan jejak kalian, makasih semua
β€
Salam hangatβ€
Reynal & Dela π«β€
__ADS_1