
Bunda Dan Ayah sudah berada di ruangan yang ada di belakang, sambil menunggu mereka sampai rumah.
" Bun kok mereka belum sampai, apa mereka jangan-jangan berantem lagi " kata Ayah yang mengkhawatirkan kedua anaknya.
" Semoga gak yah, soalnya anak Ayah mulai dewasa, pasti ia pulang bareng pemiliknya" ucap Bunda meyakinkan dengan senyum semringahnya,sedangkan Ayah hanya mengerutkan keningnya, lalu menyeruput kopinya.
" Bun, Yah, " panggil Reynal berjalan mendekati kedua orang tuanya.
" Mana anak gadis Ayah, gak kamu suruh pulang sendiri kan Rey?" Tanya Ayah.
" Lala langsung ke kamar Yah" Jawab Reynal.
" Syukurlah kalau kamu pulang berdua, dari cerita Bunda, takutnya kamu pilih Fia ketimbang Dedel" ucap ayah lega.
" Iya yah, Rey ngaku salah, dulu amatlah egois, harusnya Rey menerima apa yang Allah kasih, melalui Bunda dan Ayah yang jodohi Rey dan Lala, Maafin Rey Yah, Bun" jelas Reynal degan wajah menyesalnya.
" Iya Rey, yang terpenting kamu tetap jagain Dedel, terutama perasaannya, dia sudah menjadi tanggung jawab penuh, bukan lagi setengahnya, kalau dulu uang jajannya separuh, sekarang full kamu kasih keDedel Rey" Jelas Sang Ayah.
" Iya yah , Rey faham" ucap Reynal
" Oh iya gimana dengan Surat panggilan Dedel, Rey?"Tanya Bunda tiba-tiba.
" Biar Rey yang urus Bun, Rey bisa atasi ini kok, Rey minta tolong dong Bun, besok selama dua hari ajak dia ke kafe DN " ucap Reynal ke Bunda.
" Itu kafe, jadi kamu ambil Rey?" tanya Ayah
" Iya Yah, itu untuk Lala biar dia yang ngelola yah" jawabnya.
" Apa kamu yakin, itukan milik kekasih Dedel, apa gak ngaruh dengan-" ucap ayah yang terputus karena Reynal.
" Rey yakin, Lala baik-baik aja yah" Ucapnya.
Berhubung sudah sore, dan azan akan berkumandang, mereka putuskan untuk masuk dan bersiap sholat.
Reynal membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, ia melihat Dela sedang vidiocall bersama sahabat-sahabatnya, Reynal duduk disofa sambil menunggu azan magrib tiba.
Dela yang mengetahui adanya Reynal, Dela langsung menutup obrolan mereka, Reynal hanya gelengkan kepalanya, dan bersiap untuk sholat berjema'ah.
Dela memang sedikit berubah, ia paham ia seorang istri, walaupun hatinya berontak tidak terima, dengan pernikahan muda yang ia jalani saat ini.
Dela masih enggan untuk ngobrol, apalagi menegurnya, setelah kejadian hari ini, Dela melihat ada amplop yang tertera ada nama Papanya.
Reynal mengusap wajahnya dengan kasar, dan mengusap kepala Dela yang berada di meja belajar.
" Besok, biar gue yang menghadap guru Bk, gak perlu mama" ucap Reynal yang melihat Dela gelisah.
" Besok lo istirahat dirumah, jangan kemana-mana, gue gak mau lo kluyuran gak jelas " ucap Reynal sebagai peringatan, Dela masih diam, tak ada niatan untuk ladeni celotehan dari suaminya.
" La lo dengerin gue ngomong gak, atau jangan -jangan lo gak ada telinga, makanya lo gak dengerin gue? " tanya Reynal yang memang sudah berada dekat Dela.
" Lo berisik Ta, minggir lo " Ucap Dela kesel.
" Kalau gue gak mau-" Kata Reynal.
" Ta minggir " kata Dela yang menekan kata-katanya.
" Gak mau, lo mau apa? " tanya Reynal yang masih kekeh tetap berdiri di depannya.
Dela yang memutar bola matanya malas, tapi itu membuat Reynal tetap berdiri bahkan ia tak perduli.
" Gue akan hukum lo " ucap Reynal yang menangkup dagu Dela menghadap ke arahnya, Dengan cepat Reynal menyapu bibir Dela, sedikit lama dan sedikit kasar, Dela terkejut yang dilakukan Reynal, Dela coba mendorong Reynal, tapi Reynal malah menahan Dela dengan tangannya.
Reynal melepaskannya dengan penuh kemenangan, walau Dela tak membalasnya.
" Itu hukuman yang pantas untuk lo, karena sudah berani kecentilan di hadapan laki-laki lain, Satu lagi bibir lo buat candu gue " ucap Reynal smirik.
" Lo jahat Ta " ucap Dela yang memegangi bibirnya.
__ADS_1
" Gue suami lo , yang hak atas diri lo paham" ucap Reynal dengan santainya.
" Apa lo dengan Fia juga lakukan-" belum selesai Dela ngomong sudah terpotong dengan Reynal mengecup Bibir Dela kembali.
" Jangan berpikiran kotor, dan jangan ada nama dia lagi jika lagi berdua" ucapnya yang mengusap kepala Dela, lalu masuk kamar mandi, Dela masih mematung, dikursi belajarnya.
Entah kenapa ia merasa aneh saja, dengan sikap Reynal, apa yang dilakukan Reynal itu , apa memang karena hanya merasa tanggung jawab atas dirinya, Fikiran-fikiran negatif mulai berkeliaran di otaknya.
Sampai ketukan pintu dari luar, Dela tak dengar, Reynal yang keluar dari kamar mandi segera membukanya, melihat Dela masih dalam posisinya.
Ternyata Bunda yang mengajak mereka makan malam, Dan akan menunggu mereka dibawah.
" Bunda dan Ayah tunggu dimeja makan Rey" ucap Bunda.
" Siap Bun " ucap Reynal dengan gaya hormatnya.
Bunda tersenyum melihat sikap anaknya, lalu bunda langsung pergi dan Reynal menutup pintunya dan mendekat ke Dela.
" Lo mikirin apa sih, sampai Bunda ketuk pintu gak dengar, lo mikirin tambah daya tadi ya-, hem...hayo " goda Reynal.
" Hah...Emm,,,Eeeh, ng...nģ.nggak " ucapnya terbata-bata serta salah tingkah.
" Iya juga gak apa" colek Rey yang masih menggoda.
" Gue bilang gak, ya nggak, kok ngeyel" ucap Dela yang mencoba bersikap normal.
" Jangan bilang lo mikirin gue sama Fia sedari tadi" tebak Reynal.
" Kalau iya kenapa, pasti lo pernah kan, lakuin itu ke Fia, secara lo dengan Fia pacaran bukan sebulan atau setahun, bertahun-tahun malahan" ucap Dela yang terpancing dengan ucapan Reynal.
Pltakk !!
Tata...!!!
" Iya Lo, mikirnya yang kejauhan, emang lo pernah liat gue begituan"
" Iya" ucap Dela yang kemudian pergi meninggalkan Dela.
Terlihat begitu nikmat menyantap makan malam bersama keluarga Darma, terutama Dela yang menyantap Udang krispynya dengan hati gembira, dan Reynal dengan ayam krispynya, Bunda sengaja masak menu kesukaan mereka, Bunda yang melihat keduanya tak bergeming, tersenyum dan menggelengkan kepalanya, betapa tidak keduanya akan anteng jika makanan kesukaannya ada dihadapan mereka, bahkan keributan kecilpun tak ada.
" Sayang, besok ikut Bunda ya" Ucap Bunda yang telah menyelesaikan makannya.
" Kemana Bun ?" tanya Dela yang masih mengunyah Udang tanpa nasi.
" Ra-ha-sia " ucap Bunda seraya berbisik.
" Bunda- " ucap Dela dengan manja,
" Sudah ikut aja, kita pergi setelah ayah juga Rey pergi, okey" ucap Bunda.
" Okey Bunda, Bunda ada kejutan untuk Dedel?" tanya Dela polos dan dianggukin oleh sang Bunda.
"Seriusan? tanya Dela yang masih tak percaya.
"Iya sayang"ucap Bunda
" Terima kasih Bun " ucap Dela dengan girang.
Usai mereka menyelesaikan makan malamnya, mereka duduk santai di ruang tengah, dan saat itu Reynal mulai berbicara, karena sedari tadi mengganggu fikirannya.
" Rey rasa, Rey akan pindah ke apartement deh Bun, yah, bareng Lala" ucapnya tiba-tiba.
" Lho kenapa Rey, Bunda kesepian dong?" ucap Bunda.
" Selama Rey sibuk di Sekolah, dan Ujian akhir Bun, kan lebih dekat dari sekolah Bun" Jawab Reynal.
" Terserah kamu aja Rey, asal kamu bawa Dedel, kemanapun kamu pergi" ucap sang ayah, Reynal mengangguk mengerti" Iya yah" jawabnya singkat.
__ADS_1
" Tapi Dedel yang gak mau Bun, yah?"
" Lah kenapa sayang?" Ayah Heran.
" Iya kenapa sayang kan memang sudah seharusnya?" ucap bunda tak kalah heran.
" Dedel takut ketahuan nikah muda bareng kakak senior galak kayak Tata?" ucapnya polos.
" Hala paling itu alasan lo aja ya kan?" kilah Reynal.
" Gak kok" Jawabnya cepat.
" Ngaku aja lo takut ka diterkam dengan jaran gue," cibir Reynal.
" Bunda Tata Bun" Adu Dela yang digoda Reynal.
" Rey... udah ah" kata nunda agar Reynal berhenti menggoda istrinya.
" Ingat sebelum Dedel lulus jangan sentuh"
peringat Ayah.
" Siap yah, cuma sntuh yang terlihat aja " ucap Reynal dengan smirknya.
mendengar itu D3labergeridik ngeri.
Obrolan demi obrolan hingga tak terasa hari semakin malam, Dela yang sedari tadi, membuka mulutnya karena ngantuk, membuat Reynal pamit untuk masuk kekamar, lebih dulu dengan menggendong Dela.
" Ayo naik, kita kekamar, sudah malam" titah Reynal, dan Dela mengangguk, siapa coba yang menolak digendong belakang kaya kuda, apalagi kuda yang ia kenal sejak masih kecil.
Bunda tersenyum melihat tingkah mereka, " Dedel sebenarnya masih sama ya yah, masih Dedel yang Dulu yang manja, dan gak bisa jauh dari Rey" ucap Bunda yang langsung menyenderkan kepalanya di dada Ayah.
" Iya Bun, mereka memang tidak berubah, mereka masih sama yang dulu, Mereka hanya butuh waktu untuk membenahi semuanya" ucap sang Ayah yang kemudian mengusap lengan Bunda dan mengajaknya masuk kamar setelah pandangan kedua anaknya menghilang.
Reynal membaringkan tubuh Dela, yang ternyata sudah tertidur, dengan pelan walau sedikit kesulitan tapi ia berhasil membuat Dela tak terbangun, Reynal mengambil boneka kudanya agar berada dipelukannya, dan menarik selimut untuk tutupi Badan Dela.
Cup
Kecupan hangat mendarat ke pucuk kepala Dela." Good night kelinci Tata, tetaplah jadi kelinci Tata, walau liar disana, tetap la kembali untuk Tata " ucapnya lalu megusap kepala Dela.
Reynal tidak langsung tidur ia masih mengerjakan tugasnya, bahkan David mengabarinya, besok ikut pertandingan Futsal ke sekolah Pembaruan, dimana Daren sekolah.
Reynal mengiyakan ia akan ikut pertandingan futsal disana, karena ini pertandingan persahabatan sebelum ujian akhir sekolah dimulai.
^ Shiit mendadak amat sih ^ ucapnya lirih agar Dela tak terbangun.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
.
.
Bersambung.
.
.
Hai semua maaf membuat menunggu, karena aku lama Up nya.terima kasih yang masih nungguin kelanjutan ceritanya ya,
Semoga setiap episodenya memuaskan.
.
.
.
__ADS_1
Salam Hangat
Reynal(Tata) & Dela (Lala)