
Usai mereka membuat Adonan , mereka tinggal menunggu kue yang dibuat jadi, sembari menunggu Reynal dengan jahil mengganggu Dela yang duduk dengan menyanggah wajahnya dikedua tangannya.
Reynal dengan iseng menempelkan sesuatu yang dingin dkeningnya, sontak Dela terkejut dengan apa yang dilakukan Reynal suaminya.
" Tata-" dengan reflek melototkan matanya setelah tau pelakunya.
Reynal membawa es kocok Durian kesukaan Dela, yang ada dikafe sebelah sementara Reynal hanya beli es teler dengan toping yang menggoda bagi yang melihatnya.
" Ini buat Lala?" tanya Dela yang sudah disodorkan semangkuk es kocok Durian kesukaannya.
" Iya..-" ucap Reynal singkat yang melipat satu tangannya dimeja, ya satunya menyela rambut Dela yang mengenai wajah Dela.
" Makasih" ucapnya demgan semyum kelincinya, tapi pandangannya teralihkan ke mangkok satunya milik Reynal tanpa berkedip menatapnya.
" Kenapa-?"
" Keliatannya enak , punya Tata." ucapnya lirih sambil memasukan es kocok miliknya kemulut dirinya.
" Mau-?" Tawar Reynal yang sudah mencicipinya, lalu Reynal dengan senang hati menyuapkan es teler miliknya ke Dela.
" Rey.. , kenapa kalian gak buka kafe lagi gitu?" tanya Mama yang melihat keduanya menyukai dua minuman yang ada didepannya, Mama berfikir untuk bangkit membuka peluang seperti Daren kala itu.
Reynal tersenyum, " Rey sudah punya bengkel dan showroom Ma, insya allah cukup, sama warung di jl.ss sudah bersyukur, Rey bisa penuhi kebutuhan Lala, Entah kalau Lala, Tapi tadi sempat bercerita ingin membuka semacam toko baju atau Distro gitu Ma" jelas Reynal
" Benar begitu sayang?" Tanya Mama ke Dela yang saat ini menghadap Dela.
" I..Iya Ma, ka-lau boleh-" ucapnya lirih Dela yang takut-takut.
" Itu semua tergantung suami mu Nak, dan bicarakan lagi aja nanti, sekarang habiskan esnya Mama mau masuk liat kue buatan kalian okey " ucap Mama yang meninggalkan mereka, mereka berdua pun mengangguk.
" Ta lagi, enak" pinta Dela yang meminta Reynal memberikan suapannya, Reynal tersenyum dan memberikannya lalu mengusap pipi Dela.
" Pelan-pelan" ucap Reynal. Dela menoleh dan tersenyum kearah Reynal kemudian menganggukin kepalanya.
" Sayang ini kue yang kalian buat tadi dan satu buat Bunda ya, titip salam buat Bunda kalian" ucap Mama kepada mereka berdua setelah kembali dari belakang.
" Okey Mama" ucap mereka barengan mengangkat jempol mereka,
" Aduh kalian memang sudah berjodoh, sweet "ucap Sang mama yang mengecup kepala kedunya.
"Kita pamit ya Ma" ucap Reynal yang mengecup pipi Mamanya lalu mencium punggung tangan Mamanya begitu pula Dela yang berpamitan ke Mamanya dan melakukan hal yang sama Reynal lakukan.
Dela menunggangi motor Reynal, setelah Reynal mengenakan helm ke Dela, dan meninggalkan toko kue milik Mama Mila, mereka akan pulang kerumah Bundanya, yang sangat ia rindui sama rindunya terhadap Mama mereka.
Perjalanan Toko Mama kerumah Bunda tak terlalu jauh, mereka sudah sampai di halaman rumah keluarga Darma.
Ya nama Darma dari sang ayah Tomi Putrajaya Darma, tapi Reynal lebih suka memakai nama Reynal Fito, tanpa embel-embel nama sang ayah dibelakangnya, bukan tak menyukainya tapi ia ingin lebih bebas aja, Ayah adalah seorang yang termasuk salah satu pengusaha yang cukup baik dikalangan kolega-kolega, selalu dapat menangkan tender, bahkan Rayhan kini membantu mengelolahnya di daerah Semarang.
Assalamualaikum
Waalaikumsalam
" Rey...,Dedel sayang Anak Bunda" panggil sang Bunda yang berada di ruang tengah, yang tengah menunggu kedatangan keduanya, karena Mama Mila sudah menelponnya lebih dulu.
" Ini ada dari Mama Bun, ini juga ada buatan Dedel" ucapnya kepada sang bunda yang tak lain mertuanya.
" Buatan kita" ucap Reynal membenarkan.
" Iya lah" ucap Dela yang tak mau kalah.
" Udah jangan ribut, gak capek apa ayo Bunda masak kesukaan kalian berdua, serta sayur lodeh kesukaan kalian" ucap Bunda yang menggiring keduanya.
Bunda begitu bahagia, melihat keduanya akur, Bunda diam-diam meminta seorang mengikuti mereka, hingga tau apa yang terjadi pada putra dan putri mereka hanya saja Bunda pura-pura tak mengetahuinya.
" Bagaimana kuliyahnya sayang" tanya Bunda yang sudah duduk bareng mereka.
" Kuliah aman, tunggu deh Bun kok Bunda masak kesukaan kita emag Bunda tau darimana kita akan datang?" tanya Dela heran
" Dari Mama kamu sayang" ucap Bunda ke Dela.
" Setelah makan segera jemaah geh, jangan lupa bersihkan badan kalian" ucap Bunda lagi.
" Iya Bun"
" Beri Bunda cucu lagi dari kalian" ucap Bunda yang menggoda keduanya.
Uhuk...uuhhuuk...!!
" Hati-Hati" ucap Reynal yang memberinya minum.
" Cu...cucu Bun, De..Dedel "ucap Dela yang terbata-bata mendengar ucapan Bundanya.
" Sudah makan dulu, jangan difikirin" ucapan Bunda yang tak ingin membebani Sang menantu walau hati sangat menginginkannya.
Dela seketika diam dan hanya menyendokkan nasi ke mulutnya, ia masih terfikir ucapan Bundanya.
//Gue blm siap akan hal itu, apa lagi untuk memberikan mereka cucu_Dela//
" Udah selesaikan makannya, setelahnya bersihkan badannya, Tata tunggu diatas, Tata duluan" ucap Reynal yang meninggalkan Dela.
" Bun..., kak Rien kapan kesini?"tanya Dela.
" Katanya nanti saat rayakan ulang tahun anaknya Satria" Ucap Bundanya dengan tersenyum Delapun mengangguk mengerti.
Tak berapa lama makan Dela habis, Dela pamit ke Bundanya untuk menyusul Reynal dikamar, karena Reynal sudah menunggunya untuk berjemaah solat.
Cklek.
__ADS_1
Dela masuk kamar dan mencari handuk, untuk segera mandi serta pakaiannya, Sementara Reynal sedang berada di meja belajarnya mengerjakan sesuatu.
Usai urusan mandi dan berwudhu mereka berjemaah melaksanakan kewajiban mereka, dan diakhiri doa.
// Ya Allah, ya Rob terimakasih engkau memberi ku jodoh yang indah dan terima kasih ia sudah membuka hatinya untukku amin_Reynal//
// Bismillahhirahmanirrohim, ya Allah mudahkan semua yang menyangkut hidupku permudahkanlah, perlihatkanlah orang yang salah, orang yang zolim, dan dengan mengucap Bismillah hamba menjalankan hidup inì, berharap menjadi baik amin_Dela//
Dela mengakhiri denganmencium punggung tangan Reynal, dan Reynal membalas mencium pucuk kepala Dela dengan lantunan solawat untuknya.
Dela melipat sajadah dan mukenahnya, lalu dikembalikan ketempatnya,usai itu ia berjalan keranjang tidur Reynal yang sangat ia kangeni, merebahkan dirinya dengan melihat sekitarnya, menatap langit-langit kamarnya.
" Lala kangen dengan kamar ini, Lala juga kangen dengan kamar Lala di rumah Mama" ucapnya lalu menarik selimut, dan memeluk guling disampingnya.
" Ta ..." pabggil Dela lirih
" Hem" jawab Reynal yang fokus dengan kerjaanya dan tak menoleh ke Dela
" Ta...issh dah..." kesal Dela
" Ulangi manggilnya..."ucap Reynal santai.
" Tata...," ucapnya yang ia ulangi.
" Bukan itu yang lain" ucap Reynal.
" Rey..." ulang Dela dengan mengganti panggilannya.
" Kok Rey sih, bukan Tata bukan Rey La"
kesal Reynal namun yang tak diketahui oleh Dela, karena Dela masih binggung apa yang di mau suaminya dengan mengerutkan kening dan mengerucutkan Bibirnya.
" Cup...jelek begitu" menyomot bibir Dela yang sedang memanyunkan bibirnya dengan penuh kemenangan.
" Tata sih ngeselin.." ucapnya yang memegang bibirnya
" Itu hak Tata la, dan kewajiban Lala mengizinkan" ucap Reynal yang mengerti maksud Dela.
Deg...
" Maaf... Lala belum berani dan belum siap " ucapnya lirih..
" Iya gak apa maafin ucapan Tata. ya, Tata gak maksa akan kamu" ucap Reynal Dela tersenyum, mengangguk mengerti.
" Tunggu deh msksud Tata tadi apa?, gak mau dipanggil Tata atau Rey apa t coba, kan sudah dibilang jangan ubah psnggilan Lala untuk Tata." protesnya.
" Huh.... istri siapa sih nih gemesin, ingin rasanya melahapnya, Iya Tata gk minta banyak, Tata suka dengan panggilan Lala berikan, yang Lala sebutkan sewaktu di toko mama tadi, Tata merasa adem saat Tata dipanggil Mas oleh Lala tadi." jelas Reynal yang menutup pekerjaannya.
" Tapi mas-mas, apa gak keliatan tua gitu?" Dela tanya balik Ke Reynal.
" Saat apa?" tanya Dela yang memincingkan matanya.
" Saat kita.... diranjang" ucapnya lirih tepat berada diwajah Dela.
Phuuk !!, Phuuk
Dela melempar bantal-bantal ke Reynal.
" Iya ampun... ampun La ..ampun, iya
maksud aku kalau depan orang tua kita sayang" ucapnya.
" Apa sayang?" ucap Dela mengulangi ucapan Reynal yang terakhir.
" Iya kenapa gak boleh?" ucap Reynal yang menatap Dela.
Deg...
//Sayang apa gue gak salah dengar, apa ini sungguhan, ya allah, Rasanya kok Deg..Deng ser gitΓΉ_Dela//
// Boo... ada apa dengan hati ku, apa aku mencintainya, kalau iya maafkan aku Boo_ Dela//
Cup...
Kecupan Reynal yang membuat Dela sadar akan lamunannya, Dela menoleh ke Reynal.
" Mikirin apa?" tanya Reynal yang mengusap kepala Dela.
" Emmm..emmm gak, Hanya ngantuk" kilah Dela lalu perbaiki posisi bantalnya dan membelakangi Reynal, sambil memegang dadanya yang terdengar detak jantungnya serasa meraton.
Reynal tersenyum, lalu ikut rebahi tubuhnya dan memeluk Dela dengan mengecup tengkuk leher Dela, " jangan tutupi rasa itu, jika memang terlahir untuk ku " ucap Reynal yang membisikan ditelinganya, dengan suara beratnya.
Deg...Deg...Deg...
Jantung Dela berdenguk kencang, ia tak dapat menyembunyikannya lagi dari Reynal, semakin Reynal memeluknya serta memberi sensasi di lehernya semakin kencang Jantung Dela berdetak.
" Aku akan berusaha membahagiakamu La" ucap Reynal sebelum memejamkan matanya.
Hari semakin sore, Reynal terbangun dan masuk kekamar mandi, mengambil wudhu dan menunaikan sholat, usai itu Reynal mengambil Kunci mobilnya serta jaketnya lalu mengecup pipi dan pucuk kepala Dela yang sedang tertidur. ^Mas keluar dulu ^ ucapnya lirih, lalu keluar kamar dengan menutup pintu dengan hati-hati.
" Bi..., nanti kalau Dedel bangun tolong sampaikan aku kebengkel ya?" pinta Reynal ke Art nya.
" Baik Nak" ucap bibi yang paruh baya.
Reynal pergi terlihat dengan suara mobilnya, dengan meninggalkan perkarangan rumah.
πππππππππππππππ
__ADS_1
Mira dan Samir sedang kencan ia pergi kesuatu mall yang terdapat bioskop, mereka ingin nonton yang bergenre romantis, saat ini keduanya sudah membeli karcis serta pop cron, sebagai teman mereka didalam.
" Ci... biasanya kita berlima tapi sekarang tinggal kita, Aldo pergi ke L.N untuk lanjutkan studinya, Rani dan Dedel sibuk dengan rumah tangga mereka jarang banget ada waktu untuk kita kumpul"
" Iya Nta, aku juga merasa hal yang sama, hanya kita gak bisa paksakan mereka cinta." jawab Mira ke Samir yang kini menjadi kekasihnya.
" Terima kasih kalian mengerti keadaanku, tapi jika kalian ingin kita berkumpul, kalian bisa datang ke apartemen ku ataupun Dela" ucap seorang disana, yang Sontak Mereka berdua menoleh ke arah suara bersumber.
" Rani !" ucap mereka sedikit teriak, lalu dengan cepat mereka berpelukan.
" Lo disini juga?" tanya Mira
" Iya gue disini, gue juga butuh hiburan Beb" ucapnya.
" Alhamdulillah " ucap Mira.
" Gimana kabar Dedel?" ucap mereka madih bertanya-tanya.
"Emm biasa dia dulu yang selalu dapat informasi , update semua gosip yang lama ampe baru, kini kudet lo" cibir Samir.
" Ye bukan begitu, tapi aku sudah beda status, jadi ya gak mikirin yang gonoan" ucapnya dengan senyum cantiknya.
" Masyaallah, manisnya istri ku" ucap seorang disana.
" Iya kalian jangan sungkan ke apartemen kita, gue gak melarang Rani untuk berteman bergerak kemanapun" ucap Alex suami Rani.
" Terimakasih kak "ucap Mira yang memeluk Rani, Rani pun membalasnya.
Tak lama mereka masuk ke bioskop karena sudah waktunya mereka masuk, Rani dan Mira memang nonton film yang sama tetapi nomor kursi mereka berbeda sehingga mereka berpisah saat masuki ruangan itu.
Dela sedikit berubah, setelah setahun menikah dengan Reynal, Dela banyak diam ia hanya bisa cerita ke satu sahabatnya Aldo, walau ketiga sahabatnya ikut mendapatkan dampaknya, dengan diam sahabatnya ikut membantu masalah yang sedang dihadapinya bahkan mereka tetap merangkul Dela, dan lebih mengerti Dela.
Ini kali kedua Dela bersikap seperti ini ia lebih tertutup, menutupi masalahnya, terkadang Rani, Mira ,Samir dan Aldo prihatin tapi mereka tak dapat berbuat apa-apa selain mendukung dan mendoakannya.
Dela hatinya sangat hancur saat itu, Reynal sebagai suaminya memilih mantan kekasihnya yang notabennya adalah dalang dari segalanya, ia paham mungkin ia tak ada artinya dimata Reynal, maka ia selalu bersikap dingin ke Reynal,Jika ia sempat luluh, karena Reynal terluka.
Usai nonton Mira cs memutuskan untuk menemui Dela, ia membeli es dijalan ss, menurut Alex ada cafe baru disana, dan menunya hanya nyuguhkan es campur, es teler dan es yang berhubungan dengan durian dan disertz yang paling hits adalah es kocok durian, yang pastinya mereka tau itu kesukaan Dela banget.
Setelah tadi menghubungi Dela, mereka langsung meluncurkan mobil mereka kesana, mereka tak sabar untuk bertemu sahabatnya yang sejak SMP itu.
sesampainya disana mereka di sambut ramah oleh Bunda, yah Bunda yang kebetulan ada dirumah, mereka dipersilakan duduk sembari menunggu Dela turun.
Bunda senang karena dikunjungi dengan anak-anak remaja seperti teman dan sahabat Dela untungnya Dela miliki sahabat yang begitu baik dan seru sehingga buat rumah rame, Bunda memang miliki tiga putra tetapi anak mantunyalah yang buat suasana rame membuat rasa bahagia tersendiri.
Canda tawanya lepas oleh mereka, mereka tak segan lagi ke Bunda, karena Bunda orangnya asik dan termasuk humoris, beda dengan Anaknya Reynal yang miliki sifat kaku.
" Hai semua, sudah lama sampe?" sqpa Dela yang turun dari kamarnya.
"Sudah, ngapain aja sih lo lama amat?" Tanya Samir sewot.
"Dandan lah lo pada kan mau datang" ucapnya songong.
" Hemmm"
" Tadi kalian nelpon mau kesini, gue lagi tidur, dan gue perlu mandi dan Asharan dululah" jelasnya setelah melihat wajah ketiga sahabatnya.
Dela mengahampiri dan memeluk kedua sahabatnya itu, dan tak lama Alex berpamitan lebih dahulu.
" Del... kakak pamit ya, kakak titip Rani" ucap Alex karena Alex ada keperluan.
" Siap kak" ucap Dela mengangkat jempolnya.
" Yank , aku pergi dulu" ucap Alex yang mendakup kedua pipi Rani dan mengecup keningnya sekilas.
" Iya kayank, hati-hati" ucap Rani sembari mengambil tangan Alex untuk ia cium punggungnya.
Setelah Alex pergi mereka duduk kembali, " Beb, nih kita bawa kesukaan lo wajib coba endes bingit " ucap Samir.
" Apa itu?" tanyanya.
" Buka aja"
" Wah kalian baik banget tunggu gue ambil mangkuk." ucap Dela sembari jalan kedapur.
" Ran lo menyebar ke uwuan depan gue" ucap Samir yang iri.
" lha kok gitu," ucapnya bingung.
" Gue jadi pengen halalin ni bocah" ucapnya mengarah Mira.
" Selesaikan kuliah dan kerja yang bener" ucap Mira peringatkan.
" Udah jangan pada ribut, ayo esnya dimakan keburu cair " ucap Dela yang datang bawa beeberapa mangkuk.
Mereka kemudian menikmati es bersama, dengan penuh canda dan tawa, walau kurang farmasi tapi mereka cukup
πππππππππππππππ
.
.
Bersambung
Salsm hangat β€
Reynal dan Delaπ«
__ADS_1