Cinta Senior Galak

Cinta Senior Galak
Eps - 129 Mas Ayah#


__ADS_3

Hari ini, Dela sengaja mengajak Samir dan Mira kerumah sakit menjenguk Rani yang belum pulih, paska kehilangan calon babynya.


Dela tersenyum renyah saat Reynal memberinya ijin pulang duluan dan mampir ke rumah sakit, apalagi Dela perginya dengan sahabatnya tidak begitu khawatir.


Setelelah pulang dari rumah sakit ia akan mampir ke toko bajunya, lumayan lama karena beberapa sibukan.


Samir mengemudi dan sampingnya ada Mira sementara Dela berada di belakang, memejam kan matanya.


Saat sampai dirumah sakit Mira membangunkannya,Dela tersentak terkejut lalu mengucek matanya.


" Maaf gue ketiduran" eluhnya.


" Iya gak apa beb ayo kita masuk" ucap Mira yang bersiap keluar dari mobil.


" Beb.., gue kasihan sama Rani, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa" ucap mira dengan sedih.


" Iya... gue ngerasa gitu, siapa sih yang gak sedih dan terpukul, apalagi kita perempuan " lirih Dela.


" Udah jangan sedih-sedih melulu deh, yang penting Rani sehat dan kita kesini untuk hibur dia bukan buat dia sedih " ucap Samir yang melengos jalan lebih dahulu meninggalkan dua gadis yang ada dibelakangnya, sedangkan gadis yang Ditinggalkan oleh Samir mengerucutkan bibitnya.


" Sekate-kate!"


" **** dah!"


Dela dan Mira yang hampir bersamaan.


Samir tau kedua gadis dibelakangnya pasti sedang merutuki dirinya atau lebih tepatnya memaki dirinya, tapi ia pura-pura tak tau dengan gadis yang ia tinggal toh mereka akan mengikutinya masuk keruangan Rani.


Kreekk !!


Samir dengan santai masuk dengan mendekati brankar Rani, sementara Alex sedang tidur disampingnya.


" Heem... ,siang wooi" cibir Samir yang sedikit keras, sehingga membuat sijoli terbangun.


" Samir lo apaan si?:


" Resek lo , ganggu tidur aja!"


" Hehe, maaf disengaja soalnya jiwa lajang gue meronta" ucap samir menyengir dan menggaruk kepala belakang yang merasa tak enak.


" Sendiri?"


Samir menggelengkan kepalanya" Gak, Noh ada mereka" yang kebetulan pintu terbuka memperlihatkan dua gadis yang sedang masuk.


" Hai beb! sapa mereka berdua, lalu memeluk Rani yang sudah terlihat lebih baik.


" Kangen beb"


" Iya, kapan lo balik?"


" Lusa kata dokter " kali ini yang jawab Alex yang sembari turun dari brankar.


" Beneran , alhamdulillah" ucap Dela ya g dianggukin Rani juga Mira.


" Mana kam Rey?" Tanya Alex


" Ada kelas masih tapi habis ini mungkin ke bengkel karena ada kendala sedikit" ucapnya.


Ya sebelumnya Reynal menerima telpon dari bengkel dan kariawannya melapor ada kendala sedikit di bengkel itu yang Dela dengar saat tadi tak sengaja mendengarnya.


Sisi lain bukan tak ingin menemani menjenguk Rani, tapi sepertinya Reynal tidak baik keadaanya saat berada dirumah sakit, bukan apa tetapi bau obat-obatan yang memicu Reynal enggan menemeni Dela.


Alex sudah bangun dari tidurnya yang membuatnya terganggu, ia pergi masuk kekamar mandi membiarkan istrinya ngobrol bersama sahabat-sahabatnya.


// Semoga keadaan mu lebih membaik yank_Alex//


" Del... gue peratiin ada yang berubah didiri lo," tanya Rani.


" Masa sih gue ngerasa biasa aja"


" Bener deh, lo baik-baik ajakan?, em makannya gimana?"


" Iya alhamdulillah gue baik, malah lebih baik dari sebelumnya, gue dengan senior galak juga baik " ucap Dela yang mengatakan sejujurnya, senior galak lebih tepatnya nama untuk Reynal jika sedang kumpul bareng sahabatnya.


" Yank..., aku keluar dulu ya cari makan sekalian untuk mereka sudah hampir jam makan siang soalnya"


" Iya..." jawab Rani ke alex suaminya.


" Gue ikut dong: ucap Samir yang ikut melangkah keluar bersama Alex.


Usai pintu tertutup Rani tak ubahnya untuk bertanya ia penasaran dengan Dela yang terlihat berubah, ia berharap sama apa yang ia fikirkan.


" Iya.. dada lo padat nonjol bokong lo..." ucap Mira yang juga ikut perhatiin fostur tubuh Dela yang terlihat lebih berisi.


" Lo tekdung?" ucap mereka bareng dan melengking membuat Dela spontan tutup kuping.


Dela gelagapan, ia merasa waktunya belum pas untuk jujur tapi keburu ketahuan lebih dulu Dela bingung harus berkata apa untuk menjelaskannya ia hanya bisa berdiam diri.


" Diam berarti iya" ketus Mira.


" **** dah, Del lo kenal kita berapa lama hem?" umpat Rani sembari bertanya.


" Jangan paksa gue, jika gue belum siap untuk berbagi" ucap balik Dela.


Mereka membuang nafas kasarnya, " oke lo utang ke kita" ucap mereka yang mendapat angukan dari Dela.


Ya walaupun mereka yakin Dela sedang berbadan dua tapi ia tak ingin maksa Dela untuk jawabnya, Malah mereka sebenernya bahagia melihat Dela bisa sebahagia ini.


Alex dan Samir datang membawa makanan dan cemilan, dengan semangatnya, " Nih untuk kalian" ucap Alex yang berpindah ke sofa bareng Samir.


Mereka membuka cemilan lalu sibuk dengan dunia game mereka, sementara Mira dan Dela memakan makanan yang sudah di beli.


" Beb..., sepertinya Batagor lo enak, lo siomay aja ya" pinta Dela yang memelas ke Mira.

__ADS_1


Mira terdiam sejenak lalu tersenyum dan mengangguk " Boleh, gue kurang suka" ucap Mira yang mengerti akan keadaan Dela walau ia enggan kasih tau.


" Terima kasih beb" ucapnya yang memberi senyuman kelincinya.


" Iya Del.." Balas Mira, Sementara Rani hanya geleng-geleng, padahal Dela menyukai Siomay ketimbang batagor tapi ia tiba-tiba memelas mengganti menunya batagor.


Pukul 15.00 wib, entah lah sudah berapa lama mereka disana, yang pasti mereka hari ini malas-malasan diruangan Rani lebih tepatnya rumah sakit.


" Sayang..., " panggil seorang yang membuka pintu spontan mereka bertiga melihat ke sumber suara.


" Mas Tata"


" Kak Rey"


Ucap mereka barengan, yang masih menatap Reynal tak berkedip.


Reynal tersenyum, lalu mendekat ke istrinya, tak lupa mengusap kepala Dela dengan lembut.


Sudah sore ayo pulang kasihan Dava dirumah sendiri, Bi marni kan harus pulang kerumah mama" ucap Reynal selembut mungkin.


" Ran benar ini kak Rey?, selembut ini? " tanya Mira heran.


" Iya.."


" Del gak mimpi kan gue?"


" Gak mir ini laki gue,kenapa?"


" Keren!"


Kedua sahabatnya pun menonyorkan, kepala Mira barengan membuat siempunya mengerucutkan bibirnya.


" Aku dengar ci.."


Merekapun tertawa Renyah melihat sahabatnya yang langsung kicep karena Samir yang tak lain kekasihnya cemburu.


" Ya kan aku gak salah memuji kak Rey, yang nyatanya keren apa lagi dengan rambut barunya, kenapa kamu cemburu?" jelas Mira jujur.


"Gak cemburu sama sekali ci, sama ketos labil yang bucinnya gak ketulungan" ucap Samir tanpa menoleh karena asik dengan layar ponselnya.


" Kalau gitu gue pamit dulu deh, Anak gue pasti lagi bete nungguin gue sedari tadi, gue pulang dan cepat sembuh ingat lo kalau sembuh bisa bikin lagi yang banyak" ucap Dela yang panjang itu membuat Rani hanya tersenyum dan gelengkan kepalanya.


Dela dan Reynal lalu pamit pulang, Reynal yang menggandengkan tangannya ke bahu sambil berjalan.


" Woi Rey jaga sahabat gue awas lecet dan dibuat sedih gue cari lo" ucap Samir sebelum Mereka sampai di pintu lalu Reynal hanya menganjungkan jempol sebagai tanda setuju.


Dela mengikuti sang suami Berjalan tepat mereka berhenti di sebuah pintu yang bertulisan poli kandungan. Dela mengeriyitkan keningnya dengan keheranan.


" Mas ngapain kita disini, ini bukan jalan arah pulang" ucapnya polos yang memang merasa bingung.


" Kita periksa junior ya"


" Apa sih mas kaya aku sudah hamil aja, buat aja belum"


" Dasar pelupa" gumamnya geram"


" Apa si mas, kok diketok kan sakit"


" Hemmmm, Lala sayang yang lucu kaya kelinci kamu lupa sedang mengandung hem..?"


" Mengandung kapan mas nyentuh aku?,


" Astaga Lala nyebelin kamu ya, udah ikut mas aja" ucap Reynal yang kemudian ngetuk pintu dan masuk setelah dapat ijin masuk.


Silakan duduk Sayang " ucap Dokter kandungan , mereka duduk dengan santainya sementara Dokter sedang periksa tekanan darah yang normal serta beberapa pertanyaan, setelah itu Dokter mengoleskan gel di perut Dela yang terlihat masih rata.


" Rey.., kamu perhatikan kelayar ya biar terlihat ada apa disana" titah dokter itu dan Reynal menatap layar monitor dokter lalu menjelaskan apa yabg ada dilayar, Sedetail betul sejelas mungkin bahkan air mata Reynal jatuh dari tempatnya.


" La...itu dia" ucapnya yang menggenggam tangan Dela lalu mengecupnya. sementara Dela hanya mengangguk dengan senyum harunya lalu mengusap air mata Reynal yang masih mengalir.


" Rey... jaga mereka"


" Iya tan" ucap Reynal.


Tak lama Dela dipersilakan duduk dan dokter pun menjelaskan apa-apa aja yang dibutuhkan saat hamil dan setelah selesaì merekapun pamit undur diri.


Usai keluar dari ruangan dokter kandungan Reynal dan Dela berjalan melewati koridor rumah sakit menuju parkiran.


πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡


Dirumah Dava sudah bete bahkan ia menutup kamarnya, karena kedua orang tuanya tak kunjung pulang , Bi marni hanya mengulum senyumnya dan menggelengkan kepalamya.


" Mirip Neng Dedel kecil, padahal Dava bukan anak kandungnya apa lagi anaknya beneran hem pasti bibi bakal kewalahan walau Den Rey selalu peratiin dan membantunya" gumam bibi yang tak terdengar oleh siapapun.


Bi Marni memang bekerja cukup lama de gan keluarga Dela. setelah bi Marni kehilangan suami dan anaknya saat kecelakaan menuju jakarta, hingga bertemu orang tua Dela yang ternyata orangnya amatlah baiΔ·.


Assalamualaikum...


Waalaikumsalam...,


" Sudah pulang Non?" ucap Bibi yang tersadar akan lamunannya.


" Sudah bi, Bibi mau pulang sekarang, ayo bi biar Rey antar" ucap Reynal yang siap antar bi Marni.


" Dava dikamar bi?"


" Iya... , sepertinya ia ngambek neng karena sedari tadi nungguin neng pulang" jelas bi Marni.


"Iya maafin Dedel bi.." ucap Dela yang merasa bersalah, lalu berjalan masuk kamar, sementara Reynal siap antar bibi kerumah mama Mila.


Dikamar Dava tiduran di ranjang dengan menangis, hingga segugukan, Dela merasa bersalah gak harusnya ia meninggalkan Dava lana-lama.


" Dava..., liat nih Bunda bawa apa hayo tebak?" ucap Dela

__ADS_1


" Gak Dava malah." ucapnya.


" Marah kenapa?"


" Bunda sama papa gak tepati janji."


" Maaf sayang..., tapi bunda bawa kesukaan Dava donat loh kesukaan Dava"


Dava yang tak tahan marah pun lalu menoleh Ke Dela" benelan Bun?"


Dela tersenyum manis" iya sayang" Ucapnya yang disambut suka cita.


" Ayo Bun kita makan Donatnya" ucap Dava dan dianggukin oleh Dela.


Waktu berlalu menunjukan pukul 17.37 wib itu tandanya sore telah berganti, Dela dan Dava siap-siap mandi dan bersiap sholat magrib bersama.


Terdrngar suara pintu terbuka, Seorang laki-laki berahang besar mendekat mereka berdua ingin mendaratkan kecupan tapi sudah ditahan terlebih dahulu.


STOP !


" Mandi dulu baru boleh" dengan berat hati Reynal menurut dan masuk kamar mandi dengan menyambar handuknya


Tak Lama Reynal sudah selesaikan mandi dan mengenakan pakaian yang telah disiapkan Dela tadi.


"Anak Papa harum bener?"


" Iya dong " ucap Dava.


"kalau anak Daddy gimana? gak nakal kan? gak ngambek kan?" tanya Reynak.yang mengusap perut Dela yang Rata.


" Gak, yang nakal Daddynya yang lupa pulang" ucap Dela yang mengerucutkan bibirnya.


" Bun emang Dava mau punya adek?"


" Iya sayang " jawab Reynal yang lebih dulu jawab pertanyaan Dava.


Tapi kenapa panggilannya beda sih,


Reynal tersenyum renyah ternyata Dava protes akan panggilannya." kamu boleh menggantinya Daddy dan mommy untuk bunda.


" Ih apaan sih jijik Mas panggilan itu, aku sukanya di panggil bunda sederhana dan nyaman.


" Gak mommy, karena aku suka sebutan itu"


" Tata...ih lo nyebelin" ucapnya yang kemudian berlalu pergi gitu aja dari hadapan mereka.


" Bunda marah pa?, bujukin geh, Dava sedih liat Bunda nangis" ucap Dava seakan mengerti perasaan Dela.


Reynal membuang nafasnya lalu mengacak kepala Dava dengan sayang


" bentar ya Papa susul Bunda" ucap Reynal sembari berjalan.


Dela membuka tv dan menontonnya padahal azan magrib sebentar lagi, mungkin moodnya lagi tak baik.


" La..., maafin Tata.., iya untuk saat ini boleh deh dipanggil bunda hingga Anak kita lahiΕ•"


" Apa bedanya besok nanti sama aja" ucap Dela yang lirih.


"Ya udah Bunda jangan marah dong kasihan Dava ikutan sedih liat Bundanya begini"


" Serah"


" Kok gitu, kasihan malaikat kecil ni diperut kamu, gak kasihan hem, lagi pula kita kan mau makan diluar bertiga"


Dela yang mendengar penjelasan Reynal cukup bahagia moodnya kembali seperti semula, apa lagi dengar Reynal menyebutkan dirinya ayah. ia berfikir kaya udah tua aja, tapi unik juga sih ia pun tersenyum Renyah.


" Ayo mas Ayah..


" Kok mas Ayah?"


" Mas Papa.."


" Bodo amat ayo berjemaah Dava sudah menunggu" ucap Dela.


Mereka mengambil air wudhu dan berjemaah seperti biasanya, Reynal yang mimpin solat Sebagai imam ini untuk pertama kalinya bagi Dava berjemaah bareng kedua orang tua angkatnya.


Mereka berdoa dengan doa masing-masing hanya mereka sendiri lah yang mendengarkannya.


Dava cukup bahagia mempunyai kedua orang tua walau masih dibilang muda, tetap ia syukuri.


Dela juga bersyukur sejak kehadiran Dava hidupnya lebih sempurna walau terkadang ada kerikil-kerikil yang buat mereka akan ribut-ribut kecil.


Pukul menunjukan pukul 19.05 mereka bersiap untung pergi makan diluar bertiga.


Dela menngenakan Pakaian yang tadi diberikan Reynal untuknya, dres berwarna hitam yang tampak pas dibadanya.


" Sweet !Kata itu yang pertama kali Reynal ucapkan,.


" Hem dimana-mana Cantik ini sweet gak romantic " ucap Dela yang menyambar tasnya dan melengos pergi.


"Astagfirullah .., tepok jidatnya" stupid" makinya pada diri sendiri untuk ngomong cantik meleset kemanis.


"Sayang maksud mas kamu manis dan cantik seperti bidadari dengan mengejarnya.


Namun Dela masih manyunkan bibirnya mengikuti Reynal dan Dava yang sudah dituntun oleh Reynal


" Hem dilupakan" gumamnya


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Bersambung.


salam hangat

__ADS_1


Reynal Dela.


__ADS_2