
Keadaan Reynal sudah membaik, Reynal tak ingin berlama-lama dirumah, hari ini ia berniat untuk ke kampus, karena sudah tiga hari liburkan diri.
Reynal melihat Dela yang asik dengan benda pipihnya, mengerjakan sesuatu, dengan fokusnya Reynal lalu mendekatinya.
" La...bangun..., kamu hari ini ada kelas pagi" ucap Reynal ke Dela istrinya.
" Bentar lagi" ucap Dela singkat.
" Sudah jam 08.00, Ayo mandi, Tata tunggu di meja makan" ucap Reynal sambil mengacak rambut Dela dengan sayang, Dela hanya mendongak ke arah Reynal lalu mengangguk.
Seperti biasa Reynal akan siapkan Buku Dela, dan membawanya ke kursi kosong yang ada dekat meja makan mereka.
Reynal sudah beberapa hari tidak menyiapkan sarapan untuk istrinya, pasti istrinya sangat tersiksa sarapan tanpanya,
bukan itu saja, pastinya ia makan tidak teratur.
Reynal tersenyum melihat Dela begitu ceria dari beberapa yang lalu, terlihat begitu semangat pagi ini, Dela duduk samping Reynal, lalu Keduanya sarapan dengan menu apa adanya.
" La... nanti langsung pulang atau-" tanya Reynal yang sudah diputus oleh Dela.
" Kerumah Bunda tapi ke toko kue Mama dulu, gue kangen sama Mama" ucapnya lalu meneguk susunya.
" Aku bukan gue La" ucap Reynal mengingatkan.
" Iya aku, puas! "ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Cup..!
" Kebiasaan..." ucap Reynal mengusap bibir Dela yang basah karena ulahnya.
" Kenapa si Ta, kaget tau" ucapnya yang makin memanyunkan bibirnya.
" Sudah, ayo pergi nanti telat" ucap Reynal yang tak perduli dengan keluhan Dela.
" Iya...iya" ucapnya yang memasukan Roti kemulutnya.
Mereka pergi ke kampus bersama, menggunakan motor sport Reynal, Reynal mengembangkan senyumnya, yang tak terlihat oleh Dela.
Sesampainya dikampus tak banyak mahasiswa/i melihat keduanya, Dela dan Reynal cuek, tak seperti saat mereka masih berada di SMA, yang masih sembunyi-sembunyi.
" Kak Rey..., dia siapanya kak Rey, bukannya dia maru ya?" bisik seorang gadis.
" Kak Rey... sama tu cewek serasi." ucap seorang lagi.
Begitulah yang terdengar bisikan-bisikan dari beberapa mahasiswa dikampus.
" Sampai sini aja, mana uang saku gu...em Lala.." ucap Dela setelah sampai parkiran.
" Ulangi" titah Reynal.
" Uang saku Lala mana Ta?" ucap Dela lagi.'
" Ulangi" titahnya kembali.
" Uang saku" ucap Dela yang menekan setiap katanya.
" Yang bener , ulangi"
" Tau ah, nyebelin" ucapnya yang melangkah pergi.
Dela pergi meninggalkan Reynal begitu aja, Namun Reynal berhasil menarik ransel Dela, dan menghentikan langkah Dela.
" Mau kemana?"
" Masuk lah" ucapnya santai.
" Lupa?"
" Nggak, tapi sengaja" Masih dengan nada keselnya.
__ADS_1
Tukk..!!
" Tata apa sih," membuat Dela menerima uluran tangan Reynal.
Dela langsung pergi gitu aja, setelah mencium punggung tangan Reynal, Reynal hanya menatap kepergian Dela, hingga terlihat punggungnya, lalu ia melangkah kekelasnya.
" Rey..., kemana aja lo, tiga hari gak muncul" ucap Dion, salah satu teman Reynal, Reynal hanya diam sambil memegang perutnya.
" Kenapa lo?" tanya Reno.
" Gak papa" ucapnya.
" Jangan bohong lo, gue tau dari Azar, lo
sakit" ucap Reno.
" Iya..." jawabnya singkat.
" Bisa sakit lo?" tanya Dian yang sudah mendaratkan bokongnya dibelakang Reynal.
" Bisa aja lo "ucapnya singkat.
Tak lama obrolan mereka terhenti saat Dosen matakuliah datang, kelas menjadi sunyi, dan siap menerima mata kuliyah.
Begitu Dengan Dela yang berada dikelasnya, mereka diam tertib menerima mata kuliyah dari dosen mereka.
Waktu dua jam cukup, dan dosen pun mengakhirinya, usai dosen keluar semua keluar dan pergi dengan tujuan masing-masing.
Dela memilih pergi disuatu taman, ia yang duduk dibangku tepatnya dibawah pohon, dengan memakai heardphonenya dan membaca buku yang ia beli beberapa waktu yang lalu, menghafal pasal, itu pekerjaannya saat ini, menurut beberapa sebagian orang mungkin membosankan tapi Dela semangat dengan itu.
// Gue yakin ini bukan kebetulan, dan gue yakin ia sengaja, kalau nanti terbukti, gak akan gue lepaskan walau ke ujung dunia_Dela//
" Rajin amat baca tu buku?" tanya seorang yang mengejutkan dirinya.
" Kak Dabarel, disini juga?" Tanyanya.
" Hehem, sedari tadi, sebelum lo datang?" ucapnya yang menaikan satu alisnya.
" Ada sih, lagi pengen aja disini" ucapnya santai.
" Tunggu deh, kenapa kakak lebih suka disini?, ketimbang tempat lain gitu?" tamya Dela penasaran.
" Mungkin jawabannya sama kaya lo, nyaman dan adem, biasanya anak-anak lebih milih rooftop atau kantin, minimal perpus, sebagai wadah menambah ilmu mereka, tapi gue lebih memilih tempat ini" ucap Dabarel.
" Disini taman yang jarang dikunjungi mereka, karena menurut mereka sini tempatnya sedikit menyeramkan, padahal hanya tak dirawat saja, dan bagi gue asik-asik aja tuh, terus menurut lo sama, merasa demikian?" tanya balik Dabarel.
" Nggak juga sih, biasa aja menurut gue, yang penting bagi gue nyaman, itu nomor satu, selebihnya bodo amat" ucap Dela yang semakin membuat Dabarel mengaguminya.
" Lo memang beda dari perempuan lain yang gue temui" ucap Dabarel.
" Lho emang kenapa?" tanyanya.
" Ya karena lo nggak jijik atau sok-sok jijik" ucap Dabarel santai.
" Apa sih kak bahasanya gak paham gue?" ucap Dela yang pura-lura tak mengerti.
" Iya kebanyakan cewek atau perempuan , itu banyak pentingin skincare, atau maunya yang bersih, steril gitu" ucap Dabarel.
" Apaan lo kak..., gue sudah biasa dari kecil." ucap Dela sombong, " Lo pernah dengar cerita kuda dan kelinci tidak kak?" Tanya Dela.
" Gak, kenapa?".
" Mereka memiliki kekuatan yang sama, memiliki lari yang kuat, Kalau kelinci itu peka terhadap suara sekalipun jauh, ia bisa menjangkaunya"
" Kalau kuda?"
" Kalau kuda, itu ia hanya miliki rasa, sama tuanya peka ke yang punya" ucap Dela asal.
" Gue baru dengar?" ucap Dabarel yang bingung dengan ceritanya.
__ADS_1
Ppuftt..., puftt...
" Kak Dabarel lucu tu mukanya." Dela terkikik mendengarnya.
" Apa? " tanyanya.
" Itu hanya cerita dongeng ketika gue mau tidur kak" ucap Dela yang gugup.
" Lo ya, ngerjain gue" ucap Dabarel.
Membuat keduanya tertawa bersama, begitulah candaan mereka yang asik dibahas, tak jauh disana Reynal menghentikan langkahnya, saat Dela bercerita, // mungkin itu hanya dongeng La tapi bagi Tata itu nyata, Tata menyayangi Lala, sama seperti kuda yang menyayangi kepada pemiliknya_Reynal//
Ehem...
Keduanya berhenti tertawa , dan menoleh ke arah sumber suara yang mendehem kearah mereka.
" Ngapain disini, ayo" ajak Reynal yang menatap ke arah Dabarel.
" Gak, Tata aja yang disini bareng kita, sini adem Lala nyaman" ucapnya.
" Tapi-"
" Ta-"
" La... kalau gak mau , Tata paksa"
" Stop..berisik, lagi-lagi lo ganggu Dela, gak ada puas-puasnya" ucap Dabarel yang merasa risih dengan kelakuan Reynal.
" Dela hanya milik kudanya, dan kudanya akan patuh pada pemiliknya, tapi kalau pemilik kudanya, diganggu maka kuda itu akan marah bahkan lebih dari itu, paham!" jelas Reynal yang tak lepas pandangannya ke arah Dabarel.
" Tapi Ta..., iya-iya... emang mau kemana?" pasrah.
" Kemana aja Kelinci Tata, jangan nakal lagi bisa?" ucap Reynal yang meminta ke Dela.
Reynal membawa Dela yang sedang bercanda bersama Dabarel, Reynal cemburu, karena Dela dekat dengan orang lain, selain dirinya ataupun sahabat-sahabatnya.
Reynal sedikit emosi dengan menggenggam tangannya sampai terluka Dela meringis kesakitan.
" Ta.. kenapa, cemburu? "tanta Dela kesa.l
" Iya..kenapa, salah?" yang tak kalah kesal.
" Tapi cemburu Tata yak beralasan"
" Tata gak perduli.." yang masih menatap lurus kedepan.
Reynal bawa Dela kesuatu tempat, disana tempat para senior nongkrong, Dela merasa segan, tapi Reynal memaksanya hingga ia mengikuti langkahnya.
πππππππππππππππ
.
.
.
Bersambung...
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kslian sobat, terimakasih.
.
.
Salam Hangatπ€
__ADS_1
Reynal&Delaπ¦π§