Cinta Senior Galak

Cinta Senior Galak
Eps- 133 Akhir#


__ADS_3

Minggu ke minggu telah berlalu, Reynal bahkan sudah mengurus keperluan Dava untuk pindah sekolah yang ia mau, Reynal berubah menjadi sosok dewasa dan siaga baik untuk istri maupun anaknya Dava, meski dengan kesibukan kerjanya ia isi waktu -waktu tertentu untuk keluarga.


Duduk dan menyelet bakau di luar kantor dengan perhatikan pekerjanya membenahi mobil-mobil yang ada di bengkel.


" Bos...., ada tamu tu.." salah satu karyawannya.


" Siapa?" tanya tanya Raynal yang menaikan alisnya.


" Ngakunya teman SMA bos," ucap karyawan nya lagi.


" Okey, suruh dia kemari"


" Gak perlu gue disini Bro" ucap seorang yang berjalan dengan gagahnya.


" Ngapai lo kemari?" ucapnya datar.


" Brengsek lo, nemui sahabat gue yang ternyata rokok udah jadi candunya" kikik David.


" Sial lo.." Ucap Reynal yang mematikan puntung rokoknya.


" Rey..."


" Hem..."


" Usaha lo maju, gue iri jadinya"


" Biasa aja"


" Gue serius, bahkan gue kesini mau minta tolong ke Lo Rey,"


" Minta tolong apa?" tanya Reynal yang merasa keheranan.


David kemudian menceritakan tujuan ia menemui Reynal, hingga Reynal mengangguk dan menyetujuinya menurutnya ada baiknya ia membantu sahabat lamanya.


" Thanks Rey lo penyelamat gue, gue gak tau harus berterima kasih" ucap David yang memeluk Reynal ala lelaki.


" Lepaskan risih gue " ucap Reynal yang meminta David melepaskan pelukannya.


Disaat mereka menyusun strategi untuk perusahaan David.Pintu terketuk dan belum saja Reynal persilakan masuk, Seorang wanita masuk kekantornya membuat dua sosok pria menoleh kearah pintu.


" Mas Tata.." panggilnya lalu mendekat ke Reynal dan mendudukan bokongnya dipangkuan Reynal.


" Nih..." Ucap Dela yang memberikan amlop di tangan Reynal.


" Ini apa?" tanya Reynal bingung.


" Surat cinta dari pak Dosen " ucap Dela dengan santai.


Reynal paham yang dimaksud Dela, ya Dela memang sering bolos atau hanya sekedar tidur dikelas saat jam pelajaran berlangsung.


" Lagi..?" tanya Reynal.


" Heem..." ucapnya lagi dengan angguk-anggukin kepalanya berat.


" Gak berubah lo La" cibir David yang membuang wajahnya ke arah lain.


" Bo-mat" ucapnya santai yang sudah tau jika ada David diseberang meja kerja Reynal.


" Lo gak capek Rey?"


" Gak..! " jawabnya santai karena Reynal tau Dela begitu karena lagi mengandung buah hatinya. iapun tak berniat berdebat hanya masalah seperti ini, apalagi ini sudah biasa menurutnya.


Obrolan demi obrolan hingga waktu menunjukan pukuΔΊ 16.00 wib, David lalu undur diri untuk kembali kekantornya.


Sementara sepasang pasutri masih berada dikantor, Dela pun sudah terlelap tidur dipangkuannya sejak 20 menit yang lalu.


Reynal tersenyum melihat wajah bantal Dela yang saat ini terjaga dengan tidurnya.


" Gemes, gemoy liatnya, tapi aku suka, sayang... Kamu tumbuh gede ya, Daddy bisa merasakannya" gumam Reynal mengusap-usap perut Dela yang jika diperhatikan sudah terlihat.


🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎


Tiga minggu kemudian.


Reynal telah menyelesaikan pekerjaannya karena ia harus ambil libur termasuk dengan David ia segera tuntaskan.


Iapun tak menyangka ada orang dalam dibalik ini semua, untungnya jabatan yang ia dapat yang ikut sertaannya dalam kepolisian tak sia-sia, Semua ia berantas sampai ke akar-akarnya.


Reynal memang seorang biasa, yang hanya menguasai otomotif di bengkel miliknya serta Cafe yang ia dirikan beberapa tahun untuk sang istri jika nantì ia merasa bosan ia dapat salurkan bakatnya disana.


Namun dibalik itu semua ia diam-diam berlatih menguasai diri hingga ia dapat bergabung bersama keanggotaan kepolisian.


Setelah beres urusan yang terbilang cukup padat , Reynal lalu ingin mengambil hari liburnya untuk berdua saja bersama istrinya, bisa dikatakan mereka baby mons.


Dela sudah tak merasakan mual, ataupun yang aneh-aneh menurutnya, tapi ia merasa semakin berat saja badannya.


" Mas..."


" Hem.."


" Lala gendutan ya, jelek ya, gak cantik lagi pasti" ucapnya sambil bercermin dihadapan tolet yang ada di depannya.


Reynal lalu melepas kacamatanya dan menutup leptopnya, berjalan kearah Dela berdiri lalu memeluknya dari belakang dan menompang dagunya di bahu Dela.


" Kamu cantik dan seksi La" ucapnya sambil berbisik tepat ditelunga Dela.

__ADS_1


" Kamu jujur mas?"


" Iya aku berkata jujur, udah Ayo kita tidur sudah malam, karena apa?" ucap Reynal yang mengangkat tubuh Dela menuju ranjang.


" Liburan" ucapnya girang sambil mengepalkan tangannya dan menaikkannya ke udara.


" Pinter..., " ucap Reynal yang telah berhasil membawa Dela ke ranjang.


Reynal lalu ikut naik keranjangnya dan mengusap-usap perut Dela yang pastinya jika ia mengenakan jins lamanya ia tak akan muat karena perut yang sudah terlihat menonjol.


Perlakuan Reynal pun membuat Dela nyaman dan Dela terlelap dengan berada di dada bidang Reynal, begitu pula dengan Reynal yang tak menyadari jika ia pun terlelap tidur.


Pagi terdengar kumandang Azan Reynal membangunkan Dela untuk bersiap -siap untuk melaksanakan ibadah.


" La...sudah subuh sholat yuk ajak Reynal yang kemudian mengecup pipi Tembem Dela.


" Ngantuk mas" ucapnya setengah sadar.


" Ayo bumil gak boleh malas, nanti-" Reynal mengingatkan Dela.


" Iya -iya Lala bangun" ucap Dela yang membuka matanya dengan mengerucutkan bibirnya.


" Tambah gemes " ucap Reynal yang mengambil bibir Dela yang masih ia majukan.


" Mesum" ucapnya yang turun menuju kamar mandi lalu menutupnya.


Reynal hanya menyungingkan senyumannya lalu menggelengkan kepala, menurutnya lucu aja sang istrinya jika datang pagi pasti kelakuannya tak jauh dari bocah.


Reynal lalu merapikan tempat tidurnya sambil menunggu sang istri selesaikan ritual mandinya.


Mengambilkan bajunya dan baju sang istri yang akan dia kenakan, bagi Reynal itu sudah biasa, melakukan hal itu, ia tak permasalahkan Dela harus mengerjakan pekerjaannya, bagi Reynal ia nurut aja itu sudah cukup.


Bagi Reynal, menjalani hubungan rumah tangga dengan Dela adalah tuntutan dan tanggung jawabnya, Dela adalah wanita yang ingin ia jaga selain Bundanya, Dela adalah orang yang harus ia perjuangkan dan istimewa untuknya selain bundanya.


Cklek...!


" Mas..." Panggil Dela yang keluar dari kamar mandi.


" Sudah?" Tanya Reynal yang sedang berkutat dengan ponselnya.


" Hemm" ucap Dela yang menganggukin kepala dengan mengeringkan rambutnya.


Reynal lalu melangkah untuk masuk kamar mandi sementara Dela mengenakan pakaiannya.


Dreet...Dreetz...!


Ponsel milik Reynal pun bergetar, Dela lalu mengangkatnya.


" Iya...."


" lagi mandi bun"


"...."


" Iya bun ,makasih bun..."


Dela lalu meletakan kembali ponsel Reynal dan kembali ke tolet untuk berhias diri.


" Siapa?" Tanya Reynal yang kebetulan keluar kamar mandi.


" Bunda" jawab Dela yang masih menyisir rambutnya.


" Bunda?" tanya Reynal yang bertanya


" Iya , Bunda hanya bilang hati-hati" ucap Dela.Reynal pun lalu mengangguk-angguk lalu mengambil pakaian yang ia siapkan tadi.


" Ayo, keburu waktunya habis" ucap Reynal yang mengambil peci dan sajadah, Dela mengangguk mengerti lalu menyusul Reynal yang sudah siap menunggunya.


Tak membuang waktu mereka lalu segera melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim dengan dua rekaat kala subuh, usai selesaikannya urusannya mereka sempatkan diri untuk mengaji sejenak.


Pukul 07.00 wib mereka lalu siapkan diri dengan cukup satu koper, karena menurut mereka disana mereka tak akan banyak berpergian walau pun ia mereka akan membelinya disana.


" La...Sayang Ayok"


" Iya mas " ucap Dela yang mencincing tasnya.


Reynal telah meminta pak Beben untuk mengantarnya, sedangkan Bunda dan Ayah tak ikut mengantar, karena mereka sedang berkunjung di rumah Eyang, lebih tepatnya Keanu cucu mereka yang pasti terlihat lucu dan pasti gemesin.


Sesampanya di airport, mereka langsung masuk dan segera take off terbang ke Kanada , negara yang akan mereka kunjungi.


Dela yang terlihat takut ia langsung menggenggam erat paha Reynal yang ternyata tiba-tiba merasa takut.


" Gak kan kenapa-napa, tenanglah" ucap Reynal yang mengusap lengan tangannya lalu memilih untuk memeluk Dela.


" Aku disini" ucapnya. Dela perlahan menoleh Ke Reynal lalu menganggukin kepalanya.


Sejak mengandung Dela merasa nyalinya berkurang, mengendarai motor atau pun mobil ia merasa takut jika Reynal menambah kecepatannya.


Reynal pun merasa heran ya karena seoramg Dela Riani yang tak takut dengan apapun apalagi dengan kecepatan, ini malah takut akan hal itu.


πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡


Bastian, kini telah tinggalkan kota kesayangannya, bukan itu saja ia meninggalkan negara tercinta Demi dapan melanjutkan hidup tanpa bayangan Dela.


Negara Kangguru itu yang dia pilih untuk menghilangkan segala bayang-bayang Dela, ia tak ingin terpuruk dan ia tak ingin menjadi orang yang jahat untuk saudaranya sendiri ia harap perjalanannya kali ini akan ia mulai dari awal, ya dari awal.

__ADS_1


// Selamat tinggal Del, Rey, gue pasti kembali nanti setelah gue menata hidup gue _Bastian//


Bastian yang menutup pintu balkonnya, setelah membuang puntung rokoknya.


Bastian menghirup udara dalam-dalam lalu menyambar tasnya yang berada di sofa lalu melangkah ke pintu, ia bersiap untuk melajutkan study nya.


" Bismillah" ucap Bastian yang meninggalkan kamar kosnya.


Disisi Lain Dela sudah sampai di sebuah kota yang amat ia idam-idamkan selama ini, Kedua orang tua merekalah yang persiapkan segalanya ets bukan hanya orang tua mereka saja tetapi sahabat-sahabat mereka ikut adil dalam semuanya.


Reynal membangunkan Dela untuk segera bangun dari tidurnya, Reynal ingin Dela melihat yang ada di Depan matanya.


Kita sudah sampai La" Bisik Reynal,


Dela yang mendengar bisikan itu lalu membuka matanya perlahan, dan memandang ke depan.


" Indah " ungkapnya,


" Kamu lebih indah dari itu " ungkap Reynal yang menatap Dela yang begitu intens.


Ya hotel yang dipesan ternyata memiliki pemandangan yang begitu menakjubkan bagi Dela, meski sederhana namun memiliki keunikan sendiri.


" Gembel " ucap Dela yang tak suka ucapan Reynal kala menggodanya, ya bagi Dela itu bukan Diri Reynal, kaena setahu Dela, Reynal tak ada romantis menurutnya dan kurang pekaan terhadap wanita.


" Kok gembel sih?"


" Ya karena itu bukan kamu mas Reynal Fito, yang Lala kenal gak genit apalagi soal urusan gombal"


" Emang salah jika mas berusaha lebih untuk istri sendiri" ucapnya yang sudah berada di depan resepsionis dan mengeluarkan beberapa kartu yang diperlukan untuk memastikan jika mereka benar telah memesan kamarnya.


" Thank you" ucap Reynal yang tersenyum manis ke karyawan yang memberikan kunci ke Reynal." Ayo" ajak Reynal yang menggandeng Dela menuju kamar yang mereka tuju.


Sesampainya dikamar Reynal meminta Dela mandi lebih dulu dan segera merebahkan diri, sementara Reynal memesan makan untuk keduanya.


Beberapa menit kemudian Dela sudah selesaikan ritualnya dengan mengganti pakaiannya tadi dikamar mandi, Ia segera duduk dengan membuka pintu arah teras kecil yang menghadap kota, yang terlihat begitu indah karena mereka tiba telah malam.


Reynal tersenyum lalu ia melangkah menuju kamar mandi untuk tuntaskan mandinya dan akan segera menyusul sang istri.


" Seger" ungkapnya sesaat, walau angin malam menyapu kulitnya yang terasa dingin namun ia menikmatinya.


" Nih minum dulu sayang" ucap Reynal yang membawa dua gelas susu, yang pastinya satu gelas berisi susu bumil.


" Makasih mas ayang" ungkapnya dengan mengedipkan satu matanya dengan genit.


Reynal terkejut dengan tingkah dan ucapan istrinya, namun ia melebarkan senyumnya dan pura-pura gak dengar.


" Apa La gak dengar" ucap Reynal yang mendekatkan telinganya.


" yang mana?" Tanya Dela yang mengerutkan bibirnya


" Kalimat akhirnya ya La? " Reynal memperjelas pertanyaannya dengan menahan senyumnya,


Dela membola matanya lalu menutup mulutnya, karena Ia menyadari ucapannya membuat Reynal meminta mengulangi kalimatnya.


" Ayo buruan" Reynal yang tak sabar,


Hem Dela menejam matanya "Masayang"ucapnya lirih dengan mengulum senyumnya.


" Unik" ungkap Reynal yang menyukai panggilan barunya.


Dela yang mendengar itu malu-malu dengan mengulum senyumnya, lalu ia meneguk susu yang dibuat Reynal.


Cup


Reynal menyapu susu Dela yang menempel dipinggir bibir Dela., " Enak" ucal Reynal yang mengusap pucuk kepala Dela.


"Mas bisa aja" ucap Dela yang menyandarkan punggungnya ke Dada Reynal.


" Ya sudah Ayo masuk, kita makan malam kasihan yang disini " ucap Reynal yang menatap Dela dan mengusap perut Dela.


" Mas...,janji ya, jangan pernah tinggalin Lala, apapun itu alasannya" ucap Dela.


" Mas janji " ucap Reynal yang mengecup punggung tangan Dela, Dan maaf kan mas jika itu pernah terjadi" ucap Reynal yang menuntun Dela ke sofa.


Malam itu, pertama kali mereka berada di negeri orang, dan malam itu pula Reynal menyalurkan isi hatinya ke Dela, yang sebenarnya selama ini ia merasa kehilangan Dela, meski Dela berada di dekatnya itu semua karenanya sendiri.


Usai mereka makan malam, Reynal mengajak Dela tiduran diranjang, sambil ngobrol kecil yang pasti mengenang masa kecil kala mereka masih baik-baik saja tanpa Fia kekasihnya.


Tanpa bayangan orang lain, hanya mereka tanpa ada orang ketiga diantara mereka.


Tak ada jarak di keduanya, Reynal memeluk mesra sang istri, dengan rasa sayang dan cintanya yang begitu besar.


" Aku mencintaimu sangat mencintaimu kelinci lincah ku, dan tak akan ku biarkan kelinci ku pergi meninggalkanku" ucap Reynal yang menangkup dagu Dela,Dela hanya bisa mengangguk.


" Kamu ibu dari anak-anak ku, kamu ratu hati dan dirumah kita"


Dela tersemum" Iya, kamu juga mas, Jangan pernah tinggalkan Lala sendiri, Karena kuda Lala hanya punya Lala you is mine " yang lalu membangkan senyumnya.


" Satu lagi, Kuda Lala bukanlah pengecut seperti yang pernah ia lakukan" ucapnya yang terus menatap Reynal.


Keduanya Tersenyum lalu berpelukan kembali, menyalurkan rasa rindu yang ada, rasa yang pernah hilang walau nyatanya dirahim Dela telah tumbuh malaikat yang akan membuat mereka selalu bersama.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


End

__ADS_1


Terimakasih semua, sampaikeyemu di cerita ku yang lain.


__ADS_2