
Di kampus Reynal berjalan melewati koridoor kampus menuju kelasnya, dengan gayanya yang cool ditambah rambut yang ia biarkan tiup angin, dengan mengenakan hoodie, berjalan dengan santai dengan tas sandangnya yang ia selipkan almamater kampus.
" Beh... big bos akhirnya masuk juga, kemana aja lo kemarin gak masuk?" Tanya Dian yang melihat Reynal sudah depan kelas.
" Ada urusan" ucap Reynal singkat.
" Urusan mulu lo? " ucap Dian namun tak ia hiraukan.
" Kakak yang namanya Reynal ya?" tanya seorang gadis yang ada di depan mereka.
" Kenapa?" tanya Reynal.
" Ini untuk kakak"ucap gadis itu yang menyodorkan kotak bekal untuknya dan kemudian pergi setelah diterima kotak bekalnya.
Semua terbengong melihat gadis cantik yang berani mendekat dan membawa bekal untuk Reynal, Reynal cuek dan memberikan ke Reno " tu cewek buat lo" ucap Reynal yang masuk kelasnya.
" My By...oke akan gue perjuangkan dengan caraku" ucap Reno.
" Kenapa lo gak mau Rey, bening.." cloteh Dion.
" Gak papa" ucapnya singkat.
Reno menggelengkan kepalanya tapi ia bernafas lega Reynal tak pengaruh dengan Wanita lain, tanpa Reynal sadari Reno tersenyum.
Di tempat lain, Bastian hari ini tidak masuk kuliyah, ia pergi ke tempat boxing sebagai pelampiasan, ia hanya memukul-mukul benda mati di depannya dengan keringat yang keluar dan tak ada niat untuk mengelapnya.
// Sial,br*ngs*k, gue harus maju lebih cepat, ya gue ingin lo segera jadi milik gue seutuhnya, maaf Rey tapi gue lakuin ini untuk kebahagian Dela_Bastian//
Bastian telah jatuh cinta ke Dela yang awalnya ia hanya mengaguminya namun entah kenapa cinta itu datang dan tumbuh begitu saja, apalagi setelah tahu hubungan Dela dan Reynal tidak sebaik orang fikir, cinta Dela ada hanya membawa luka, Dela hanya disakiti oleh Reynal, dan itu membuat Bastian semakin ingin memiliki Dela.
Bastian kembali memukuli benda yang tak dapat berbicara, benda yang pasrah kena pukulan dari bastian bakan tendangan.
" Bos... sudah jangan lemah seperti ini , gue punya cara, tetapi akan sedikit menyakitinya, tapi hanya itu yang bisa kita lakukan bos untuk mendapatkannya" ucap salah satu orang pria itu.
Bastian menggenggam tangannya keras, dan menatap lurus kedepan " Lakukanlah" ucap Bastian yang kemudian meninggalkan area boxing nya.
🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎
Dela sudah berada di apartemen Rani dan Alex setelah tadi Reynal mengantar kannya, Dela membawa pesanan Rani asaman Mangga dan es teler melenggang masuk setelah pintu di bukakan.
" Ini pesanan lo beb.." ucap Dela yang memberikan pesanan sahabatnya.
" Makasih bebeb Dedel" ucap Rani yang langsung membukanya dan menuangkan ke piring dan mangkuk.
" Ran..ponakan gue.." ucap Dela sambil usap perut Rani.
" Hihihi iya baik dong, lo datang yang ditanya anak gue yang masih jadi kecebong, gue gak lo tanya "ucap Rani kesel.
" Maaf, gue juga kangen lo la beb" ucap Dela yang kemudian peluk Rani.
" Del lo gak pengen ke bascamp" ucap Alex yang baru saja keluar kamar.
" Pengen, tapi..." ucap Dela yang menggigit bibir bawahnya.
" Tapi gak boleh sama Rey, segitunya lo.." ucap Alex meneruskan.
" Gue ke ingat kak Daren kak" ucap Dela lirih.
" Tunggu deh Del, emang lo belum move on gitu?" ucap Rani tiba-tiba.
" Bukan, Tapi gue keingat dia aja disana" ucap Dela.
" Terus hubungan lo dengan laki-laki Labil itu gmana del?" tanya Alex memastikan.
" Rey maksud kakak?, baik-baik aja" ucapnya lagi.
" Maksud gue lo dengan Rey " jelas Alex.
" Gue baik-baik aja, gue mencoba jalani hidup yang sudah ditakdirkan oleh allah untuk gue" Ucap Dela.
" Huh... udah ah kak Alex apaan sih buat hati gue melow aja , gue kesini mau senang-senang sama nih istri kakak"
" Ya..ya..., oke teruskan obrolannya, kakak harus pergi pekerjaan sudah menunggu"
" Anak Ayah baik-baik disana ya, doain ayah kerjanya lancar" ucap alex yang kemudian mengecup perut Rani yang masih datar dan tak lupa ke istrinya Rani, Dela yang melihatnya melengoskan wajahnya, jengah.
Alex yang mengerti pun hanya menyunggingkan senyumnya lalu berkata " Iri?, bilang ke Rey sana " membut Dela mencibir, dan mengerucutkan bibirnya.
" Ran... laki lo tega amat ya ma gue" ucapnya melas, Rani yang mendengar aduan Dela yang manja hanya mengangkat dua bahunya.
Alex yang mendengar ucapan Dela hanya gelengkan kepalanya, lalu pamit pergi meninggalkan keduanya.
Usai Alex benar-benar pergi Rani langsung merogoh ponselnya dan memberikan ke Dela, awalnya Dela gak ngerti maksud Rani setelah melihat betapa terkejutnya dia melihat seorang gadis yang menjadi musuh bebuyutannya.
" Ini benaran akurat?"
__ADS_1
" Ya iyalah Del, Gue gak sengaja aja bertemu, dan ia seperti menghindar, lalu gue penasaran dan gue ikuti dia hingga masuk apartemen yang ada dilantai atas, tak lama ia keluar dengan isak tanggisnya, ia menenangkan ke taman yang tak luput dengan anak buah suaminya, yang gue dengar suaminya ingin dia menandatangani surat hak asuh dan cerai, anaknya di ambil oleh suaminya dan ia tak diperbolehkan menemui anaknya" jelas Rani panjang lebar.
" Kok bisa?" ucap Dela Datar.
" Gak tau juga, yang ku tau pasti dia hancur dengan semua ini" ucap Rani santai.
" Amit-amit, amit " ucap Dela yang mengetok meja didepannya" gue ikut iba liat nasibnya, kaya di cerita novel aja atau kaya cerita di sinetron" ucap Dela mengetuk ke..ningnya serasa bingung.
Dela menyeruput es serut yang sudah mencair sedangkan Rani memakan asaman yang dibelikan Dela, keduanya tukar cerita layaknya tak pernah bertemu hingga sesuatu yang bunyi di perut mereka, membuat keduanya tertawa, Akhirnya mereka pesan makan.
" Del... gue pengen tongseng nih tiba-tiba, pesani gih, pedas ya" titah Rani yang tiba-tiba menginginkan Sesuatu.
" Iye... nona Rani, lebih tepatnya nyonya Alex apa sih yang gak buat lo" ucap Dela yang buat keduanya tertawa renyah.
Tigapuluh menit kemudian pesanan mereka sampai, dan mereka siapkan dimeja untuk siap dimakan, namun beberapa menit kemudian Dela menghentikan makannya, entah apa yang saat ini ia fikirkan.
" Del-" panggil Rani.
" Hem""
" Lo ngelamunin apa, terus kenapa tiba burung gitu, jelek tau" ucap Rani yang menggoda sahabatnya.
" Murung Rani" protesnya.
" Ya elah beda B dan M artinya sama aja keles" cibir Rani.
" Gue hanya berfikir aja, nasib Felia gimana, terus Fia meninggal dan ia dikabarkan terlalu banyak konsumsi obat penenang, dan nyawanya gak tertolong.
" What... apa gue gak salah dengar?" ucap Rani yang terkejut dengan penuturan Dela.
" Gak Beb, Lo gak salah dengar" ucapnya lagi.
"Innalilahiwainnalillahi rojiun, tapi bagus dong Del, gak ada yang ganggu lo ataupun Kak Rey" ucap Rani yang malah bersyukur.
" Iya sih, tapi gue merasa bersalah" ucap Dela yang menghapus air matanya yang tiba-tiba saja mengalir begitu aja.
Rani menenangkan sahabatnya yang sedikit tertekan, Rani memeluknya erat tak ada jarak di keduanya, Dela menceritakan yang sebenarnya yang terjadi setahun belakangan hingga berakhir Fia berada di jeruji, ia menceritakan pula jika ia merasa bersalah telah merebut Reynal dari Fia.
Tapi tak ia pungkiri, entah mengapa ia tak dapat jauh dari Reynal, ada yang beda, apalagi ia sempat meminta untuk pisah namun hati terasa sakit.
" Cup...cup... Bukan salah lo, ini adalah takdir Daren meninggal itu takdir , Fia meninggal itu takdir, dan lo dengan kak Rey juga takdir Del" ucap Rani menenangkan.
" Gue lelah Ran..." ucapnya lirih.
🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇
Dela sudah berada di toko baju yang menjadi miliknya, setelah dijemput Reynal di apartemen Rani sahabatnya, ia begitu bahagia melihat tempat dan lokasi yang cukup strategis menurutnya, bahkan tak jauh dari rumahnya ataupun apartemennya, satu lagi dekat tempat makan, yang dalam arti habis belanja, lapar langsung bisa pilih kafe yang tak jauh dari tokonya atau hanya sekedar minum untuk menghilangkan dahaga.
Dela memeluk Reynal sebagai tanda terima kasih" Thank you mas " ucapnya dengan mengeratkan pelukannya,Reynal tersenyum lalu megecup pucuk kepala Dela , " Iya..." ucapnya.1
Puas berkeliling dan berdiskusi dengan Reynal di toko, Reynal mengajak ke kafe yang ada diseberang sana.
" Haus kan?" tanya Reynal, Dela mengangguk " Ayo ikut aku" ajak Reynal yang menggandeng tangan Dela hangat.
Sesampainya disana Dela terkejut saat ia memasuki kafe itu, " Rame" ucapnya lirih.
"Iya, duduk sana ayo" ajak Reynal ke Dela dan Dela mengangguk.
" Hanya ada ini aja disini?" tanya Dela yang melihat Menu.
" Kenapa?, lapar?" tanya Reynal, Dela langsung dengan cepat menggelengkan kepalanya.
^Perasaan kemarin gue kesini deh,^ gumam Dela yang masih terdengar Reynal.
" Kesini?, dengan siapa?" tanya Reynal dengan memicingkan matanya.
" Sendiri" dengan santainya," Mas Tata, kok interior serta isinya mirip seperti yang kamu mau ya?" tanya Dela yang terlihat bingung melihat desain interior sama dengan impian Reynal.
" Permisi kak ini pesanannya sudah datang" ucap salah satu karyawan penuh hormat.
" Terima kasih " ucap Reynal, Nih minum es Durian kocoknya, kalau lapar nanti Tata masakin.
" Emang boleh" tanyanya " Iya boleh " ucap Reynal yang menangkup wajah Dela.
Keduanya menikmati es kocok masing-masing yang satu Alvokad yang satu Durian, Dela yang begitu bahagia dapat melupakan kisah hidupnya yang menurutnya teragis, bak telonovela.
Bagaimana tidak sedari ia remaja, ia mendapat tekanan batin dari seorang gadis yang tak jauh darinya berani menyakitinya dengan membayar orang untuk merusak mentalnya, tak dapat berbuat apa-apa ancaman menurutnya sangat menakutkan kala itu, Ia dapat kehilangan Reynal jika tak menjauhinya, hingga ia bertemu seorang laki-laki bernama Daren, ia baru mengecap rasa manis cinta dan kasih sayang, namun tiba-tiba Daren meninggalkan dirinya selamanya, ia begitu terpukul dengan kepergian Daren.
Apalagi saa itu ia belum lama bangun dari koma, ia harus terima kenyataan jika ia harus nikah denga Reynal,Hingga ia harus menelan kenyaataan bahwa Reynal lebih memilih Fia ketimbang dirinya.
" La...Sayang, kamu melamuni apa kok nangis?" panggil Reynal seraya bertanya.
" Aku boleh tidak menanggis, aku lelah, aku begutu lelah dengan apa yang ada" ucapnya yang mendongakkan kepalanya ke wajah Reynal.
" Sssttt...., gak boleh ngomong gitu , aku disini ,aku ada untuk kamu, lelah mu berikan ke aku dan jangan cengeng aku gak ingin kamu menanggis" ucap Reynal.
__ADS_1
" Kamu harus tersenyum, dan gak ada air mata lagi, aku gak akan tinggalkan kamu La" ucap Reynal yang menangkup dua pipinya.
" Benarkah?" tanya Dela yakin.
" Benar La" ucapnya singkat.
" Aku takut, takut kamu tinggalkan aku seperti sebelumnya, Seperti saat kita masih remaja , kamu lebih memilih Fia ketimbang aku, dan kamu lagi-lagi pilih dia ketimbang aku?,saat kita sudah menikah" ucap Dela.
" Iya itu semua salah Tata, maafkan aku" ucap Reynal yang menggenggam tangan Dela erat karena mereka duduk bersebrangan meja.
" Hallo kak Rey..., kita ketemu disini" tanya seorang gadis yang tiba- tiba menemuinya disaat bersama Dela.
" Maaf kamu siapa ya.?" tanya Reynal.
" Aku Febi, anak Fakultas ekonomi, oh iya ini siapa kak, bukannya kak bilang gak punya pacar.?" tanya gadis itu dengan berani.
" Benar, namun dia teman hidup saya"
" Maksud kakak?"
" Dia adalah bidadari sekaligus malaikat hidup saya yang tak lain istri saya" ucapnya tegas.
" What!!, kakak bohongkan?" ucap gadis itu.
Reynal menyeringai" Tentu tidak, kita sudah menikah satu tahun enam bulan yang lalu" ucap Reynal yang tak ingin Dela ataupun gadis itu salah sangka.
"Ja..jadi-"
" Iya saya memang tidak pernah beberkan soal pernikahan dikampus, karena disana tempat belajar" ucapnya santai.
Gadis itu melongo dan tak terasa ia keluarin air matanya,ternyata ia salah orang yang ia suka telah miliki istri.
" Maaf kak" lalu gadis itu pergi gitu aja meninggalkan mereka yang sedang duduk berdua.
Selesaikan minumnya La, kita harus ke kampus , kamu harus masuk mk hari ini" ucap Reynal yang mengusap pucuk kepala Dela, Dela mengangguk, Dela tak bertanya soal gadis yang baru saja mendekati suaminya Reynal, ia paham suaminya walau memiliki kulit sedikit gelap, namun jangan salah ia miliki pesona tinggi oleh gadis yang menggilainya, apalagi sikap cueknya yang membuat Gadis meleleh karena pesona, lain halnya Aldo yang miliki kulit bersih kuning, dengan wajah dinginnya namun keduanya miliki fans sendiri.
" Selesai ini harus semangat okey Lala" titahnya.
" Diusahakan Mas" ucapnya.
" Gak ada air mata gak ada kesedihan dan gak ada lelah, semua lelahmu sudah Tata pikul La" ucap Reynal memperingatkan.
//Gue tau La, lo saat ini ada berada di titik rendah, tapi gue akan ada selalu ada untuk lo Dela ku kelinci lincahku, aku yakin lo bisa lupakan semua, termasuk soal kematian Fia_Reynal//
Yah Reynal hanya ingin liat senyum Dela tanpa beban tanpa air mata, apalagi untuk menyalakan dirinya sendiri, Reynal akan berusaha suport dan bantu melupakan bayangan Fia selamanya.
Reynal lalu mengajaknya pergi, dari kafenya menuju kampus, saat ini ia masih belum ceritakan soal kafe yang barusan mereka singgahi, kafe miliknya yang iya namai pondok Adem ayem yang mengartikan berharap siapapun yang datang merasa adem apalagi dengan suguhan es kocok yang berfarian toping.
Di mobil Reynal masih vokus mengemudi hingga tak terasa Dela pejamkan matanya, Reynal tersenyum Renyah lalu mengusap Rambut Dela.
^ Terima kasih yang semalam La, berharap kita akan sellu bersama La sampai kita tua nanti, sampai ajal jemput kita nanti.^ gumamnya yang kemudian fokus kejalan lagi.
// Maafkan aku yang sudah nyia-nyiakan kamu La, dan aku gak akan mengulangi lagi_Reynal.//
Dela dibangunkan oleh Reynal karena harus masuk kelas, pelajaran akan segera dimulai, Dan Dela harus bergegas sampai kelas.
" Lala langsung masuk mas" ucapnya lalu mengecup pipi Reynal sekilas dengan sengaja dan buru-buru membuka Pintunya.
Reynal sepcles terkejut seraya berkata" Lagi dong" goda Reynal yang masih betah pegang pipinya, Dela menggeleng dan pergi meninggalkan Reynal dengan lambaian tangannya.
Dela lalu membuang nafasnya kasarnya, seperti biasa Dela sembunyikan kesediahannya titik kejenuhan dalam hidupnya, walau tadi sempat cerita ke Rani dan Reynal tapi semuanya gak membuatnya lega.
Reynal pun segera pergi meninggalkan kampus setelah pastiin Dela masuk karena ia harus ke bengkel Disana Aldo sudah menunggunya.
Dela dengan diam keluar setelah pastikan Reynal sudah meninggalkan kampus, ia segera ke suatu tempat yang buat hatinya adem selama setahun belakangan.
Dela turun dari angkot yang ia tumpangi menuju panti tempat biasa ia berkunjung, Dela merasa damai berada di panti rasa lelah, rasa gundah, rasa yang menggajal akan hilang apa lagi jika ada Bunda Rara yang akan menemaninya dengan lantunan ayat suci Alquran yang tetdengar begitu merdu, dan itu membuat Dela tertidur dikmar Dava.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
.
.
Bersambung...
.
.
Jangan lupa jejaknya kawan.
Salam hangat
Reynal & Dela
__ADS_1