
Sore itu Dela sudah selesai dengan ritual mandi dan ibadahnya, Dela yang menyisir rambutnya dengan bercermin memandangi pantulan dirinya.
" Sayang, sini biar Mas bantu" kata Reynal yang baru saja masuk kamarnya, yang melihat istrinya sedang menyisir rambutnya.
" Eh mas..., sudah selesai?" Tanyanya tanpa menoleh,
" Sudah..., sini biar mas bantu menyisirnya" Reynal yang mengambil alih Sisir yang dipegang Dela.
" Mas..., apa Rani akan baik-baik aja setelah tau ia telah ke guguran?" Tanya Dela dengan wajah sedihnya.
" Mas juga gak tau La, kita hanya bisa mendoakan Rani baik-baik saja, dan bisa menerima semuanya" Jelas Reynal yang menyisir lembut rambut Dela.
" Harusnya Kita bisa tersenyum bareng, menanti malaikat kecil yang akan hadir, tapi nyatanya sebaliknya" kata Dela dengan mengerucutkan Bibirnya kedepan.
" La..., ingat semua sudah diatur oleh Allah, kita hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan." kata Reynal mengingatkan.
" Selesai" ucap Reynal yang kemudian memeluk Dela dari belakang dan mengendus rambut panjangnya.
" Tata bersyukur dapat miliki kamu, Tata tak ingin Lala tinggalin Tata, apalagi menjauhi anak kita" ucapnya yang takut akan kehilangan Dela dan calon anaknya nanti.
" Apaan si ngomongnya kok gitu." ucap Dela yang merasa tak suka dengan yang barusan Ia dengar dari mulut Reynal.
" Karena terauma akan kehilangan kamu yang kedua kalinya, pasti tak akan ada kesempatan lagi untuk yang kesekian kalinya" uvapnya yang memeluk erat tubuh Dela.
" Udah yuk... Mama pasti nungguin kita" melepaskan pelukan Reynal, Dela yang tak ingin mendengar kata-kata Reynal yang akan buat hatinya sedih dan hancur seperti saat itu.
Dela lalu melangkah keluarbyang diikuti oleh Reynal,sesampai tangga aroma masakan sang Bunda menusuk kehidungnya.
" Heemm wanginya aroma Rawonnya, menggugah selera" ucap Dela yang turun sedikit cepat.
" La..."
" Iya... tau, jangan lari, jangan buru-buru" ucap Dela yang memang belakangan ini membuat telinganya panas, karena Reynal over protektif.
" Ma..., thanks udah masakin buat Dedel?"
" Iya sayang..., ini demi cucu Mama sayang" Mama tersenyum , Dela lalu memeluk sang Mama dengan gembira, tapi entah kenapa Reynal tak Rela jika Mamanya yang tak lain mertuanya dipeluk oleh Dela istrinya.
" Jangan lama-lama" ketusnya.
" Kenapa," mereka yang kemudian menoleh Reynal.
"Gak suka, Mama bolehnya peluk aku" ucap Reynal tiba-tiba.
" Iih aneh " ucap Dela yang kemudian mengambil mangkuknya dan mengisi rawon dan mengambil perkedel buatan Mamanya.
Mama Mila merasakan aneh dengan dua anaknya, biasanya Dela lebih pilih sop biasa atau soto kini ia meminta Rawon yang isinya ada perkedelnya, sementara mama perhatikan Reynal yang sepertinya tak rela jika Dela memeluknya.
Mama menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat Reynal masih bergelayutan di tangan sang mama.
" Udah makan buruan, biar pulang kita" ucap Dela yang tak kalah ketus.
" Iya bawel kelinci Tata."
" Apaan sih, "ucapnya yang menyendokan makannya kemulutnya.
" Bun gak aja -ajak Dava." ucap Dava yang sudah betafa didekatnya.
"Iya sayang sini, buruan nanti keburu abis"
" Okey Bun..."
Reynal yang sudah ikut duduk disamping Dela, melihat Acar timun yang bersaos kacang petutnya merasakan neg, padahal itu favorit sang papa tapi entah kenapa kepala dan perut merasa berat dan mual.
__ADS_1
Hoek...
Reynal menutup mulutnya dan bergegas pergi ke kamar mandi yang berada dekat kamar tamu, Dela yang mendengarkan Reynal tiba-tiba menghenti makannya.
" Kenapa sayang?" Tanya Sang Mama.
" Gak selera" ucapnya.
" Aneh memang, Biasanya Dela tak merasa jijik dengan hal seperti ini, ini dia tiba-tiba langsung kehilangan selera makannya.
Hoek...!hoek...!
Samar-samar masih terdengar oleh mereka, Reynal membuang isi petutnya yang secara tiba-tiba.
" Bun Papa kenapa? tanya Dava.
" Oh papa mungkin masuk angin sayang, ayo terusin makannya sama oma, atau sama Bunda?," Ucap Dela seraya bertanya.
" Sama Bunda aja, tapi nanti kita liat Papa yuk" Ajak Dava.
" Iya ayo sayang" ucap Dela yang melangkah ke kamar mandi dengan menyambar minyak angin untuk di usapkan di perut Reynal nantinya.
" Mas...Mas Tata... kanu gak papa?" Tanya Dela yang hkawatir.
" Eem... aku gak papa sayang mungkin asam lambungku kambuh " ucap Reynal dari dalam. Tak lama pintu terbuka Reynal bernafas lega, dan Reynal mengajak kembali kemeja makan untuk kembali makan tapi malah ia kembali mual.
" Ma...-, jauhkan acar timum itu Mam, Rey mual" ucap Reynal yang menutup hidungnya.
Mama tersenyum " baiklah-" jawab Mama sedangkan papa hanya gelengkan kepala melihat Reynal yang aneh menurutnya.
Usai makan mereka duduk di ruang tengah sambil bercerita-cerita, bi Marni pun ikut bersama.
" Ma.. kita bawa Dava ya, kasihan harus disini sementara Bunda dan Papanya ada." ucap Dela minta izin.
" Ma lebih kasihan lagi"
" Bukan gitu sayang dengan keadaan kalian berdua seperti ini apa gak repot belum lagi kuliyah dan kerja"
" Udah ma mereka kan orang tua Dava ya biarkan aja lah, nanti buat ni Marni berada di apartemen saat kalian ada jam kuliyah siang.
" Kita bisa bagi waktu kok ma..."
" Gak sayang Mama gak tenang, Bawa bi Marni aja ya , setidaknya Dava ada temannya."
Karena tak ingin mengecewakan keputusan sang mama mereka mengangguk setuju,sedangkan Dava berhore ria.
" Asik bisa tidul baleng Bunda, baleng Papa" teriak Penuh girang
Dirumah sakit Alex masih setia menunggu Rani dengan memandangi Rani istrinya,sementara kedua orang tua mereka sudah pulang,vbegitu juga Samir dan Mira.
// Apa yang akan ku katakan yang, anak kita sudah gak ada_Alex//
Alex menghapus air matanya dengan melihat wajah sendu Rani.
Ia tidurkan kepalanya disamping tempat tidur dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan Rani padangannya lalu redup dan matanya tertutup.
Rani yang menggerakkan matanya lalu perlahan ia buka, ia memandangi ruangan asing menurutnya dan melihat Alex yang tertidur di sampingnya dengan posisi tidak nyaman.
//Apa yang terjadi dengan gue, kenapa gue disini?_Rani//
Alex yang merasa ada pergerakan membuka matanya, dan melihat Rani sudah bangun dari pingsannya.
" Yang..." panggil Rani.
__ADS_1
" Hei...," jawab Alex yang tersenyum pahit.
" Anak kita gimana?"
Deg....
" A-anak ki-kita baik, kamu minum dulu ya?" Alex mengambilkan minum Rani, ia bingung harus melanjutkan ucapannya.
" Apa ada yang sakit?, kakak panggilkan Dokter ya?" ucapnya yang khawatir.
" No...No , im fine, answer Yank , pertanyaanku..anak kita gimana?" ucap Rani yang menahan Alex.
Tes..!
Alex tak tau harus berkata ia hanya bisa teteskan air matanya, ia tak dapat sembunyikan kesedihannya dihadapan Rani Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan berat.
" Gak mungkin kan, aku gak kehilangan anak kita kan kak...," isak tangis pun pecah oleh keduanya, Alex memeluk erat Rani agar memberi kekuatan akan kehilangan anak mereka.
" Anak ku, hiks..hiks..."
" Yang...,ku tau ini buat kamu sedih dan terpukul, tapi kita harus iklas sayang,ini cobaan kita, untuk lebih sabar untuk menjalani nya" ucap Alex yang masih memeluk dan mengusap punggung Rani agar lebih tenang.
" Istigfar ya yang..., kita pasti bisa lalui ini" ucap Alex lagi yang masih memeluk Rani.
"Sekarang jangan nangis lagi ya yang" , ucap Alex ke Rani, Rani yang mendengarkannya hanya bisa memanggis karena harapannya sirna untuk menggendong baby.
Rani Sedikit lebih Tenang setelah Alex memanggil Dokter untuk memeriksanya.
Alex membaringkan Rani dan mengusap sisa air matanya, lalu menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
" Maaf ya sayang" lirihnya yang mengecup pucuk kepala Rani.
" Lex...," seorang wanita tengah baya yang masuk ke ruang rawat Rani.
" Iya ma..." jawab Alex yang melihat mama yang baru datang.
" Gimana Rani Lex, saat Rani sudah siuman?" tanya mama yang sudah tau jika Rani siuman.
" Iya ma ia terpukul ma, Alex gak tega."
" Sayang kamu yang sabar, mama yakin kamu dan Rani pasti bisa lewati ini semua" ucap Mamanya Rani.
"Iya sudah kamu mandi geh biar segeran, nih mama bawa pakaian kamu tadi minta tolong sama mama kamu" ucap sang mama yang menyerahkan sebuah paper bag ke Alex.
" Iya ma, terima kasih, Alex permisi
kekamar mandi dulu ma" pamit Alex.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Bersambung.
.
.
Salam hangat
Reynal &Dela
.
Selamat menjalankan puasa
__ADS_1