
Dela terbangun saat pukul 11. 00 siang, ia terbangun karena tenggorokannya amatlah terasa kering, cacing di perutnya pun mendemo untuk memintah jatah, Ia menghadap kesamping ternyata Reynal sudah tidak ada disampingnya.
^Sudah siang, lapar sekali, kemana Tata^ ucap Dela yang melihat sekitar tak menemui Reynal yang menggenggam perutnya lapar.
^ Ta... Lapar ^ ucap nya lirih, ^Lala gak kuat^ ucapnya yang berjalan mengarah pintu untuk keluar.
" Hem baru bangun lo " tanya Aldo yang menolehkan wajahnya ke Dela.
" Hemm.., Tata mana?" tanya Dela yang mengambil air minum.
" Keluar sebentar beli makanan kesukaan lo" ucap Aldo lagi.
" Tumben..." ucapnya ambigu.
" Ye gak nyadar lo, lo kalo lagi pms menakutkan, rewel, manja kaya mak-mak" ucap Aldo lagi.
" Sialan lo..." ucapnya yang ikut duduk disofa yang sama.
" Del...hem gue mau tanya deh tapi jawab yang jujur" ucap Aldo yang sedikit serius.
" Hem apa?"
" Lo sering ke panti liat bocah lucu-lucu, imut dan pintar bahkan gemesin apa gak pengen lo kasih anak ke Rey...?" tanya Aldo yang membuat Dela tiba-tiba bungkam dan terdiam.
Deg..!
// Pertanyaan apa ini... membuatku semakin berdosa ke Tata, bahkan aku biarkan selama setahun ini ia tak menyentuhku_ Dela//
"Eemm...emang penting ya Do, Dedel kemarin juga sempat tanya ke Tata sih hal ini.." Ucapnya lirih.
" Penting la Dedel Ado, nih ya Ado kasih tau, Ado, Rey laki-laki normal, laki-laki yang juga miliki hasrat, dan gak mungkin tak menginginkan keturunan terutama dalam urusan yang satu itu" ucap Aldo yang coba menjelaskan.
" Dedel belum siap Do, apalagi Tata setahun ini..." ucap Dela yang menggantungkan kalimatnya dan merubah posisi duduknya.
" Kenapa, setahun ini lo belum cerita, masalah yang sama?" Dela mengangguk
" Astaga... ceritakan ke gue.." ucap Aldo yang menepuk sayang di kepala Dela.
Dela menurut, Dela menceritakan apa yang ia rasakan selama ini, ia merasa kecewa merasa tak memiliki Reynal, karena Reynal yang sibuk di luar yang sibuk mengurusi Fia dalam rumah sakit, yang Dela tidak mengerti, yang sulit Dela terima, mungkin Aldo tau tapi Aldo ingin tau dari mulut Dela sendiri.
Aldo mengusap pipi Dela yang terlihat basah, ia paham apa yang dirasakan Dela, karena itu ia pulang,dan bukan itu saja ia akan tuntasin masalah rumah tangga Sahabatnya, membantunya, ia tak ingin keduanya berpisah.
" Bersabarlah" hanya ucapan itu yang dapat Aldo berikan dan memeluk Dela dengan sayang, ia hanya dapat benghela nafas kasarnya begitu sulit cobaan keduanya untuk bersatu dan bahagia. Aldo juga sudah tau dari sebelah Reynal, Reynal yang hanya ingin melindungi Dela seutuhnya, mengorbankan waktu dan tenaganya, bahkan ia ikut bergabung dengan anggota kepolisian tanpa sepengetahuan Dela ataupun keluarga besarnya.
Reynal sengaja mengawasi Fia dan mantau dari jauh, dan terkadang lebih ke Fia demi menjalankan rencananya, tapi perbuatan Reynal yang mungkin sedikit berlebihan membuat Dela salah paham, Dela bahkan sempat memintanya untuk ceraikannya. Namun Reynal menolak dan langsung meninggalkannya dengan alasan ia akan tetap menjadi suaminya, selamanya.
Dela mengusap kembali pipinya yang basah, dengan lengan tangannya, lalu tersenyum kecut ke Aldo yang mengisyaratkan diabaik-baik saja, namun sedikit lega karena ia bercerita ke sahabat kecilnya yang mengerti akan dirinya.
Tapi Aldo tidak bodoh, Aldo mengerti Bahwa sahabatnya belum membaik, hanya pura-pura baik.
//Gue akan tetap pada janji gue Del, selalu ada untuk kalian_Aldo//
Ckleeck...!!!
Assalamualaikum
Waalaikumsalam.
" La sudah bangun.., sini kemeja makan," titah Reynal yang baru masuk apartemennya, dan tetnyata Drla sudah bangun, namun Dela masih enggan melakukannya, ia hanya tetap diam disofa bareng Aldo.
__ADS_1
Reynal membuka bungkusan yang ia bawa lalu menuangkan ke mangkuk, berjalan ke sofa tempat Dela duduk.
" Ayo buka mulutnya "ucap Reynal," pasti kamu lapar" ucapnya kembali, Dela menurut dan menoleh kearahnya.
Aldo lalu bangun dari sofa menuju meja makan, ia mencium bau makanan yang wajib ia makan, Aldo mengambil mangkuk untuk mengisi makanan yang dibawa oleh Reynal.
Reynal melihat mata Dela sembab ia paham pasti habis menanggis, tapi ia enggan untuk pertanyakannya.
" Gimana, udah mendingan?" tanya Reynal dan Dela mengangguk.
" Syukurlah, ayo buka mulutnya lagi" ucap Reynal.
Reynal memang tak membahas kenapa ia menangis, tapi ia tau pasti ada yang ia ceritakan ke Aldo, hanya Bunda dan Aldo yang membuatnya mengerti, ia lebih memilih keadaannya yang sedang sakit karena tamu bulanannya.
" Rey... lo harusnya bawa Dedel ke villa, disana suasananya kan nyaman, kalian bisa buat ponakan buat gue " ucap Aldo yang tiba-tiba.
" Gue terserah nyonya Reynal Fito aja , kapan dia bersedia" ucapnya.
" Belumut entar Punya lo, nungguin dia rayu donk" ucap Aldo yang sedikit memberi percikan api dikeduanya.
"Sembarangan jaran gue bakal buat dia kelelahan" ucap Reynal spontan.
" Mesum lo.."
Dela hanya tersenyum malu, Reynal yang paham hanya usap pipi Dela.
" Aku gak akan maksa kamu La" ucap Reynal yang menyematkan senyumnya.
Ehem..
Jangan tebar pesona ke uwuuan kalian depan gue, dulu lo tolak mentah-mentah sekarang hemm didekati orang aja lo pasti panas.
" Aldo mulut lo jangan kaya mercon, untung cuma kita yang tau tingkah tengil lo" ucap Reynal yang masih setia menyuapkan kembang tahu kesukaan Dela kala tamu bulanannya datang.
Aldo hanya tersenyum melihat keduanya, dan memungut bantal sofa dibawah kakinya, yang sempat dilempar Reynal.
Ya semua orang tau Aldo yang berparas tampan tinggi dan berkulit putih, namun memiliki sifat dingin membuat siswa/i tak berani untuk mendekati apalagi dengan sikapnya yang tak bersahabat, beda lagi jika dengan keluarga dan sahabatnya ia akan merubah diri menjadi hangat.
Reynal menangkup pipi Dela lalu tersenyum" Kita batalin aja ya ke lokasi toko bajunya?" ucapnya dengan hati-hati.
"Gak mau ah, Lala da enakan, jangan lebai deh" ucap Dela yang merasa dirinya baikan.
" Kok lebai sih, kan demi kamu La, lagian banyak Debu disana"
" Iya lo emang lebai Rey, sudah lebai, labil posesif lagi., kemana aja lo selama ini , bahkan setahun ini" ucap Aldo yang masih makan, makanannya.
Puuukh...!!
" Jangan manas-manasi ngapa" ucap Reynal yang melempar bantal sofa lagi ke Aldo, Aldo hanya menangkis pukulan Reynal yang dari jauh bahkan ia menjulurkan lidahnya.
πππππππππππππππ
Ditempat lain Bastian sudah berada dikampus , kampus yang sama dengan Dela juga Reynal menambah ilmu, Bastian seorang mahasiswa transfer atau tukar mahasiswa pelajar, yang hanya enam bulan ia berada disana, namun ia akan gunakan untuk merebut Dela dari Reynal dan membawanya pergi jauh.
Bastian menoleh kiri kanan seperti mencari seorang, terlihat ada Azar mendekatinya dan bertanya ke Bastian.
" Maaf ... , bukannya kamu Saudaranya Rey?" tanya Azar.
" Oh iya, kamu bukannya..?" tanya Bastian yang menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
" Iya aku temannya, yang pernah ikut berkujung ke kota kamu, aku Azar" ucapnya.
"Oh iya aku Bastian" balasnya.
" Apakah Dela atau Reynal tidak masuk kuliah hari ini?" tanya Bastian.
" Aku rasa tidak, soalnya sedari tadi aku tidak melihatnya" ucap Azar.yang diangguki oleh Bastian.
" Ooh iya kalau begitu aku duluan karena ada kelas" pamit Azar sopan dan dianggukin oleh Bastian.
^Mereka tidak datang , oke gak apa^ ucapnya lagi, dan berlalu pergi.
Azar yang perhatikan gerak gerik Bastian segera melaporkan ke Reynal lewat pesan yang ia kirim, ya Azar telah mendapat tugas dari Reynal untuk mengawasi Bastian, bahkan meminta beberapa teman Azar untuk mengawasi sekitar kampus, Reynal yakin Bastian membawa seorang untuk mencari dan menggali informasi hingga ia bisa sampai kampusnya.
//Kamu akan bermain-main saudaraku, okey tapi aku tak akan biarkan kamu bahagia, karena apa Dela hanya punya ku_Bastian// ungkapnya dalam hati.
Bastian pergi kerumah keluarga Darma, dengan mengendarai mobil yang ia bawa bersama Rayhan kemarin.
Sementara itu, Sahabat Dela sudah sepakat untuk menemui Dela, Dela mengiyakan dan memintanya untuk ke apartemennya ia tidak dapat pergi kemana-mana seperti yang mereka tau, karena Reynal melarangnya, bukan itu saja Reynal khawatir karena Dela akan rewel.
" Resek ni kak Rey, posesif amat tu sama Dedel" kesal Mira.
" Ayo Kita kesana, telpon Rani dulu deh" ucap Samir ke Mira.
" Iya nta.. ayo.."
Mereka menaiki motor sport milik Samir dan pergi ke apartemen Dela dan Reynal.
Sesampainya Diparkiran Rani yang baru sampai diantar Alex pun menemui kedua sahabatnya.
" Hai beb kangen gue" sapa Mira
" Dama gue juga" ucap Rani.
" Kalau gitu kakak duluan ya, titip Rani" pamit Alex suami Rani.
" Siap kak" ucap keduanya.
Setelah Alex berpamitan dengan Rani dan dua sahabatnya Mira dan Samir, mereka masuk meninggalkan area parkiran, Mereka pun melangkahkan kakinya masuk apartemen dan mencari lift untuk sampai ke kamar Dela dan Reynal.
Pintu telah terbuka saat melihat siapa yang buka,mereka langsung berpelukan serasa lama gak bertemu.
" Ayo masuk" titah Aldo yang meminta mereka masuk, yang ternyata Aldo
" Kita kangen lo beb.." ucap Mira .
" Iye-, ayo makanya masuk" ucap Aldo.
Mereka masuk dan pergi ke sofa dimana Reynal sedang mengusap perut Dela yang masih terasa sakit menerobos dan menarik Reynal menjauh.
Reynal hanya geleng-gelengkan kepala ia pasti kalah secara Dela cs lrbih banyak sedangkan dirinya hanya sendirian.
πππππππππππππππ
Bersambung
Jangan lupa jejak semangatnya kk
Salam hangat β€
__ADS_1
Reynal dan Delaπ«