Cinta Senior Galak

Cinta Senior Galak
Eps -130#


__ADS_3

Di sebuah resto yang tepatnya resto terkenal akan masakannya, mereka meminta meneger resto untuk kosongkan untuk semalam ralat tapi Reynal yang meminta semua itu.


" Pa..." panggil Dava dengan menoleh ke Reynal.


" Daddy sayang." Ralat Reynal.


" Ups maaf... Daddy maksudnya hehe" senyum kuda yang mengikuti maunya Reynal.


" Daddy... kok sepi, cuma kita? tanya Dava lagi yang merasa heran dengan resto yang terlihat sepi.


" Iya sayang Daddy sengaja, karena ini sepesial untuk kamu, juga sebelah Daddy yang cantik ini" ucap Reynal yang mengedipkan sebelah matanya dengan mensejajarkan tubuhnya dengan Dava.


" Kok Daddy sih, Mas kan aku bilang Ayah kenapa Daddy?" protes Dela.


" Sayang..., maaf ya Mas gak ingin merusak makan malam kita, hanya kita berantem soal panggilan okey" ucap Reynal dengan membung nafasnya lembut, Dela membuang nafas kasarnya lalu mengangguk kepalanya.


Terdengar alunan piano yang tak jauh dari mereka duduk sembari menikmati hidangan dan sesekali tersenyum, Dava begitu bahagia ini pertama kali ia rasakan,hingga terdengar suara yang menyapanya.


" Hai..." mendekatkan dirinya ke kursi Dava membuat Reynal Dan Dela menoleh.


" Hai juga, kamu siapa,?" Tanya Dava. bingung yang tiba-tiba ada seseorang anak laki-laki yang mendekatinya.


" Aku Albiyan, kamu siapa?" jawab Albiyan Ramah seraya bertanya.


" Aku Dava.." ucap Dava seadanya.


Reynal yang melihat itu pun tersenyum ramah, seraya bertanya " Oh Nama kamu Albiyan, Albiyan sedang apa disini sayang?" tanya Reynal dengan lembut dan terlihat sekali kebapakannya.


Sedangkan Dela hanya perhatikan ketiganya yang sedang interaksi tanya jawab dengan mata berkaca-kaca.


" Kerja om" jawab Albiyan


//Gue bahagia_Dela//


Entahlah apa yang sedang ia fikirkan yang pasti air matanya tiba-tiba menetes kebawah tepatnya mengalir dipipinya Namun terlihat senyum bahagia darinya.


" Kerja?" tanya Reynal yang tak habis fikir dengan anak yang berumur sekitar enam tahun itu.


" Iya..., Albi kerja sama Ayah Albiyan" ucap Albiyan yang menunjuk ke arah sang Papa yang baru keluar dari lorong ruang kerjanya.


" Itu ayah kamu sayang" tanya Reynal yang melihat seorang yang menghampiri mereka lebih tepatnya Albiyan.


" Kakak, hei ayah cari-cari kamu ada disini?, sedang apa kamu nak?" tanya Laki-laki yang miliki tubuh tinggi nan tampan itu.


" Iya Yah, kakak bosan di dalam melulu melihat kertas-kertas dimeja" ucap Albiyan jujur.


" Maaf apa ini putra tuan?, oh ya apa anda tuan muda Alexander? "tanya Reynal yang mengira-ngira. karèna Tuan muda Alexander terkenal dengan kerjanya selain itu memiliki beberapa Resto bukan itu saja, kini ia memegang beberapa hotel meski masih dalam naugan orang tuanya.


" Iya , apakah dia mengganggu, jika iya maafkan saya"


" Oh tidak sama sekali, malah saya senang atas kehadirannya" ucap Reynal seadanya.


" Oh iya senang bertemu dengan tuan" ucap Reynal yang tau siapa Alexsander itu.


" Sama-sama saya juga senang bisa bertemu dengan Anda." ucap Ardan yang sikapnya tak berubah masih dingin walau menurutnya ia sudah benar.


" Ayo sayang kita pulang bunda dan Albidra pasti nunggu kita" ajak Ardan ke putranya.


" Iya yah" ucap Albiyan patuh." Dava , aku pulang dulu ya sampai jumpa" ucapnya lagi layak orang dewasa.


" Maaf kita permisi, silakan lanjutkan makan malamnya " ucap Ardan dengan sedikit menyunggingkan senyumnya dan kemudian berlalu pergi.


Dela dan Reynal tak menyangka jika ia akan bertemu sosok yang dieluh-eluhkan karena kepintaran dan kegesitan dalam menjalankan bisnis.


Hampir lima belas menit kepergian Ardan serta putranya, dan mereka pun hampir selesaikan datingnya yang indah dan tak akan mereka lupakan terutama untuk Dava.


" La..."


" Hem..."


" Harapan tebesar mas hanya inginkan kamu tetap bersamaku dalam suka maupun duka bersama anak-anak kita tentunya" ucap Reynal yang menggenggam tangannya.


" Insya allah, Lala akan usaha" ucapnya.


" Daddy , Dava ngantuk"


" Uluh-uluh Anak Daddy ngantuk ya, ya udah ayo cuci tangan kamu sayang baru kita pulang " ucap Dela yang kemudian membawa Dava ke wastaffel yang tak jauh dari mereka makan.


Reynal hanya melihat keduanya yang melangkah menjauh, lalu ia menyunggingkan senyumnya, Ia tak akan menyangka jika Dela bisa berubah bahkan kini terlihat dewasa dan telaten .


" Ayo Daddy, Dava sudah selesai" ucap Dava yang telah kembali ke mejanya menyadarkan fikirannya.


" Iya sayang Ayo" ucap Reynal yang melangkah mengikuti langkah keduanya dengan senyum bahagianya.


🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎


Sudah seminggu Dela uring-uringan bahkan kini ia malas melakukan apapun itu, untungnya Reynal siap siaga , ia tak ingin terjadi sesuatu pada diri Dela ataupun calon anaknya.


Dela merebahkan tubuhnya sambil memeluk guling dan menutup badannya dengan selimut padahal hari ini mereka harus berangkat kerumah Eyang untuk menghadiri akad Rayhan.


Ya tepat besok Rayhan akan menikah dengan kekasihnya, yang sudah ia pinang beberapa bulan yang lalu.


" La...ayo kita nanti ditunggu bunda loh"

__ADS_1


" Lala mager mas,"


" Kok mager , padahal tadi kamu sendiri loh yang ingin segera sampai"


" Tapi Mas..."


Reynal yang sudah bersiap membawa koper terpasa meminta bantuan ke pak Beben naik keatas membawa koper miliknya.


" Den Rey.."


" Ini Pak maaf merepotkan, Rey harus menggendong Lala " ucap Reynal ke Pak Beben.


" Iya Den tidak apa-apa" ucap Pak Beben yang menenteng dua koper yang tak terlalu berat.


Reynal lalu mendukung Dela, Dela tersenyum simpul karena Reynal menggendongnya.


// Kamu gak pernah berubah Ta, dan aku berharap tetap jadi teman Tatanya Lala , kuda yang selalu dirindui kelincinya_Dela//


Reynal mrlangkah dan kemudian kunci pintu apartemen, dengan menekuk kaki satunya.


" Rey , Del..."


" Maaf ma tadi ada kendala sedikit tapi jangan khawatir Rey bisa atasinya" ucapnya.


" Kamu Rey bisa aja" ucap Bunda yang sudah menggandeng Dava.


Reynal masuk ke mobil sendiri sedangkan Sang ayah sama bunda bersama pak Beben.


Dalam perjalanan, Dela memeluk boneka Kudanya ya walau sudah bersuami dan miliki Dava boneka itu tak lepas darinya, bahkan ia akan marah jika dipindahkan, jangankan dipindahkan bareng yang lain, pegang aja tak diberinya ijin kecuali Reynal.


Mereka tak sendiri, Mereka bareng Dava Selama perjalanan Dava pun tampak bahagia karena ini pertama kalinya bepergian jauh.


Reynal tersenyum mendengar pertanyaan Dava, Dan dengan telaten Reynal menjawab semua pertanyaan yang diajukannya oleh Dava, sesekali menoleh Dela yang tak terganggu sama sekali, bahkan saat mereka istirahat sekalipun.


🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎


Disana Rayhan lagi dikamar sedang sholat untuk meminta petunjuk agar dirinya mantap melangkah beribadah dijalannya.


" Ya allah mudahkan hamba dalam menjalankan ibadah ini, jadikan lah hamba manusia yang berahlak dan suami yang baik amin" gumamnya yang ia ucapkan disetiap doanya.


Tok...tok...!!


" Oo...." panggil anak kecil dari luar, yang mengetuk pintu.


" Masuk , jawab Reynal yang kemudian melipat sajadahnya., pintu terbuka memperlihatkan wajah ayu Rien sang kakak bersama sang putra.


" Hallo superman om udah wangi," ndus Rayhan ke pipi Anak sang Kakaknya.


" Iya sayang ayo ikut " ajak Rayhan, Kiano yang mendengar akan ucapan Rayhan tertawa renyah, dengan tangan digerak-gerakin naik turun.


" Dek..." panggil kak Rien.


" Iya Kak?" Jawab Rayhan yang mengambil Kiano dari gendongan Rien sang kakak.


" Sudah siap?" tanya Rien.


" Insya allah kak, Doain ya kak?" jawabnya lagi, sambil menciumi Kiano.


" Pasti , pasti kakak Doain yang terbaik untuk kamu Dek, oh iya Mama bentar lagi sampaì, kakak mau siapkan keperluan mereka, pasti mereka sampai ingin mandi kamu pegang Kiano dulu" Titah Rien.


" Siap kak" ucap Rien yang kemudian berlalu keluar.


Rayhan mengangguk mengerti dan Kini ia bersama Kiano bermain dikamarnya aja, karena Rayhan dilanda gerogi yang tinggi.


untuk menghilangkan rasa geroginya bermain dengan Kiano.


Jam sudah menunjukan pukul 22.00 wib, itu tandanya sudah jam 10 malam, Kiano sudah tertidur pulas bersama Rayhan, bertepatan itu pintu terbuka tanpa diketuk.


" Kak Ray, Dedel tidur sini ya" ucapnya dengan setengah sadarnya lalu berjalan keranjang tidur milik Rayhan , yang bahkan si empunya terkejut akan kehadiran Dela.


Ya kedua orang tua serta adiknya baru sampai sekitar lima belas menit yang lalu, Rayhan baru mengetahuinya karena iapun ikut tertidur bersama Kiano dengan memeluknya dari samping, ia terkejut saat Dela sudah masuk dalam kamarnya.


" Del... baru sampai?" yang terbangun


" Hem... Dedel tidur sini titik " ucap Dela yang lansung merebahkan tubuhnya ke ranjang milik Rayhan.


Rayhan hanya geleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Dela" Hem kamu masih gak berubah dek, padahal sudah mau jadi orang tua " gumamnya.


" Kak...!" panggil seorang yang berada. depan pintu" maafkan istri Rey" ucapnya lagi yang tau kebiasaan istrinya.


" Iya istri kamu gak papa Rey" ucap Ray yang kemudian memeluk Sang adik yang lama tak ia jumpai begitu sebaliknya Reynal membalas pelukan Rayhan.


" Yah sudah kakak temui Bunda dan ayah" ucap Rayhan yang sudah melepaskan pelukannya, kemudian menepuk pelan pundak Reynal.


Reynal hanya membuang nafas lemahnya, lalu kembali kekamar mengambil pakaiannya untuk mengganti pakaian sang istri, namun sebelumnya pintu ia kunci.


Walau Lelah ia tak ingin Dela mengenakan pakaian yang seharian ia pakai, jadi ia melepaskan pakaian yang ada di Dela setelah itu baru ia ikut tiduran di samping Kiano tentunya ia sudah bersikan tubuhnya.


Rayhan ingin masuk kamarnya tapi malah tak bisa masuk karena pintu terkunci dari dalam.


" ****... pintu dikunci dari dalam, yang punya Kamar siapa yang pake siapa " umpat Rayhan yang menggaruk-garukkan kepalanya, terpaksa Rayhan tidur kamar Reynal.


"Adik durhaka, terpaksa nih tidur dikamarnya yang dah lama ditinggal" umpat Rayhan yang berjalan menuju kamar Reynal.

__ADS_1


🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎🐎


Pagi pukul 06.00 wib mereka semua bersiap-siap ke pernikahan Rayhan, tepat di gedung xx, dimana telah disepakati dua keluarga dan akan diteruskan malam sebagai pesta untuk penutup.


Dela yang masih ngebo membuat Rayhan geleng -geleng kepala, karena Jam segini masih tidur, sementara dibawah mereka lagi sibuk persiapkan hantaran.


" Rey...Dela gak dibanguni?" tanya Rayhan


" Nanti aja kak, jawab Reynal yang buru-buru lari ke kamar mandi seperti biasa ia akan mengeluarkan isi di perutnya walaupun sebenarnya gak ada apa-apanya.


" Rey... yang berbadan dua kan Dedel kenapa lo yang muntah-muntah?" saat Reynal keluar kamar mandi.


" Gak tau kak, tapi seengaknya bisa merasakan gimana susahnya saat-saat gini seorang ibu saat mengandung anaknya" jelasnya.


" Pantes lo keliatan kurusan, Apa Dedel Rewel?"


" Sebenernya iya, sedikit Rewel anak gue kak, tengah malam tiba-tiba bangun minta Es dawet hijau dimana coba carinya" Rayhan hanya menepuk bahunya


" Ta...," panggil Dela.


" Iya La kenapa?"


" Mau muntah tapi gendong" dengan wajah bantalnya.


" Iya ayo " ucap Reynal yang berjalan dengan membuang nafas lembutnya.


Rayhan tersenyum melihat kedua bocah yang menurutnya masih kecil tapi sudah mau jadi orang tua, bahkan Dela yang ia manja pun kini bak magnet yang ingin selalu menempel terus dengan Reynal.


Reynal begitu panik melihat Dela, ia berharap ia saja yang rasakan sakitnya, jangan Dela, ia tak tega melihat Dela kesakitan mengeluarkan isi perut hingga membuatnya pucat.


Reynal memijit -mijit leher belakang Dela agar mendingan,dengan air matanya yang mengalir.


// Aku gak tega ya allah melihat Dela begini, biar aku saja yang rasakanya_Reynal//


" Ta... udah, tapi kepala Lala pusing" ucap Dela apa adanya.


" Iya... iya..Ayo Mas gendong lagi" ucap Reynal yang menggendong kembali Dela ke ranjang tidur Rayhan lalu membaringkan tubuh Dela yang terlihat lemas, ini pertama kalinya Dela morning sickness, yang sebelumnya hanya Reynal mengalaminya.


" Tunggu ya mas ambil minum hangat untuk kamu" ucap Reynal.


Reynal dengan buru-buru pergi kemeja makan dengan pastinya menutup hidungnya kuat-kuat lalu meminta kak Rien membuat teh hangat untuk Dela, Tak lama Reynal kembali ke lantai atas untuk memberikan teh hangat.


" Kasihan mereka bun"


" Iya Kak, semoga adikmu sabar ya" ucap Bunda yang telah selesaikan masakan


" Yah sudah kamu siap-siap gih kak ,kita harus datang lebih awal"ucap Bunda yang meminta Rien untuk bersiap.


Hampir tiga puluh menit Dela berbaring merasakan tubuhnya aneh, namun usapan Rayhan ia baikan.


" Hey... anggel om yang baik hati, ayo jangan malas, om mau nikah nih mau ajak Bunda dan ayah kamu, kamu juga ya jangan malas-malasan" usap Rayhan yang mengusap perut Dela lembut.


"Iya uwak ..." ucap Dela yang tiba-tiba merasa sehat.


Lima belas menit Dela berhias apa adanya, ia mengenakan longdress yang menutupi lengan serta mencepol rambutnya lalu meraih kerudungnya.


" Sayang ayo... semua me...nu..." ucapnya


terhenti saat Dela menoleh kearahnya.


" Cantik" ucapnya


,Dela tersenyum semringah." Ayo Ta, Lala sudah siap."


" Mas La" Ralatnya.


"Iya ayo"


Reynal menggandeng tangannya dengan sumringah, entah mimpi apa semalam Dela berubah seperti ini.


Semua sudah siap dan berada di mobil siap pergi ke tempat akad dimana Rayhan akan ikrarkan janji sucinya ke pilihan hatinya, semua yang ada di dalam mobil sempat terdiam melihat perubahan Dela, namun Dela cuek yang ada difikirannya adalah tampil beda dari yang lain dan hanya ingin bersama Reynal.


Reynal membawa Istrinya dalam mobil beserta Rayhan yang sebagai calon pengantinnya.


" Ta pengen makan kembang tahu"


" Iya sayang kita cari setelah kak Ray ucap janji suci"


"Huuuhh... tertunda" ucapnya lirih.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Bersambung


.


.


Jangan lupa jejaknya ya kak.


Salam hangat


Reynal Dela

__ADS_1


__ADS_2