
Reynal sudah berada diluar, memainkan bola futsal dilapangan sempit di rumahnya, setelah lelah mencari Dela dan ternyata pergi kerumah orang tuanya, ia memutuskan untuk pergi ke tempat usaha barunya yang hampir setahun ia geluti.
Reynal meluapkan emosinya saat ini dengan bola, biasanya ia akan meluapkan ke bengkel dengan memperbaiki satu mobil untuk meredahkan segala keluh kesah atau pergi ke tempat favoritnya di sebuah rumah kecil berada dipohon yang berdekatan dengan panti.
" Gak asik kalo hanya main sendiri" ucap seorang pria tengah baya yang mengambil alih bola yang ada dikaki Reynal.
" Ayah-" ucapnya yang terkejut saat ayahnya sudah berada dilapangan.
" Ayo lawan Ayah" ajak Ayah.
" Dan gue wasitnya " ucap Seorang pria yang tak jauh umurnya dengan Reynal.
" Kalau Ayah menang, kalian berdua bulan depan harus resepsi, dan segera beri Ayah cucu, Jika Ayah kalah terserah kamu mau apa Ayah turuti, asal jangan yang aneh-aneh" jelas Ayah yang sudah ambil posisi.
" Oke, siapa takut." balas Reynal.
Mereka bermain bersama, Reynal menendang bolanya kesana kemari, begitu juga Ayah yang melakukan hal yang sama Reynal tak perduli disana ada Bastian atau tidak, yang terpenting ia akan selalu jagain Dela dan lindunginya dari orang-orang yang menginginkannya.
Diakui oleh Reynal ia begitu cemburu saat Dela ngobrol bersama seorang laki-laki selain dirinya, tapi ia sembunyikan karena Dela berhak berteman dengan siapapun.
Dela menggeliat dan memutar badannya kekiri dan kanan, ^emm udah sore^ gumamnya Dela bangun dan segera mandi dan sholat , sebagai kewajiban untuknya.
" Dua satu , yes...yes-, Bunda ayah punya cucu-" teriak ayah yang begitu bahagianya, karena bakal punya cucu dari Reynal.
Dela yang terkejut dengan teriakan ayahnya langsung lari ke balkon, untuk memastikan ada apa di bawah sana.
" Bun... ayah kenapa" tanya Dela sedikit teriak.
" Dedel... kamu sudah bangun sayang?, ayo sini turun, ayah kamu gak papa sayang" tanya Bunda seraya meminta Dela turun dan gabung bersama mereka, Dela lalu mengangguk menyetujui ajakan sang Bunda.
Reynal yang hanya menyunggingkan senyumnya, ia tau mau sang Ayah menang atau tidaknya Ayah dan Bunda pasti akan mengadakan Resepsinya, dan akan meminta cucu sebagai pelengkapnya.
" Ingat ya Rey janji kamu, kalau ayah menang" ucap ayah mengingatkan sambil menepuk bahu Reynal.
" Iya yah, pasti Rey gak akan kecewain Ayah" ucapnya santai.
" Apanya yang gak akan kecewain ayah?"
tanya Dela.
" Sayang sini, kamu sudah baikan sayang" tanya Bunda yang merentangkan tangannya agar Dela bisa mendekatinya.
" Ayah menang taruhan , Dan Rey harus tepati sayang" ucap Sang Bunda.
" Iya aku kalah, maafkanku" ucap Reynal yang melangkah ke arah Dela mengusap dengan sayang, Dela yang baru bangun dan bingung hanya mengeriyitkan keningnya tanda belum paham.
" Om Tomi dan Rey bertanding Futsal, dan Rey kalah dari om tomi" jelas Bastian yang sudah ikut gabung bareng mereka.
Dela hanya ber o ria karena dalam pemahamannya Reynal kalah dan Ayah menang, dan ucapan Reynal ia akan tanyakan nanti saat bersama dikamar.
Sementara Reynal menggenggamkan tanggannya kuat rahang pun ikut mengeras, tatapan pun tajam bak Elang yang ingin menerkam mangsa.
Bastian pun, hanya menyeringai santai, ia tau Reynal sedang dilanda cemburu, tapi Bastian tak perduli.
" La... masuk yuk, mas sudah gerah lengket karena keringat" ucap Reynal yang sudah menggenggam tangan Dela. Dela yang sedari tadi hanya diam, Akhirnya mengikuti langkah Reynal.
Dan tak lama Bunda dan Ayah serta Bastian ikut meninggalkan lapangan dengan hati yang gembira.
Dela sudah berada dikamar dengan bibir yang mengerucut, Dela kesel dengan Reynal yang sedari tadi tidak memberi tahu apa yang terjadi hari ini.
Reynal yang mengerti lalu mendudukan badannya disebelah Dela membuang nafasnya, lalu mengambil dua tangan Dela dan menciumnya.
" Percayalah dengan ku, Aku akan selalu bersamamu, Maaf kan suami mu ini sayang, seharian tak mengabarimu Mas mu ini, pergi gak sendiri tapi bersama Aldo jangan hawatir" ucap Reynal yang menatap dua netra milik Dela.
__ADS_1
" Iya, kamu egois mas, egois-" ucapnya yang masih enggan berdamai.
" Iya maaf kan aku." ucapnya lagi yang tangan sebelah sudah mengusapkan tangannya ke kepala Dela.
" Apa begini caramu mencintaiku, dengan membohongiku" tanya Dela Tiba-tiba.
" Bohong?" Tanya Reynal.
" Iya, kamu bohongiku dengan mengirim pesan ada keperluan, ada urusan yang mendesak padahal- , Padahal kamu pergi kepemakaman kekasih kamu itu" jelas Dela penuh emosi.
Deg...
Reynal begitu terkejut saat Dela mengetahui, ia memang berada disana menghadiri pemakan Fia, mungkin untuk yang terakhir kalinya, walau hati sakit tapi ia tak ingin perlihatkan ke keluarga Fia yang hanya tinggal sang Ayah. Reynal membuang nafas kasarnya dengan mengusap wajah dengan kasar ia terpaksa menjelaskannya, yang tadinya ia ingin sembunyikan hal ini.
" La... aku tak bermaksud untuk bohongi kamu, aku hanya ingin kamu jangan berfikir yang tidak-tidak, aku hanya ingin kamu fokus dengan kuliyah, karena aku gak ingin nyakiti kamu".
" Tapi apa salah, jika kamu kabari aku, aku gak papa, toh aku sudah terbiasa" ucapnya.
" Lala sayang...., udah ya jangan marah, aku bener -bener sayang sama kamu, aku tidak bermaksud berbohong, aku dan Aldo memastikan bahwa itu bener, ternyata itu bener, aku hanya ingin lindungi kamu sayang" ucap Reynal yang sudah mengusap rambut Dela dengan Buang nafas lembut.
" Jadi, karena Fia sudah mninggal, kasusnya ditutup sayang, kita iklaskan yah, dia sudah mendapat hukuman yang sebenarnya disana, jelas Reynal ke Dela lagi ia menangkup kedua pipi Dela.
" Satu lagi, ayah tadi minta kita adakan resepsi dan segera bulan madu, mereka menginginkan cucu dari kita segera" ucap Reynal yang sudah membasahi bibir Dela.
Deg...Deg ...
" Apa kita mulai saja sekarang" ucap Reynal yang kembali membasahi bibir Dela sedikit lama, Kali ini Dela merasa jantungnya lebih deg..degan serasa meraton lebih cepat dari sebelumnya.
//Oh my gos, ya tuhan... jantung gue lari lebih cepat dari sebelumnya, apa...apa bakal terjadi, gak... gue belum siap saat ini,walau siap-,_ Dela//
" No-, Kamu sebaiknya mandi mas" ucap Dela yang sedikit canggung, karena Reynal ingin meminta haknya, jujur saat ini ia belun siap.
Reynal tersenyum lalu mengecup kening Dela dan segera berdiri dari ranjang, dan segera berjalan ke arah kamar mandi.
Sementara Dela melototkan matanya dan wajah menegangnya saat Reynal mengatakan hal yang menurutnya sensitif itu.
// Apa haknya_ oh tidak, tapi apa gue akan berdosa tapi gue belum siap memberikan haknya yang satu itu selaiΓ±..,_Dela//
Dela lalu siapkan baju Reynal dengan baju santainya dan celana pendek selututnya, ia akan mencoba siapkan baju sebagaimana Reynal siapkan baju untuknya.
Reynal berjalan dengan mengenakan handuk yang melilit dibagian bawahnya dari pinggang hingga lututnya, sementara ia setengah telanjang dada yang sengaja ia pamerkan ke Dela istrinya dengan keadaan masih basah, begitu pula rambutnya.
" Nih...keringkan badan mas serta rambutnya buruan." titah Reynal.
" Idih... lo apaan si mas, kan bisa sendiri." ucap Dela fengan nada malas.
Cup...!
" Hukuman kamu" ucap Reynal yang mengusap bibir Dela yang basah.
" Apaan sih" ucap Dela dengan juteknya.
" Karena sudah berani panggil suami kamu dengan sebutan lo" jawab Reynal yang kembali menyentuh bibir Dela, cukup lama membuat Dela diam bak patung.Benda kenyal itu menyentuh bibirnya dan memiliki sensasi beda karena Reynal yang baru saja mandi, ada rasa mint serta dingin.
Deg... Deg...
Dada Dela yang kembali berdetak kencang, membuat dirinya pejamkan matanya sejenak.
//Rasa ini...Beda_Dela//
Yang kemudian membuka matanya, Reynal lalu melepaskannya, dan menyeringai kembali dengan penuh kemenangan, wajah jelek Dela dengan fose bibir mengerucut serta tangan dilipat didada karena menyadarinya.
" Jangan menyesali, aku suami mu La, soal yang tadi maafkan aku, Kamu boleh hukum aku apa aja sebagai gantinya"
__ADS_1
" Oke..., aku mau besok kita ke toko, dan aku pengen belanja Novel dan aku mau bawa motor sendiri selama satu minggu"
" Terserah, yang penting kamu harus dikawal Azar, walaupun sudah gak ada Fia lagi" ucap Reynal yang sudah mengambil baju dan celana yang sudah disiapkan Dela tadi.
πππππππππππππππ
Di kediaman Aldo, Aldo sedang bermanja dengan maminya, sedangkan adiknya bersama sang papi.
" Gimana Al, sudah beres?" tanya sang Papi.
" Sudah Pi, Besok Aldo langsung kerumah Bunda dan Ayah serta Mama dan Papa" jelas Aldo
" Bagus, terus soal mantan pacar Rey gimana?"
" Dia sudah beres sampai ke akar-akarnya" ucap Aldo santai.
" Kok gitu?" tanya Mami.
" Iya mi, dia sudah meninggal Mi, dan tadi di kebumikannya" jelas Aldo.
" Kok bisa sayang?" tanya Mami lagi.
" Aldo juga gak tau Mi" ucapnya yang tak ingin menceritakan sebenarnya.
Mami dan Papi pun hanya mengangguk mengerti,Lagi pula kedua orang tua Aldo paham soal bagaimana Fia, dan bagaimana liciknya Fia, hingga baru mereka tau belum lama ini, dan soal Fia kenapa meninggal mereka juga tak ingin bertanya terlalu banyak ke putranya, Apalagi memang mereka mengira Fia yang benaran gila dan frustasi saat di dalam sel bisa saja melakukan apa saja.
" Nak..., Fia sudah menyia-nyiakan hidupnya hingga ia melakukan apa aja demi bisa bersama Rey, termasuk kelicikkan dan allah telah memberi hukuman kepadanya, hingga dia tidak dapat berfikir jernih hingga ia melakukan hal itu." jelas Papi panjang
" Papi tau apa yang terjadi dengsn Fia?"
" lya Nak, om kamu yang beri tahu Papi" ucap papi, Aldo mengangguk mengerti.
Sudah diketahui keluarga Aldo dengan keluarga Dela maupun Reynal memang bersahabat sejak SMA, tetapi orang tua Reynal lebih dulu menikah ketimbang Mereka, sama dijodohkan.
Aldo yang sedang bermanja dengan maminya, namun sang Adik tiba-tiba memukulnya dan membuat gelak tawa dikeluarga mereka.
Pluuk!
Uuuh...
" Aww... adek " ucapnya yang langsung bangun dari pangkuan Maminya.
" Adek cemburu, ini juga Mami kakak tau" ucapnya yang berpindah tempat duduk.
" Nih..nih..."
Mami pun tersenyum" iya sayang sini Mami bantu " ucap sang Mami yang membantu sang adik duduk di sebelah Mami, namun sang adik gak mau hanya sampai disana, Alfin langsung duduk dipangkuan Bunda sembari tepuk tangan, dengan senyum lucunya.
Aldo yang gemes melihat adiknya pun lalu menciumnya, walau mendapat serangan pukulun dari sang adik, Mami dan Papi pun ikut tersenyum dan gemes melihatnya.
" Alhamdulilah ya Pi..." ucap Mami yang melihat Aldo dan sang adik bermain bersama, tampak Aldo sangat menyayanginya.
" Iya Mi... , semoga mereka selalu begini temani kita, meskipun mereka nanti akan menemui teman hidupnya masing-masing" ucap sang Papi yang sudah duduk disebelah Sang Mami dan Aldo bersama Alfin yang asik bermain kuda-kudaan.
Sedangkan Mami dan Papi duduk berdua , Mami menyenderkan kepalanya ke dada bidang Sang Papi.
πππππππππππππππ
Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya makasih semua.
Salam hangatβ€
__ADS_1
Reynal & Dela π«