
Seminggu telah berlalu.
"Apa kau sudah puas Shiren? kau begitu nekad untuk mendonorkan matamu, apa kamu tidak punya cara lain selain mendonorkan matamu" tanya Winda Kakak Mamah Shiren.
Terlihat wajah Mamah Shiren tersenyum dan meneteskan air matanya. Ia menghela nafasnya pelan, Winda menangis melihat sang Adik sudah tidak bisa melihat lagi. Ia mengusap air mata yang berjatuhan pada pipinya.
"Tidak Winda, ini semua kesalahanku, kau tau! Farrel akan menceraikanku setelah Clery melihat. Jadi untuk apa aku bisa melihat lagi, aku hancur Winda, ini semua kesalahanku. Harusnya aku di penjara setelah Farrel tau bahwa akulah yang membunuh Papahnya, tapi dia terlalu baik hingga dia hanya menceraikanku saja" ucap Mamah Shiren sambil meneteskan air matanya lagi.
"Tapi tidak dengan mendonorkan mata kamu Shiren! kau harus tau itu, kita bisa mencari pendonor lain" tegas Winda pada Sang Adik.
"Sudahlah, ini sebagai aku menembus kesalahanku pada mereka terutama pada Mamah dan juga Clara" balas Mamah Shiren menatap kosong kedepan.
"Ini sudah seminggu, Farrel terus menghubungiku menanyakan dirimu" ujar Winda.
"Biarkan saja dia, jangan memberitahunya kalau aku ada di sini, walaupun aku kangen banget sama suamiku" ucap Mamah Shiren lagi-lagi dia menangis.
"Aku akan menyuapimu makan, besok kita ke rumah sakit jadwal kontrol kamu" ujar Winda.
__ADS_1
Mamah Shiren berada di jakarta, ia tidak pulang ke Bekasi, dia berada di rumah Kakaknya, dan Windalah yang merawatnya selama dia tidak bisa melihat. Merawat Mamah Shiren sudah kewajibannya, karena kedua orang tua mereka sudah meninggal, jadi tinggal mereka berdua.
Perusahaan peninggalan kedua Orangtuanya di pegang Mamah Shiren dan sekarang yang mengurusnya kedua anak Winda. Tapi setelah Mamah shiren tidak bisa melihat semua di serahkan kepada anak Winda untuk mengurus perusahaannya, dia sudah tidak bisa terjun ke kantornya lagi sekarang.
🌾🌾🌾
Di Rumah sakit
Sekarang jadwal membuka perban Clery, semua sudah menunggu, Clery sudah di priksa dan kondisinya sudah stabil juga sehat.
Dokter dan suster perlahan membuka perban yang melingkar di kepala Clery. Rasa was-was pada diri Clery membuat ia tidak karuan, Rey selalu ada di samping Clery sambil terus memegang tangannya.
Sedikit cahaya menyinari bola mata Clery, terlihat remang dan sedikit cahaya yang masuk kedalam matanya, sedikit demi sedikit cahaya itu menjadi terang. Semua cemas saat melihat Clery membuka matanya, pegangan tangan erat Clery saat membuka matanya.
Semua sudah terbuka, terlihat jelas di depan matanya Papah Farrel, Clery tersenyum ke arah Papahnya, sambil meraba matanya perlahan.
Deg...
__ADS_1
"Mata itu, tidak, ini tidak mungkin" seru Papah Farrel, ia langsung keluar ruangan menahan sakit di dadanya.
Ia menangis di luar ruangan sambil memukul tembok, hatinya sangat sakit, ia menangis sambil terus memukul tembok itu.
Clery, Rey dan Nenek Sukma terlihat heran sama Papah Farrel. Dokter langsung menenangkan mereka dan langsung menyusul Papah Farrel.
Sang Dokter tau bahwa Papah Farrel mengenal bola mata indah istrinya.
Papah Farrel tersungkur di lantai, ia menangis, hatinya sangat sakit sesak di dadanya ketika Clery membuka matanya, terlihat bola mata Istrinya ada di anaknya. Bola mata Mamah Shiren terlihat sangat indah, Papah Farrel tau itu adalah bola mata istrinya.
Dokter menghela nafasnya, ia pun menghampirinya dan langsung menepuk pundak Papah Farrel.
Papah Farrel langsung membalikan badannya, ia merasa bersalah kepada istrinya.
"Kenapa Dokter tidak memberitahu saya?" tanya Papah Farrel.
"Dia yang minta untuk tidak memberitahu kalian" balas Sang dokter lemas.
__ADS_1
"Tidak mungkin istri saya sekarang buta, aku harus mencabut gugatan cerai itu dan langsung mencarinya, di mana dia dokter?" tanya Papah Farrel.
"Besok jadwal mata dia kontrol, Anda bisa ke sini untuk melihatnya" ucap Sang dokter sambil menepuk pundaknya lagi dan melihat Papah Farrel begitu rapuh setelah mengetahui istrinya sudah buta sekarang.