
Di rumah Dewi, ia Merasa puas karena Surya sudah ia singkirkan.Tinggal melaksanakan aksinya yang lain.
"Gampang banget buat mati si Surya, sekarang tidak ada yang akan menghalangiku lagi." Ujar Dewi sambil duduk Santai sambil menegung teh hangat yang dia pegang.
Dewi bangkit dari tempat duduknya, ia menerima telephone rumah karena berbunyi begitu nyaring.
Ia langsung menerima telephone itu.
"Hallo,?" ucapnya.
Namun tidak ada jawaban, Dewi tutup kembali. Setelah dirinya melangkah meninggalkan telephone rumahnya itu. Kembali lagi berdering, membuat Dewi heran dan bertanya-tanya.
"Hallo,?" ucapnya lagi.
"Kau akan mati,?" ucapan itu membuat Dewi merinding, karena terdengar sangat seram.
Suara yang kecil namun halus, membuatnya merasa ketakutan
"Siapa ini, jangan macem-macem sama gue,?" balas Dewi memberanikan diri. Padahal dirinya ketakutan.
Hembusan angin dari jendelanya membuat ia ketakutan. Dewi menjerit sambil membanting telephone rumahnya.
Bulu kuduknya berdiri semua, melihat jendela terbuka dan juga hembusan angin yang membuatnya kaget.
"Masa sih, Surya menghantuiku. Ini tidak benar, mungkin ini perasaanku saja." Ujarnya sambil menutup jendelanya kembali.
Tiba-tiba, lampu rumahnya langsung mati. Dirinya ketakutan dan langsung menyala batre ponselnya yang ia pegang.
"Tidak, Surya kamu sudah mati. Jangan menghantuiku begini, kalau misal ini Surya yang menghantuiku. Istrimu akan mati,?" langsung saja kaca jendelanya pecah. Membuat dirinya dag-dig-dug tidak karuan.
Dewi langsung meringkukan tubuhnya dan menutupi semuanya dengan balutan selimut tebal miliknya.
"Mana David kerja ke luar kota lama sekali, aku di sini ketakutan." Ujar Dewi sambil mengigil di bawah selimutnya.
__ADS_1
Anak buah Surya semuanya cekikikan, karena untuk mengerjai Dewi berjalan dengan sangat mulus. Mereka langsung menghubungi Surya bahwa misi mereka berhasil membuat Dewi di hantui rasa bersalah.
Cuma taktik ini, untuk mengungkap semua kebusukan Dewi buat bukti nanti di bawa ke 90
kantor polisi.
🌾🌾🌾
Di rumah Surya.
Clara lagi menggendong baby Zo, dan Surya menggendong baby Zi. Mereka tertawa mengetahui Dewi sangat ketakutan di rumahnya.
"Kamu jail banget sih honey, jadi gemes aku sama kamu." Ucap Clara sambil tertawa.
"Tidak ada cara lain, selain kita menghantui dirinya yang nanti membuat dia merasa ketakutan." Ucapnya sambil merebahkan Baby Zo ketempat tidur.
"Lihatlah, Baby kita sangat menggemaskan, aku menyukainya dan sangat mencintai mereka." Ucap Surya mengecup kening baby Zo.
"Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sehat, ganteng, baik hati, shaleh." Jawab Clara.
Kemudian Clara menidurkan Baby Zi, tak di sangka Surya langsung memeluknya sangat erat.
"Aku sangat kangen banget sama kamu sayang, jangan pernah bosan jadi istriku. Kau adalah permaisuriku seutuhnya, kapan nifasmu berakhir." Ujar Surya berbisik ke telinga Clara pelan.
"Kau ini sangat mesum honey, sabar masih lama, ahahaha." Balas Clara sambil mencubit perut suaminya.
Setelah itu, Clara memeluk suaminya, ia berpikir harus menghindari Rey dari mulai sekarang. Ia tidak mau Clery salah paham terutama Surya, baginya Surya adalah suami yang sangat baik, dia melindunginya dari segi apapun. Karena bagi Clara masalalu sudah ia kubur sangat dalam.
Dan sekarang, ia sudah punya keluarga yang sangat ia sayangi dan cintai. Termasuk suaminya sendiri, cintanya semakin hari, semakin besar pada Surya.
"Kau tau," tanya Clara.
"Hmmm."
__ADS_1
"Aku sayang banget sama kamu, jangan pernah tinggalin aku. Saat kemarin kamu tergeletak berlumur darah, membuatku hancur honey. Aku kira kamu beneran tertebak, Aku tidak tau, hidupku tanpa kamu tuh bagai sayur tanpa garem." Terang Clara sambil terus memeluk erat tubuh kekar suaminya.
"Kau ini, aku tidak akan meninggalkan kamu sayang, percayalah. Hanya maut yang bisa memisahkan kita berdua, sekarang kita fokus sama kedua anak kita. Kalau kamu mau nambah hayo hahahah." Surya tertawa renyah.
"Kau ini, kita tukeran posisi yu hahahha." Clara tertawa bersama Surya yang kini masih berpelukan.
🌾🌾🌾
Di rumah sakit, Rey terus saja memikirkan Clara, membuat Mamah Rey cape menasehatinya.
"Rey, dengerin Mamah. Clara hanya masalalu, dia sudah milik Surya seutuhnya, bersama Baby Twins mereka. Kau ingat, Clery sudah berjuang untukmu. Lihatlah dia Rey, dia masih tidak sadarkan diri, kamu fokus sama Clery. Kalau kamu tidak mau melupakan Clara, Mamah yang akan marahi Clara." Desis Mamah Rey marah.
"Mamah ini apa-apaan sih, tolong Mamah mengerti tentang perasaan Rey saat ini. Dukung Rey sebagai anak Mamah." Ujar Rey memaksa.
Namun Mamah Rey ngamuk, ia tidak setuju atas keputusan yang ia simpan. Mamah Rey pengen Rey mencintai Clery sebagai istrinya. Karena Clara tidak mungkin balikan sama dirinya. Mereka sudah punya pasangan masing-masing.
Mungkin ini salah mereka, karena sudah keras dan kasar pada Clara.
"Clara sangat trauma sama sikap kita yang dulu kasar padanya Rey. Dia sudah memaafkan kita tapi bukan berarti dia menerima masalalunya juga. Kamu harus tau itu rey, kita dulu terlalu keras dan juga sangat tidak manusiawi. Balas dendam tanpa mencari tau kebenarannya, dan berakibat fatal sampai saat ini." Terang Mamah Rey sambil menangis.
"Dan semua ini karena Clery." Desis Rey membuat Mamahnya emosi mendengar ucapan anaknya.
"Rey stop, Clery tidak tau apa-apa. Dia mencintaimu sangat tulus, Mamah tidak mau kamu menyesal di kemudian hari. Cintai dirinya Rey, sayangi dia, Mamah sangat sayang sama Clery." Ujar Mamah Rey menangis.
Rey hanya diam, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Mungkin dirinya hanya ingin memiliki Clara seutuhnya.
"Aku ingatkan kamu Rey, jangan sampai Clery tau soal ini, Mamah tidak mau dia sakit hati mendengar semuanya." ucap Mamah Rey pergi meninggalkan Rey.
"Pura-pura mencintai orang lain itu sangat sakit, maafin gue Clara. Dulu gue main tebas saja, tidak mencari tau tentang kebenaran. Beda dari Surya, dia lebih pintar dari gue, mungkin itu yang Clara rasakan saat ini. Huuuhh, mungkin saat ini harus mencintai dia dalam diam dan mulai mencintai Clery, apakah gue bisa mencintai Clery seutuhnya. Kenapa semuanya jadi serumit ini sih, andai waktu bisa aku putar kembali, ingin sekali aku memperlakukan Clara bak putri. Seperti yang Surya lakukan pada Clara saat ini. Belajar masa bodo itu sangat sakit." ujar Rey sambil menatap Clery yang terbaring.
Tak berselang lama, Clery menggerakan jarinya, hal itu membuat Rey merasa kaget, ia langsung menekan tombol pemanggil Dokter. Rey harap Clery bisa membuka matanya saat ini.
__ADS_1
Mamah Rey datang, ia langsung senang mendengar Clery sudah ada gerakan-gerakan kecil. Besar kemungkinan Clery akan segera sadar.
"Ya Allah sayang, semoga kamu segera membuka matamu. Suamimu dan anak-anakmu membutuhkanmu sayang." Ucap Mamah Rey sambil melihat Clery yang kini masih menutup matanya.