
Pagi hari masih di rumah sakit.
Clara sudah rapih, dan juga sudah siap untuk bertemu sama Twin Boy-nya. Terlihat senyum manis terukir dari wajahnya, Kini Surya sudah membawa Twin Boy. Senyuman, Clara merekah begitu berbinar melihat Twin Boy-nya datang.
"Lihat sayang, Baby kita terlihat sangat ganteng, bibirnya sangat gemes pipinya dan juga lihat matanya seperti kamu." Seru Surya sambil memberikan Twin Boy-nya satu sama Clara.
Ibu Farrah girang melihat Cucu pertama dan keduanya sehat dan juga sangat ganteng. Bu Farrah langsung menggendong Twin Boy yang ada di tangan Surya.
"Sini Ibu pengen banget gendong, dari kemaren kita cuma bertemu sebentar. Duh lihat Surya dia mirip kamu waktu masih bayi, dih gantengnya Cucu Nenek," seru Ibu Farrah.
"Bu kita belum kasih nama buat mereka. Pantasnya kamu Honey, yang kasih nama buat mereka," usul Clara.
"Aku sudah kok menyiapkan nama mereka, cuma kita harus kasih tanda berupa apa kek biar mereka tidak tertukar nama heheheh," balas Surya.
"Ya sudah kita kasih gelang dari kain saja, yang satu merah dan yang satu kuning," usul Ibu Farrah.
Clara setuju sama usulan mertuanya itu. Dan Surya pun langsung memberi nama buat anaknya.
"Ok baiklah, yang pakai gendongan biru Papih kasih nama. Zico dan yang gendongan Kuning ini, Papih kasih nama Zaki," seru Surya sambil mencium Baby-nya.
"Waahh, nama yang sangat indah, aku suka honey. Jadi kita kasih nama panggilan Zo untuk Zico, dan Za untuk Zaki," seru Clara.
"Bagus sekali sayang, oh iya, cepat kamu beli baju buat anak kamu Surya, Ibu di sini nemenin Clara. Kamu belum belanja bukan?" tanya Ibu Farrah.
"Belum Bu, Surya mana sempet saking sibuknya. Baiklah Surya beli baju sama perlengkapan yang lainnya." Surya pamit untuk membeli segala perlengkapan Baby Twin-nya.
Di lorong Surya bertemu sama Mamah Shiren yang habis mengurus semua data Clery.
Surya merasa heran, melihat kusut dan kacau Mamah Shiren. Ia langsung menghampirinya, dan langsung juga melihat Orangtua Rey.
"Mah," ucapnya.
Mamah Shiren menoleh, terlihat wajah yang sulit di artikan dan juga tidak mengerti. Surya bertanya-tanya dalam pikirannya ada apa dan kenapa? ia langsung medekat dan Mamah Shiren menangis memeluk Surya.
Hik... hik... hik...
Mamah Shiren tidak kuasa membendung air matanya.
"Mah, ada apa ini,?" tanya Surya mendesak.
"Clery dan Rey koma, mereka ada di ruang Rawat.
"Apa yang Mamah ucapin? Surya tidak mengerti,?" tanya Surya.
__ADS_1
Mamah Shiren menghembuskan nafasnya berat, ia langsung mengajak Surya duduk, setelah itu Mamah Shiren langsung bercerita.
Flashback...
"Tolong semuanya tenang, kami akan segera melakukan tindakan operasi. Kalian berdoa untuk mereka, dan untuk Clery mungkin Bayinya nanti akan prematur karena perkiraannya masih jauh. Kita akan segera mengambil bayi itu dari perut ibunya. Kalian berdoa untuk keselamatan ibu ayah dan bayinya." Ucap sang Dokter. Lalu, ia menutup pintu ruang operasi.
Mamah Shiren langsung lemas begitu juga kedua orang tua Rey. Mereka terus berdoa sepanjang malam.
Di dalam.
Semua lagi melakukan tindakan operasi Clery, mereka mengangkat 2 bayi sekaligus. Dan langsung mereka membawanya ke ruangan bayi untuk perawatan lebih lanjut lagi.
Setelah bayi keluar, tinggalah Clery. Mereka bernafas lega, dan sudah beres melakukan tindakan operasinya.
Clery langsung di bawa ke ruang rawat untuk perawatan lebih lanjut lagi.
Di ruang operasi Rey, mereka sukses telah menjait bekas tusukan pada perut Rey. Tusukan itu sangat dalam hingga Rey mengalami keritis.
Dokter berusaha sekuat tenaga supaya Rey bisa selamat. Setelah beberapa jam semua bernafas lega karena Rey berhasil melewati masa kritisnya.
Subuh telah tiba.
Rey di nyatakan koma dan juga Clery, Mamah Shiren syok berat. Mereka hancur mendengar kabar itu.
Terlihat Rey dan Clery berendengan sejajar, karena permintaan kedua orang tuanya untuk tidak memisahkan ruangan mereka.
Mamah Shiren dan juga yang lainnya di ajak sang perawat untuk melihat keadaan sang Cucu mereka.
Terlihat banyak selang yang di tempelkan di badan mereka. Mamah Rey menangis bersama Mamah Shiren.
"Ya Allah, cobaan apalagi ini. Rey dan Clery koma sedangkan Baby mereka prematur dan memerlukan perawatan khusus," ucap Mamah Rey.
Flashback off
"Siapa yang melakukan ini,?" tanya Surya.
"Kami telah berusaha menyelidiki kasus ini, namun cctv di rumah Rey tidak menangkap wajah pembantai itu. Dan juga nomor plat mobilnya juga palsu.
Surya mulai berpikir, harus menemukan si pelaku untuk dia tangkap.
Setelah itu, Surya keruangan Clery dan Rey. Terlihat wajah pucat mereka dan juga membuat Surya merasa sedih. Ini mungkin akan menyakitkan bagi Clara, ia akan segera memberitahu istrinya untuk memberi dorongan hidup untuk kembarannya.
"Rey, semoga kamu kuat dan segera sadar," ucap lirih Surya.
__ADS_1
Surya pamit dia akan ke ruangan Clara dan akan memberitahunya, ia pikir semoga saja hati naluri mereka bisa kuat.
Mamah Shiren menyetujui, dan ia meminta maaf karena belum memberi kabar pada Clara.
Surya pun mengerti dengan keadaan ini semua.
Setelah itu sebelum Surya membeli perlengkapan semua baju Twin Boy-nya. Ia keruangan istrinya, terdapat senyuman manis dari istrinya.
"Surya, kenapa kamu balik lagi,?" tanya ibu Farrah.
"Huuuhh" hembusan nafas Surya sangat berat. Ia langsung duduk di pinggir ranjang istrinya.
"Sepertinya, Clery sedang membutuhkanmu untuk berjuang hidup, dan juga Rey. Mereka membutuhkan mu sayang," ucap lirih Surya.
"Apa maksud kamu honey,?" Clara merasa tidak mengerti sama ucapan suaminya.
"Lebih baik kita keruangan Rey dan Clery. Nanti kamu juga bakalan tau mereka kenapa," ucap Surya.
Tak lama Surya mendorong Clara ke ruang Clery dan Rey yang sedang berbaring lemah dan tidak sadarkan diri.
Hati nurani Clara sangat kacau ia merasa ada yang tidak beres.
Ibu Farrah ikut, kebetulan Baby Twin. Masih di ruangan Bayi, belum di lepas langsung ke ibunya.
deg..
Clara merasa sedih ketika melihat wajah Mamah Shiren dan Mamah Rey. Wajah mereka berantakan bekas nangis yang masih sembab.
"Ayo sayang kita masuk," ucap Mamah Shiren.
Setelah pintu mereka buka, terdapat dua insan yang terbaring lemah membuat Clara sesak.
"Kak Clery kenapa mah,?" ucap lirih Clara ia langsung mendekatinya.
"Dia koma sehabis insiden semalam, dan Bayinya juga sedang di rawat khusus bayi prematur.
Clara menangis ia merasa tidak percaya, dan ia baru sadar, sekelebat di bayangannya ternyata bukanlah mimpi tapi kenyataan.
Setelah itu, Clara menggenggam tangan kembarannya itu. Ia menangis dan berkata.
"Kak, bangun, kamu harus kuat, aku percaya itu. Kehidupanmu masih panjang semua menunggumu di sini," ucap lirih Clara.
Setelah itu, Surya langsung pamit pergi dari ruangan. Ia tau siapa yang harus ia datangi untuk kasus ini.
__ADS_1
Clara tersenyum, karena ia tau siapa yang akan di datangi suaminya itu.