
Sementara ini Clery sedang mengemudi, Ia terburu-buru mengejar mobil yang di kemudikan Dewi bersama pria yang tak di kenal.
"Ahhh, sial kenapa harus lampu merah sih!" ucap Clery menghembuskan nafas berat ia begitu merasa kesal, mobil yang di kejar kini hilang entah kemana.
Dalam hatinya, Clery merasa cemas sama keadaan adiknya. Ia takut terjadi sesuatu yang akan menimpa Clara.
"Gue, harus bicara langsung sama Clara sekarang juga, bagaimanapun, kebahagiaan Clara adalah kebahagiaan gue juga." ucap Clery sambil menyandarkan tubuhnya kebelakang.
Di Apartemen, Clara sedang menunggu Kakaknya datang ke kediamannya sekarang. Ia merasa sangat senang, mendengar Clery akan datang menjenguknya. Seengaknya Clara bisa menghilangkan rasa bosan.
Brakkkk....
Pintu Apartemen terbuka lebar, sontak saja, gebrakan pintu membuat mata Clara melebar kaget. Dewi datang, ia sengaja membuka pintu secara kasar.
"Dewi, kamu bisa gak sih, buka pintu itu secara pelan-pelan?" ucap Clara bangkit dari tempat duduknya.
"Lo, gak usah ngatur-ngatur gue, ini hidup gue, kalau Lo gak suka! sana pergi jauh-jauh!" jawab Dewi sambil berkacak pinggang ke arah Clara, Ia langsung nyelonong pergi ke kamarnya.
Hal itu membuat Clara merasa kesal, prihal kelakuan Dewi di Apartemennya membuat Clara risih dan juga tidak tenang. Clara menghempaskan badannya ke sofa, sambil mengatupkan bibirnya, dan menghembuskan nafas berat.
Ia berdiri lagi dan langsung menutup pintu Apartemen yang di buka lebar oleh Dewi.
Hal tak terduga setelah Clara menutup pintu, kini pintu kembali ada yang memencet bell. Clara berdecak kesal, dalam pikirnya siapa lagi yang datang, dalam situasi yang sangat menyebalkan ini.
Perlahan kaki Clara menuju pintu, knop pintu di buka, Betapa bahagianya terdapat sosok Kakaknya yaitu Clery, saat ini tengah berdiri dan tersenyum lebar Mereka langsung berpelukan. melepas rindu di antara mereka.
"Kakak, akhirnya datang juga? aku sangat senang Kakak ke sini, hmm.., Kakak duduk dulu di sofa, aku buatkan minuman dulu ya?" ucap Clara sambil terus memeluk tubuh Kakak, kembarnya.
__ADS_1
Clery hanya bisa tersenyum melihat adiknya yang sangat senang atas kehadirannya.
"Ra, Kakak mau bicara sama kamu empat mata boleh?" tanya Clery sambil terus memperhatikan adiknya yang sedang sibuk membuat jus.
"Baiklah kak, ayo kita masuk ke dalam kamar, soalnya kalau di sini gak aman!" ucap Clara sambil membawa nampan berisi dua jus jeruk. Ia melangkahkan kaki ke kamar, Clery mengikuti dari belakang.
"Emang di sini ada siapa saja, kurasa Apartemen ini sangat sepi?" tanya Clery sambil mendudukan tubuhnya ke sofa yang ada di kamar Clara. Ia pun langsung mengambil dan menegug jus buatan Clara.
"Hmm...., Clara bergerak dengan gelisah, ia enggan membicarakan soal dewi yang ada bersama mereka. ia pun langsung melangkah dan mengunci pintu supaya Dewi tidak mengintip atau menguping pembicaraan mereka.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Clery bingung sambil mengernyitkan dahinya.
"Di sini, bukan hanya aku dan Rey, tapi, ada Dewi juga!" ucap Clara gugup, sambil menelan salivanya susah payah.
"APA? kamu, tidak berbohongkan?" ucap Clery sambil menyipitkan matanya.
"Tidak, kak, ia maksa banget pengen bersama kita, dan sebentar lagi, dia akan menikah sama Rey?" ucap Clara pelan sambil menundukan kepalanya ke bawah, terlihat Clara meremas kedua tangannya.
"Kakak, kok tau?" tanya Clara penasaran.
Gini, tadi aku lagi di restoran, gak sengaja melihat Dewi bersama seorang pria, tapi itu pria tidak kelihatan batang hidungnya, cuma punggungnya saja" jawab Clery panjang lebar sambil memegang tangan Clara.
"Aku juga sudah tau kak, waktu itu, beberapa hari yang lalu, tapi aku gak berani bicara sama Rey mengenai hal ini, takut ia emosi dan malah berantakan. Tapi, hal itu tidak terjadi, Aku bicara sama Rey dan akhirnya aku, Rey berinisiatif untuk pura-pura lemah dan percaya setiap ucapannya. Setelah nanti kita punya bukti yang kuat, baru kita laporkan ke polisi." ucap Clara panjang lebar dan terlihat matanya berbinar.
"Baiklah rencana kalian sangat bagus, Kakak juga akan terus mengincar tu pria, biar kita tau siapa pria itu?" ucap Clery sambil memandang wajah Clara.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Di kantor Rey, emosi, matanya memerah, vas bunga yang ada di meja ia hempaskan dengan enteng, Matanya sangat tajam, tangan mengepal sambil menggebrakan meja.
"Sabar bro, Lo selama ini sudah berusaha mencari informasi tentang pria itu, Dia sangat cerdas dan licik, hingga dia menutup semua identitas aslinya." ucap Kevin sambil memeluk tubuh Rey yang terlihat sedang emosi.
"Gue gak bisa tinggal diam, orang suruhan gue kagak becus. Saat ini gue pengen nonjok dia habis-habisan. Bisa-bisanya dia mengincar Clara dengan cara seperti ini!" ucap Rey mengepalkan tangannya, dan menghempaskan badannya ke kursi.
"Orang itu, maunya apa coba, meneror Lo tidak henti-hentinya. Gue rasa Clara harus di jaga ketat, biar gue yang jaga dia selama Lo tidak ada -di sisinya." ucapan Kevin sontak saja mengagetkan Rey yang sedang menatap ka arah luar.
"Lo, kagak bakal macem-macemkan sama istri gue" ucap Rey menyelidik.
"Apaan sih Lo, gue itu Kakak angkat Clara, sudah seharusnya gue jagain dia!" jawab Kevin berdecak kesal.
"Dulu, Lo suka jugakan sama Clara ?" tanya Rey memiringkan kepala sambil menyipitkan matanya.
"Itu si dulu Rey, sekarang sudah enggak kok" jawab Rey singkat.
"Oke, gue percaya sama Lo, jagain dia selama gue lagi kerja, gue takut dia kenapa-napa, dan gue akan berusaha mengorek identitas asli dia, dan mengapa dia begitu dendam sama gue juga Clara." ucap Rey sambil bangkit dari tempat duduknya.
Di tempat lain, David, suami Dewi memukul tembok sangat keras, begitu ia mengetahui bahwa Dewi malah beneran suka dan cinta sama Rey. Ia sangat emosi, matanya memerah sambil mengacak kepalanya frustasi.
"Dewi, kenapa Lo malah mengingkari janji Lo, niat kita untuk menguras habis harta Reyyandra . Tapi kenapa Lo malah jatuh cinta beneran sama dia? ini sangat tidak benar, kamu harus menerima akibatnya." Ucap David, sambil mengepalkan tangannya, menatap photo Dewi.
David kini berusaha menghubungi Dewi, namun tidak di jawab telephonenya. Membuat ia berdecak kesal dan membuang ponselnya ke atas tempat tidur, Ia menjerit sambil mengacak rambutnya frustasi. Ia langsung menonjok tembok kamar lagi.
Kelakuan Dewi sungguh di luar dugaan David. Ia benar-benar marah, kepada Dewi, walaupun saat ini, Dewi sedang mengandung anak pertama mereka, tapi bagi David Dewi sudah sangat keterlaluan. Ia sudah mengingkari janji dan membohonginya selama ini.
Di Apartemen Dewi, terus-terusan mual, ia bulak-balik ke kamar mandi. Membuat tubuhnya agak sedikit lemas dan kepala pusing. Clara yang mengetahuinya langsung saja, menghampiri Dewi yang kini terlihat pucat.
__ADS_1
"Ku kira kamu tidak akan mual-mual kayak gini? aku akan membuatkan minuman teh manis buat kamu, supaya rasa mual yang ada di mulut kamu cepat hilang.
Dewi membaringkan Tubuhnya ke atas kasur sambil melihat Clara berlalu pergi dari kamarnya. lalu, ia mengambil ponsel yang sejak tadi terdengar berbunyi, terlihat panggilan tak terjawab sebanyak 20 kali. Dewi menghembuskan nafas kasar, lalu, mematikan ponselnya dan langsung menaruhnya lagi di atas meja.