Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat
menyedihkan Season2


__ADS_3

Di rumah Dewi, lagi memikirkan suaminya yaitu David. Ia belum menemukan informasi lebih lanjut mengenai suaminya itu.


Setelah ia melamun sambil memandangi taman yang berada di rumah belakang miliknya. Anak buah suruhannya datang memberi infomasi terkini.


"Ada info apa yang kamu bawa kemari," Desisnya sambil terus memandang ke arah taman sesekali ia menegug kopi hangatnya.


"Bos, Tuan David berada di rumah Clara, mereka tinggal berdua." Ujarnya sambil membungkukkan badan, kepala tertunduk.


"Apa yang kamu katakan, apa aku tidak salah dengar! janda itu merebut suamiku. Setelah suaminya pergi meninggalkan dirinya, kini ia merebut suamiku yang tak lain sodara suaminya haaahh." Desis Dewi mengencangkan suaranya, dan membuat anak buahnya itu merasa takut.


"Ia Bos, kemaren saya liat. Mereka pergi ke dalam mobil, kami melihat mereka keluar dari rumah sakit." Ujarnya lagi takut.


"Baiklah, Clara. Kamu mau bermain api rupanya haahh, nanti kita bikin rencana untuk melenyapkan Clara. Bisa-bisanya dia merebut suamiku, dasar pelakor." Ucapnya marah ia langsung membantingkan Gelas kopi ke lantai dan membuat anak buahnya tambah ketakutan.


Setelah itu, Dewi menuju kamarnya. Ia membawa senjata api, dan akan merencanakan semua misi untuk melenyapkan Clara.


"Mungkin kamu ingin menyusul seperti suamimu mati Clara. Ini tida benar, kau harus menerima akibat dari perbuatanmu itu Clara." Teriak Dewi sambil membantingkan barang yang ada di kamarnya.


Sesekali Dewi tersungkur lemah, ia tidak mau David berpaling darinya. Pegangan erat tangan Dewi pada sprei yang kini sedang ia cengkram, matanya melotot merah, nafsunya sudah tidak bisa ia kendalikan.


"Aku akan membunuhmu Clara, dan untuk David akan aku bunuh juga, teganya kamu membohongiku. Dengan alasan kamu kerja keluar kota, tapi nyatanya kamu pergi ke rumah si janda gatal itu Clara. Ini tidak bisa di biarkan, rasa sakit hatiku, akan aku imbaskan pada kalian berdua." Sorot matanya tajam sambil menatap pistol yang kini ada di tangannya.


Kemudian, Dewi pergi. Ia akan merencanakan misi untuk David dan Clara, sulut emosinya tidak terbentung, ia merasakan sakit hati yang amat dalam. Setelah mengetahui bahwa suaminya berada di rumah Clara.


🌾🌾🌾

__ADS_1


Di rumah Surya.


Kini David sedang di bantu memasangkan rambut palsunya ke kepala miliknya. Di bantu ibu Farrah yang juga kerabatnya sendiri. Sesekali ibu Farrah meneteskan air matanya, setelah tau David sakit parah yaitu kanker darah.


"Kenapa kamu nakal sekali David, kamu harus segera memberitahukan semuanya kepada keluargamu. Ini tidak baik, Bibi yakin, semuanya akan membantu penyembuhanmu." Ujarnya sambil terus menatap wajah sendu David, badannya mulai kerempeng dan juga sorot mata yang sudah tidak segar lagi.


"Aku takut Papah serangan jantung, biarkan aku mati duluan di banding Papah. Jangan dulu memberitahukan tentang penyakitku ini Bi. Aku tidak mau mereka merasa iba dan malah membuat Papah sakit." Ucapnya meneteskan air mata.


Ibu Farrah langsung mengambil makan untuk David yang kini berada di kursi roda yang telah di belikan Surya.


"Kamu makan dulu, biar Bibi yang suapin kamu. Sudah stadium berapa kamu sayang,?" ucap lembut ibu Farrah pada David.


Namun David malah menangis, ia tidak tau harus ngomong apa, karena penyakitnya sudah parah. Kesempatan untuk hidupnya hanya tinggal sedikit, maka dari itu. Dirinya hanya memilih jalan untuk berobat biasa di banding di rawat di rumah sakit. Keterbatasan biayalah yang membuat David nekad tidak di rawat.


Hartanya sudah terkuras habis tanpa sepengetahuan Dewi. Ia sudah banyak mengeluarkan biaya untuk kesembuhannya, namun hasilnya nihil.


"Tidak sayang, insya Allah Surya akan mengirimmu keluar negri, biar dokter di sana bisa merawatmu dengan baik. Kamu tidak boleh menolak, Bibi ingin sekali melihatmu bahagia lagi." Ucapnya sambil menyuapi David yang tengah duduk di kursi roda.


🌾🌾🌾


Di rumah Rey.


Sorot matahari tajam menyusup ke wajah yang kini masih terbaring tidur. Ia sesekali membenarkan selimutnya lagi, waktu menunjukan jam sembilan pagi.


Rey kemudian membuka matanya perlahan, ia langsung melihat jam yang ada di meja dekat tempat tidurnya, kemudian Ia mendesah kesal lalu berteriak.

__ADS_1


"Clery, kenapa kamu tidak membangunkanku sih. Ini sudah siang, kamu siapkan sarapan untukku." Ujarnya, namun hanya keheningan yang dapat ia rasakan.


Ia bangun dan menoleh ke arah sebelahnya, dirinya baru ingat bahwa Clery sudah tidak ada di rumahnya lagi. Rey mengusap wajahnya pelan, lalu ia turun dari tempat tidur menuju bawah untuk mencari makanan yang tersedia di dapurnya itu.


Setelah sampai dapur, ia menemukan roti dan langsung melahapnya. Rey langsung membuat susu panas, lalu ia duduk sendirian, sesekali ia menatap kursi yang sering Clery duduki di tempat meja makan.


Rey melahap rotinya, hanya keheningan yang ada di rumah itu. Tidak ada tangisan Baby twins Girls-nya lagi. Setelah itu, ia melamun sejenak dan menatap sofa yang sering juga Clery duduki untuk bersantai ria bersama Baby Twins-nya.


"Clery," ucapnya menghampiri sofa, yang tidak jauh dari meja makannya.


Ia meletakan roti-nya dan menghampiri sofa itu. Namun itu hanyalah bayangan Rey saja, aslinya sofa itu tidak ada siapa-siapa.


"Kenapa aku ini selalu memikirkan Clery, apa aku sudah gila. Tidak mungkin ini hanya imajinasi dan kebetulan saja aku memikirkannya." Ucap Rey menepis semua bayangan tentang Clery.


Ia menuju kamarnya, kebetulan hari ini libur ia bekerja. Setelah itu ia tersenyum melihat ke arah kamar Baby twins Girls-nya.


"Aku lupa, sekarang hari libur waktunya untuk bermain bersama kedua anakku." Ucapnya lagi, lalu ia berhenti melangkah, ia lupa bahwa anaknya sudah tidak ada lagi di rumahnya.


"Sial, kenapa dengan diriku ini. Sungguh ini membuatku stres, bayangan Clery dan Clery saja yang ada di pikiranku, semua ini tidak benar." Seru Rey langsung kembali ke kamarnya lagi.


Tak lama dari itu, pintu utama rumah terbuka, sebelum Rey masuk ia langsung membalikan badannya.


"Clery," ucapnya lagi.


Namun raut wajahnya mendadak sayu kembali, yang datang hanya Art-nya untuk membereskan rumahnya.

__ADS_1


Ia kemudian masuk lagi ke dalam dan menghempaskan badannya ke tempat tidur.


"Kenapa lagi aku, yang aku cemaskan dan harapkan kenapa hanya Clery. Mungkin aku butuh jalan-jalan untuk menyegarkan pikiranku ini." Rey bangun melangkah ke kamar mandi, untuk menyegarkan badan dan kepalanya yang terasa mumet, setelah itu Rey akan pergi untuk jalan-jalan.


__ADS_2