
Clara memeluk Clery yang kini sedang menangis. Ia tidak mampu berkata lagi, karena memang suasana di ruangan sangat keruh.
"Kepalaku sangat sakit Rey" ucap Clery meraba kepalanya.
"Kamu tenang dulu, dokter nanti datang dan akan priksa" Rey memeluk tubuh istrinya yang kini menangis terus.
Dokter tiba, ia langsung menyuruh semua yang ada di ruangan keluar dulu, kecuali Rey suaminya.
Clara terus memeluk Surya, ia menangis tak kuasa melihat kakaknya.
"Apakah dia akan baik-baik saja" ucap Clara.
"Sudah jangan menangis dia pasti baik-baik saja, kita berdoa semoga kakak kamu tidak kenapa-napa" balas Surya sambil menghapus air mata istrinya.
Dokter kini sedang memeriksa mata Clery, senter ia sorotkan ke mata Clery, namun tidak ada respon dari matanya.
"Aku tidak bisa melihat cahaya dokter, apa kau tidak menerangiku" ujar Clery menangis.
"Huuuhhh" dokter mengembuskan nafasnya berat.
"Dia mengalami buta, dengan berat hati saya mengatakan semua ini, semoga kamu bisa menerima semua ini. Saya akan berusaha mencari pendonor kornea mata buat kamu" ucapan sang dokter mencabik hati Rey dan juga Clery.
"TIDAK.... AKU TIDAK MAU BUTA DOKTER, REY AKU TIDAK MAU BUTA TOLONG AKU REY" histeris Clery memukul dada sang suami yang kini sedang memeluknya sangat erat.
"Kamu yang sabar, nanti kalau ada perkembangan mengenai pendonor, saya akan segera operasi kamu, sebaiknya tenangkan saja pikiran kamu dan juga jaga istrimu baik-baik yaa" ucap sang dokter di angguki Rey.
Dokter keluar membawa luka di hatinya, ia sangat sedih baru kali ini ia menangani pasien yang mengalami kebutaan akibat kecelakaan.
"Ada aku di sini, aku selalu di samping mu" ucap Rey memeluk lalu mencium kening istrinya.
Clara, Surya dan mamah Rey kembali masuk, menyaksikan Clery yang sedang terisak dalam tangisannya.
Clara tak kuasa membendung kesedihannya, dirinya langsung memeluk sang kakak.
"Kak, jangan bersedih kami ada di sini untukmu" ucap Clara.
"Ra, terima kasih sudah mau mendonorkan darah untukku, tapi setelah ini aku akan buta selamanya" ucapan Clery menusuk relung hati Clara.
"Tidak, tidak, kakak gak boleh bicara seperti itu, kita cari solusinya, aku akan mencarikan pendonor kornea mata buat kakak, iyakan honey" Clara bergetar sambil terus menangis dan melirik ke arah suaminya.
__ADS_1
"Yang di ucapkan Clara benar, kita akan mencari pendonor kornea mata buat kamu" tegas Surya memeluk istrinya.
Satu jam kemudian
Mamah shiren langsung menerobos masuk ke ruangan, begitu juga papah farrel dan juga nenek sukma. Setelah mereka di beritahu kondisi Clery saat ini, mereka bergegas ke rumah sakit.
Mamah shiren hanya bisa memeluk erat putrinya yang kini hanya bisa terdiam tak bergeming, pandangannya kosong ke depan.
"Mah, Clery cacat, Clery tidak bisa melihat dunia yang sangat indah, Clery tidak akan melihat wajah mamah dan juga wajah tampan suami Clery. Semua orang yang Clery sayangi tidak bisa di lihat dengan jelas oleh mata Clery" tangisan mamah shiren kembali pecah.
"Tidak nak, kita akan berusaha mencari pendonor mata buat kamu" mamah shiren berusaha menenangkan putrinya.
Mamah shiren emosi sulut matanya tajam, ia membalikan badannya dan langsung mengamuk ke arah nenek Sukma.
"Ini semua gara-gara mamah, ngapain coba kemaren mamah malah kabur kayak anak kecil saja, lihat sekarang clery tidak bisa melihat dunia ini lagi mah. Aku sudah muak sama mamah, sebaiknya mamah aku kirim ke rumah sakit jiwa" teriak mamah shiren sambil menatap tajam ke arah nenek Sukma.
"Apa-apan kamu ini, siapa yang gila, lihat istrimu Farrel berani sekali dia menyuruh mamah ke rumah sakit jiwa, kamu sudah berani melawan mamah haaahh" balas nenek Sukma.
"Sudah cukup aku sudah cape, sekarang mamah harus tanggung jawab sama Clery, Carikan dia pendonor mata" tajam mamah shiren.
"Haaahh, kamu kurang ajar sama mamah, oke mamah sudah tau orangnya, yaitu Clara hahahaha" balas nenek Sukma tertawa riang.
"Tidak, Clara sudah banyak berkorban untukku" ucap Clery sambil menatap kosong ke depan.
"Apa katamu berkorban, dia hanya pembawa sial, contohnya sekarang ini, lihatlah kamu begini gara-gara dia dekati kamu, dan akhirnya kamu mengalami hal buruk" desis nenek Sukma.
"Mamah itu sudah keterlaluan" ucap papah Farrel tajam.
"Kamu sudah berani melawan mamah, dan itu juga gara-gara membela Clara" desis nenek Sukma lalu keluar membanting pintu.
Semuanya hanya bisa mengelus dada melihat tingkah nenek Sukma.
🌾🌾🌾
Clara pulang dan juga Surya, mereka kelelehan semalaman tidur di rumah sakit. Clara tak kuasa melihat kakaknya yang kini tidak bisa melihat lagi.
Dirinya terus melamun, tidak ada untaian kata lagi dari bibirnya, Surya hanya terdiam melihat istrinya tidak bergeming.
"Sayang kita sudah tiba, ayo turun" ucap Surya.
__ADS_1
Ucapannya tidak di respon Clara, ia masih memandang ke arah depan menatap kosong.
Hatinya hancur, sodaranya kini telah rapuj, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Surya keluar dari mobil, ia langsung membuka pintu mobil sebelahnya,.tatapan Clara masih kosong kedepan, dirinya langsung saja menggendong istrinya ke dalam rumah.
Terlihat ibu Farrah menyambut kedatangan mereka, raut wajah yang tadinya berbinar melihat mereka tiba di rumah, kini berubah panik, ia langsung menghampiri dan bertanya kenapa, ada apa?
"Clara sayang, kenapa kamu sayang?" tanya ibu Farrah.
Clara masih terdiam, tubuhnya di dudukan di sofa secara perlahan.
"Bu, hibur Clara yah, aku mau ke atas dulu sebentar" ucap surya yang di angguki ibu Farrah.
Ibu Farrah menghembuskan nafasnya pelan, lalu ia membuatkan teh manis seperti yang di lakukan Clara kepadanya.
5 menit kemudian
"Sayang minum dulu teh hangatnya" ucap ibu Farrah.
Clara melirik ke arahnya, lalu tangisannya pecah. Ibu Farrah langsung memeluk tubuhnya dan juga mengusap kepalanya.
"Bu, kak Clery tidak bisa melihat sekarang, aku sangat sedih dan masih tidak percaya, apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Clara pelan sambil meneteskan air matanya.
"Dia pasti baik-baik saja, kamu tenang saja, semua masalah pasti ada solusinya" balas ibu Farrah lembut.
"Apa harus aku saja yang mendonorkan mata pada kak Clery" ucap Clara.
Surya yang baru turun dari anak tangga langsung berteriak.
"TIDAK"
Surya langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk menangis di sofa bersama ibu Farrah.
"Sayang, aku tidak setuju, biarkan mereka mencari solusinya, kita juga sama cari solusi yang tepat buat Clery. Tapi tidak dengan memberikan mata kamu pada dia" Surya marah besar, ucapan istrinya merasa tidak masuk akal di pikirannya.
Entah apa yang ada di pikiran istrinya hingga ia terus berkorban untuk semua orang, donor darah tidak separah mendonorkan matanya, dia akan buta berbalik pada Clery dia akan melihat isi dunia lagi.
Surya tidak mau itu terjadi, sudah cukup Clara yang selalu jadi tindasan dari keluarganya. Selama ini Surya sudah tau kenapa Clara bisa di pisahkan dari keluarganya, membuat dirinya emosi saat tau semua itu.
__ADS_1