
Hari ini Clara sedang mengajak anak-anaknya di ruang Tv bermain, Ibu Farrah sudah sakit-sakitan dan sekarang dia lagi istirahat di kamar.
Clara mendengar suara bell berbunyi. Dirinya langsung melangkah keluar dan terdapat Papah Farrel, matanya sembab, entah apa yang terjadi Clara tidak tahu.
"Pah, tumben ke sini tidak telephone Clara dulu,?" tanya Clara seraya mengajak masuk ke dalam rumahnya.
Anak-anak Clara langsung berhamburan memeluk sang Kakek. Clara beranjak pergi meninggalkan mereka, Clara langsung memberikan teh manis andalannya.
Dia datang dan meletakan teh manis yang ada di nampan kecil itu ke atas meja. Papah Farrel tersenyum, ia langsung menegug secangkir teh manis.Tak di sangka, air mata mengalir dari pelupuk mata Papah Farrel.
"Papah kenapa menangis,?" tanya Clara cemas.
"Tidak sayang, teh manis buatanmu mengingatkan Papah pada sosok mamahmu," balas Papah Farrel terlihat sendu.
__ADS_1
"Sayang coba lihat nenek di kamar sudah bangun apa belum? kalau sudah bangun kasih tau mommy yah,?" ucap lembut Clara kepada dua jagoannya.
"Siap mommy!" serentak kedua jagoannya.
"Papah sangat menyesal tidak menghadiri acara pemakaman Mamah kamu. Papah suami yang jahat, dia merasakan sakit di sel tahanan, Papah malah tidak peduli akan hal itu. Selama Mamah kamu di penjara Papah tidak pernah ke sana, begitu juga dia meninggal Papah tidak pernah menginjakkan Kaki ke makamnya,?" lirih Papah Farrel.
"Sabar Pah, mungkin Mamah juga mengerti, sekarang apa Papah mau ke kuburan Mamah,?" tanya Clara memastikan.
"Mau sayang, Papah bahkan tidak tau letak kuburan Shiren, menyesal memang selalu datang terlambat. Papah menyesal menceraikan dia, Papah tersiksa hidup bersama Winda. Dia jahat, walaupun Shiren pernah jahat tapi tidak sejahat Winda Mamah Tirimu," lirih Papah Farrel.
"Terima kasih, kamu memang anak yang baik," Balas Papah Farrel.
Mereka akhirnya pergi ke makam, Clara menitipkan kedua anaknya kepada Art-nya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
Mereka sudah sampai di makam Mamah Shiren, terlihat bersih dan banyak bunga segar di atasnya, ada empat makan berjejer. Clara sangat rajin berkunjung ke makam Mamah Shiren, Kakeknya, Nenek Sukma, Dewi dan David.
Kuburannya sangat rapih dan segar, bunga yang berhamburan di atasnya begitu wangi. Papah Farrel mencium nisan yang bertulisan Mamah Shiren.
"Maafkan aku Shiren, betahun-tahun lamanya aku tidak pernah menemuimu, kamu sakit dan di kubur pun aku tidak melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Maafkan aku, kangen banget sama kamu Shiren, aku tidak tau perasaanku sama kamu tidak hilang. Kesalahanku adalah menikah dengan Winda," lirih Papah Farrel.
Papah Farrel menangis seraya memeluk tanah kuburan, dirinya meraung, sakit amat sakit yang ada di benaknya saat ini. Andai waktu bisa di ulang, Dirinya mungkin tidak akan menceraikan Shiren, dia akan menghabiskan waktunya bersama Shiren dengan berkunjung ke tahanan. Clara yang melihat Papahnya hancur, meneteskan air matanya. Kehilangan orang yang amat kita cintai memang sangat sakit dan tidak mudah untuk di lupakan.
"Sabar Pah, Mamah sudah memaafkan Papah, sekarang kita hanya bisa mengirimkan doa saja kepada Mamah. Tolong Papah jangan terpuruk begini, Clara jadi sedih," lirih Clara.
"Terima kasih sayang, kamu selalu memenangkan Papah! tidak seperti Clery yang di bahas hanya harta warisan," ungkapnya.
__ADS_1
"Apa maksud Papah? warisan apa,?" tanya Clara penasraan.
BERSAMBUNG.