
Pagi telah tiba, sorot matahari menyinari wajah cantik Clara. Dirinya kelelahan dan merasa badannya juga pegal-pegal.
Clara membangunkan anak buahnya untuk mencari sumber air untuk membasahi tenggorokannya yang haus.
"Izal, Robby. Bangun, kita ke sungai cari ikan atau air untuk di minum." Ujarnya sambil merentangkan badannya yang merasa kesakitan.
"Baik Nyonya." Sahut Robby sambil mengerjapkan matanya yang masih ngantuk.
Setelah itu, mereka berjalan menelusiri hutan, dan juga tidak tau harus mencari ke mana makanan di hutan.
Clara merasa sangat lapar di perutnya, namun siapa sangka. Rombongan Dewi tiba-tiba muncul dan menghadang mereka bertiga. Entah dari mana mereka tau bahwa dirinya berada di sana.
Clara hanya pasrah saja, karena baginya di tangkap lebih baik dari pada berkeliaran di hutan. Clara juga merencanakan sesuatu jadi ia enjoy saja di tangkap Dewi.
"Sudah saya katakan, kalian tidak akan lolos dari kejaranku ini ahhaha." Ucap Dewi sambil tertawa dan terlihat anak buahnya semua menodongkan pistol ke arah Clara dan kedua Bodyguardnya.
Namun siapa sangka anak buah Dewi tiba-tiba meninju wajah Izal dan Robby. Clara geram dirinya tidak tinggal diam.
Dia dengan cekatan membalas tinjuan anak buah Dewi dan menangkisnya dengan tangan lalu dengan sigap meninju burung liar anak buah Dewi. Dan terlihat kesakitan, Clara merasa puas.
"Jangan coba-coba menyakiti anak buahku. Kalau kau mau selamat jangan pakai kekerasan. Atau kau akan aku patahkan tanganmu yang lembek ini haah, cepat minta maaf kalau tidak aku akan segera mematahkan tanganmu." Dewi menohok mendengar ucapan Clara.
Izal dan Robby mereka memegang perut dan juga wajahnya yang di hajar secara tiba-tiba oleh anak buah Dewi.
"Maafkan aku," ucap anak buah Dewi kepada anak buah Clara.
Clara lalu merebut pistol anak buahnya yang ada di pinggang penjahat itu.
"Cepat tangkap dia," suruh Dewi kepada anak buahnya.
"Kalian harus tau, jika berani melangkah atau pistol ini akan aku tembakan ke arah kalian. Aku tak segan-segan menembak Bos kalian yang lembek ini, atau kalian aku dor kepalanya mau." Desis Clara.
Anak buah Dewi malah diam dan menundukan kepalanya.
"Kalian sangat bego, di ancam begitu saja sudah takut." Ucap Dewi kesal.
"Sekarang bawa kita dan beri kita makanan Dewi. Kau harus tanggung jawab karena telah menculik kami lagi, aku mau ada makanan yang sangat lezat, atau kalian aku musnahkan dengan cara ninjaku." Ancam Clara sambil terus mencekik anak buah Dewi dan melepaskan-nya dengan cara di hempas kasar.
"Pistol ini aku pegang, kau boleh menculikku Dewi silahkan dengan senang hati. Tapi kau harus mau menuruti kemauanku untuk memberikan kita makanan yang sangat lezat." Seru Clara tersenyum.
"Baiklah, yang terpenting kamu sudah aku culik dan lagian biar kamu dan David tidak pernah bertemu lagi." Balas Dewi pasrah.
__ADS_1
Dirinya mau tidak mau harus menuruti Clara biar David bisa kembali ke pelukannya lagi.
Clara tertawa.
"Ayo Izal Robby kita bakalan makan enak." Seru Clara sambil di iringi sama anak buah Dewi dari belakang.
Clara akan membuat Dewi stres dengan tingkah lakunya, hingga dia lelah dengan penculikan ini.
"Hahahaha, mampus kau dewi. Memangnya enak, dirimu yang menculik aku yang berkuasa hahahah enak banget seperti ini." Gumam Clara sambil mesem-mesem.
"Sialan banget wanita cantik ini jago juga bela diri," ucap anak buah Dewi dari arah belakang.
Clara yang mendengar langsung mengarahkan pistolnya.
"Diam kau," Desis Clara keras.
Dewi memutar bola matanya malas, dirinya ingin segera melenyapkan Clara dengan tangannya sendiri. Dan sekarang ia harus sabar dulu sama tingkah Clara yang menyebalkan-nya.
Beberapa menit kemudian.
Dewi sudah menyuruh anak buahnya membelikan makanan untuk Clara dan kedua Bodyguardnya.
Clara makan dengan sangat lahap, karena memang dirinya tidak makan beberapa hari. Dewi hanya diam melihat Clara yang sedang melahap dengan sangat nikmat.
Di tempat lain, Surya di beri kabar bahwa Clara berhasil di temukan Dewi. Dirinya langsung siaga untuk mengawasi istrinya dari jarak tidak jauh dari lokasi.
"Kita harus mengawasi Dewi, gue takut banget Clara di bunuhnya." Ucap Surya sambil terus menatap ke rumah yang berada di dekat hutan itu.
"Kita sabar saja dulu, kalau kita ke sana ancamannya bahaya bisa-bisa adik gue langsung di bunuh Dewi. Yang terpenting dia baik-baik saja sekarang, kita awasi gerak-gerik Dewi dari sini." Balas Darren.
"Pokoknya kita tidak boleh kecolongan dan istriku harus selamat." Seru Surya sambil mengisi peluru pistolnya.
πΎπΎπΎ
Di rumah Mamah Shiren.
"Mah, coba sekali saja, Mamah pikirkan perasaan Clara. Dia sudah banyak membantu kita, sekarang Clara lagi di culik nyawanya lagi terancam. Tapi mamah di sini hanya memperhatikan Clery, biarkan Clery menuntaskan keegoisannya sendiri." Teriak Papah Farrel.
"Pah, yang sedang terpuruk itu adalah Clery, Clara sudah di tangani sama Suaminya dan juga Darren. Lihatlah Clery dia meratapi nasibnya, ia tidak di cintai sama suaminya, dan sekarang lihatlah Rey tidak menjemput Clery pulang." Desis Mamah Shiren.
"Rey tidak menjemput Clery, Mamah sudah lupa! Rey datang ke sini namun Clery yang tidak mau menemuinya. Biarkan mereka menuntaskan urusannya, kita tidak ikut campur ." Balas Papah Farrel geram.
__ADS_1
"Oke kalau begitu, kita juga tidak usah ikut campur urusan Clara. Biarkan dia, itu bukan urusan kita, tapi itu urusan Surya." Kesal Mamah Shiren.
"Kau egois, aku kira kamu sudah berubah Shiren." Ucap Papah Farrel dan meninggalkan Istrinya di kamar.
"Pah mau ke mana,?" teriak Mamah Shiren.
Namun teriakannya tidak di gubris oleh Papah Farrel. Dirinya geram kepada istrinya yang selalu mengutamakan Clery di banding anak yang lainnya. Entah apa yang merasuki istrinya itu membuat Papah Farrel geram sendiri.
πΎπΎπΎ
Di tempat sekap.
Dewi mencoba menghubungi David, namun tidak ada jawaban bahkan nomor ponselnya mati.
Dewi langsung emosi dirinya pergi ke tempat sekap Clara sambil membawa pisau. Dirinya geram dan menuduh Clara lah yang telah bikin David berubah.
Clara sedang tiduran di emper tikar, dirinya merasa lelah. Maka dari itu dirinya mencoba memejamkan matanya. Belum juga Clara terpejam Dewi sudah ada membuka pintu secara kasar.
"Hei Clara bangun, ayo cepat." Seru Dewi sambil membawa pisau.
Clara kaget, karena dirinya baru saja mau istirahat malah di ganggu dedemit.
"Apa haah, kau menggangguku saja, aku mau tidur." Sahutnya sambil kembali duduk.
"Dasar pelakor, kau apakan suamiku. Hingga kini aku menghubungi suami sendiri malah tidak aktif. Apa kamu yang meracuni otaknya supaya dia melupakan aku haahh." Ucap Dewi dirinya langsung menjambak rambut Clara sambil menodongkan pisau.
C,lara tidak habis pikir Dewi menarik rambutnya sangat kuat.
"Dewi kamu salah paham. Cepat lepaskan aku, ini sangat sakit." Ujarnya sambil memegang tarikan rambutnya.
"Aku tidak akan tinggal diam, kau harus terluka, biar wajah kamu rusak dan tidak ada yang akan mencintaimu lagi." Desis Dewi sambil terus menjambak rambut Clara.
Setelah itu, Clara langsung menjedotkan kepalanya ke kepala Dewi. Hinga Dewi terjatuh, lalu ia bangkit kembali. Cengkraman tangan Dewi terlepas, Dewi mulai geram lalu ia melukai tangan Clara dengan sigap hingga berdarah.
"Rasakan kau, ini adalah hukuman untukmu." Desis Dewi langsung saja dia beranjak pergi meninggalkan Clara yang kini bersimpuh darah di lengan kirinya.
"Sakit banget, dia berani sekali, awas kamu akan aku balas." Geram Clara sambil memegang tangannya yang mengucur darah segar.
Clara sangat geram dirinya akan membalas luka pada tangannya. Setelah itu, Clara bergegas keluar, kebetulan pintu sekapan terbuka kecil hingga Clara bergegas untuk mencari Dewi.
Jangan lupa, like, komen, hadiah dan juga vote.
__ADS_1
maafkan typonya masih ada π